Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cara Lombok Smile FC Membina Pesepak Bola Usia Dini: Sekali Pertemuan Hanya Bayar Rp 5.000

Marthadi Zuk • Sabtu, 16 Desember 2023 | 19:30 WIB

 

 

Para pemain Lombok Smile FC U-10 berpose saat menjuarai salah satu kejuaraan di Mataram, beberapa waktu lalu.
Para pemain Lombok Smile FC U-10 berpose saat menjuarai salah satu kejuaraan di Mataram, beberapa waktu lalu.

Bibit pesepak bola di Mataram cukup banyak. Hanya saja tidak dibina maksimal. Dari situlah, muncul klub Lombok Smile FC. Berdiri tahun 2009, klub ini membina pesepak bola sejak usia dini.

-----------------

Pembinaan sepak bola perlu dipupuk sejak dini. Perlu diberikan dasar-dasar bermain sepak bola. Sehingga, ke depan bisa menciptakan pesepak bola yang berkualitas.

Itu menjadi misi Lombok Smile FC. Klub sepak bola yang bermarkas di Lapangan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram.

Klub itu berdiri tahun 2009 silam. Dirintis beberapa nama pesepak bola andal di NTB era 90-an, seperti Walfaizin dan Ali Usman.

Sampai saat ini, sekolah sepak bola itu masih eksis melakukan pembinaan.

“Tujuan kami membentuk sekolah sepak bola ini untuk memberikan kesempatan dan pembinaan kepada anak-anak usia dini di Mataram dan sekitarnya,” kata pembina Lombok Smile Ahmad Rosidi.

Pembinaan dilakukan berjenjang sesuai kelompok umur. Mulai dari usia 10 tahun, 12 tahun, 13 tahun, 14 tahun, dan senior.

”Mereka kami ajarkan bermain sepak bola mulai dari dasar. Seperti passing, heading, dan dribling bola,” kata dia.

Mereka diajarkan tiga kali dalam seminggu. Jadwalnya mulai pukul 16.00 Wita.

”Kami ambil sore itu agar tidak menghalangi waktu sekolahnya,” kata dia.

Terkait dengan biaya, sangatlah terjangkau. Para murid hanya dibebankan uang Rp 5.000 per sekali pertemuan.

”Ada juga iuran Rp 10 ribu per bulannya,” kata dia.

Jumlah itu jauh lebih murah dibanding sekolah sepak bola yang bermunculan di Kota Mataram. Dengan biaya itu, mereka sudah bisa mendapatkan dasar-dasar bermain sepak bola dan mengikuti sejumlah turnamen kelompok usia dini.

”Bisa dibilang paling murah sekolah sepak bola di sini,” akunya.

Murah bukan berarti tak berkualitas. Terbukti setiap mengikuti turnamen, Lombok Smile selalu mendapatkan juara.

”Tetap kami dapat juara,” ujarnya.

Terakhir, pada turnamen kelompok usia dini Lombok Smile memborong juara pada tahun 2023. Mulai dari kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun.

”Kami meraih juara satu,” kata pria yang juga menjadi asisten pelatih PS Mataram itu.

Pada tahun 2014 dan 2015 Lombok Smile pernah mewakili NTB pada kejuaraan Danone Cup di Bali. Namun, mereka tidak bisa meraih juara.

”Hanya bisa tembus delapan besar,” jelasnya.

Pembinaan yang berjenjang dan latihan yang secara berkelanjutan menjadi kunci sukses klub Lombok Smile. Mereka yang dididik sejak dini bisa masuk ke jenjang senior.

”Jadi kita seleksi dari usia 16 tahun untuk bisa memperkuat klub senior,” ujarnya.

Jika skill dan fisiknya mumpuni akan ditarik ke kategori senior. Mereka bisa bermain di beberapa turnamen di Kota Mataram.

”Melalui ajang itu, mereka bisa melatih mental,” kata dia.

Terakhir tim senior meraih juara di Piala Gubernur NTB di Lingsar. Turnamen itu diikuti klub se Pulau Lombok.

”Kita raih juara satu di kejuaraan itu,” ujarnya.

Bukti lain, beberapa pemain binaan Lombok Smile kini telah memperkuat tim PS Mataram. Seperti, Fauzan, Kholik, dan Jiwa. Mereka itu pemain muda berbakat yang bisa mengharumkan nama Mataram di kancah nasional.

”Sekarang PS Mataram sudah mewakili NTB di Liga 3 Nasional,” jelasnya.

Rosi mengatakan, berdirinya Lombok Smile ini tidak terlepas dari peran Guru Walfaidzin dan Ali Usman.

Mereka orang-orang hebat di dunia sepak bola NTB.

Contohnya Ali Usman pernah bermain di kasta tertinggi liga Indonesia.

Pernah membela Arema Malang, Gresik United, dan sejumlah klub ternama di Indonesia.

”Semua ini tidak terlepas dari mereka hingga klub ini memiliki nama besar di Kota Mataram,” kata pria 38 tahun itu.

Sekarang Rosi hanya melanjutkan apa yang menjadi visi dan misi mereka. Jasa mereka cukup besar di klub ini.

”Semua stakeholder yang telah membantu adalah orang-orang hebat,” ujarnya.

Rosi mengatakan, tujuan lain dibentuknya klub tersebut bukan berarti membahas sepak bola.

Melainkan juga menjadi wadah pembinaan karakter bagi anak-anak.

”Di sini kita berikan kegiatan yang positif. Menghindari kegiatan negatif seperti pergaulan bebas,” ujarnya.

Dengan begitu, banyak orang tua murid juga mendukung upaya yang dilakukan. Ketika berlatih semua murid ditungguin langsung orang tuanya.

”Jadi mereka bisa melihat anak-anaknya bermain bola. Di situ juga muncul rasa kekeluargaan antar orang tua murid,” kata dia.

Klub ini seperti keluarga kecil. Membina, membentuk karakter anak, dan memberikan pelajaran arti sportivitas dalam hidup.

”Itu yang membuat kami masih bertahan meskipun biaya cukup murah,” ujarnya. (Suharli/r3)

 

 

 

 

Editor : Marthadi
#selagalas #sepak bola #Lombok Smile FC #ALI USMAN