SUHARLI, Mataram
Sekolah menjadi wadah membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Namun, masih dijumpai anak putus sekolah.
Kedengarannya miris. Mereka yang menjadi calon generasi penerus tidak dapat mengenyam pendidikan.
Penyebabnya banyak faktor. Bukan hanya melulu soal ekonomi. Tetapi faktor lingkungan dari yang terkecil, seperti keluarga, teman, dan tempat tinggal.
”Banyak pengaruh mereka harus putus sekolah,” kata Direktur RSA Ruli Ardiansyah.
Target ke depan RSA akan banyak menampung anak putus sekolah. Ada beberapa ditemukan putus sekolah di kawasan wisata.
”Mereka eggan mau putus sekolah karena mereka juga berdagang asongan di pinggir pantai,” kata Ruli.
Hal itu tidak bisa dipaksakan. Namun, yang diberikan adalah solusi.
”Bagaimana caranya mereka bisa tetap belajar, tetapi mereka juga bisa berdagang,” ujarnya.
Untuk meningkatkan minat mereka untuk belajar, RSA harus turun langsung menemui mereka. Mereka belajar secara non formal. ”Kami berikan pengetahuan seperti layaknya materi yang diberikan di sekolah,” kata dia.
Tujuannya juga memberikan soft skill dan life skill langsung kepada mereka yang putus sekolah. Supaya mereka bisa belajar dengan nyaman.
”Tidak terbebani dengan dagangannya,” ujarnya.
Sebenarnya dunia mereka adalah dunia belajar dan main. Tidak memberikan dan menekan anak sehingga menimbulkan rasa terkekang.
”Makanya itu yang saya kolaborasikan. Belajar sambil bermain,” ungkapnya.
Terakhir, dia memberikan materi pembelajaran kepada anak-anak yang berdagang di kawasan Kuta Mandalika.
Lembaga tersebut bekerjasama dengan pihak Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan stakeholder.
”Alhamdulillah, anak-anak sangat menerima kami,” kata dia.
Mereka belajar sambil bermain di pinggir pantai. Sambil menggali potensi yang bisa dikembangkan anak-anak.
”Paling tidak dengan ilmu yang didapatkan sekarang bisa dijadikan pegangan buat anak-anak kelak,” harapnya.
Ruli mengatakan, pihaknya nanti akan merekrut relawan ajar. Terakhir, pembukaan relawan ditutup 3 November mendatang.
Mereka akan banyak memberikan pengajaran kepada anak-anak.
”Terutama anak miskin yang putus sekolah. Itu yang kita bina,” kata dia.
Pembinaannya juga tidak yang berat. Baru diberikan sebagai pengenalan agar mereka yang putus sekolah lebih semangat belajar.
”Percuma kalau kita paksa anak. Mereka malah memberontak dan tidak lagi mau belajar,” ungkapnya.
Pemberian pengajaran juga sudah disiapkan jenis kurikulumnya. Menggunakan pendekatan Montessori.
”Artinya, membebaskan anak untuk memilih aktivitas sesuai minat dan bakatnya,” kata dia.
Nanti pihak relawan yang bisa melihat potensi anak. Mau diarahkan sebagai pedagang atau potensi lain yang memang bertujuan untuk tumbuh kembang anak yang lebih baik.
”Nanti makanya belajarnya di ruang terbuka,” ujar Ruli.
Ruli mengatakan, menjadi relawan butuh keikhlasan. Yang dipikirkan adalah bagaimana cara mereka memberikan pembelajar dengan aman dan nyaman.
”Terkadang banyak anak yang tidak memperhatikan. Itulah tantangan dari relawan. Bagaimana cara agar anak mau menurutinya belajar,” kata dia.
Yang perlu ditanamkan dalam pembelajaran adalah attitude. Membentuk karakter akhlaknya. ”Attitude pembelajaran yang harus ditanamkan kepada mereka,” ujarnya.
Pendidikan karakter menjadi benteng kuat bagi anak. Mereka harus menghormati orang yang lebih tua. ”itu hal dasar yang harus didapat pada anak,” pungkasnya (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post