Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Diiringi Tangis Haru Para Personel, Kombespol Mustofa Tinggalkan Polresta Mataram

Marthadi Zuk • Sabtu, 23 Desember 2023 | 11:32 WIB

 

Kombespol Mustofa (kiri) bersama istri didampingi Kapolresta Mataram AKBP Ariefaldi.
Kombespol Mustofa (kiri) bersama istri didampingi Kapolresta Mataram AKBP Ariefaldi.
 

Kombespol Mustofa kini diamanahkan sebagai kapolresta Magelang, Polda Jawa Tengah. Acara pelepasannya pun diiringi isak tangis para personel Polresta Mataram. Seakan-akan mereka tak ingin melepas kepergiannya.

--------------------------------

 

Karpet merah terbentang di halaman Mapolresta Mataram. Para personel beserta anggota Bhayangkari berkumpul. Menunggu acara perpisahan Kombespol Mustofa yang telah usai menjabat Kapolresta Mataram.

Mustofa dan istri berjalan pelan. Melewati pedang pora yang dibawa personel. Karpet merahnya ditaburi bunga. Matanya berkaca-kaca. Menahan rasa sedih meninggalkan Mapolresta Mataram.

Di tengah perjalanan berpisah, Mustofa tak kuasa menahan rasa sedihnya. Air mata pun Bercucuran di pipinya.

Personel yang merasakan kepemimpinannya tak kuasa menahan rasa sedih. Isak tangis pun tak terbendung. Seakan tak ingin melepas kepergian Mustofa.

”Terima kasih komandan. Terima kasih atas ilmu yang diberikan,” ucap salah seorang personel sambil memeluknya.

Rasa sedih itu tak terelakkan. Wajar 1,5 tahun Mustofa menjabat kapolresta Mataram banyak kenangan suka maupun duka.

“Terima kasih semuanya. Maaf jika ada kata-kata yang salah,” kata Mustofa tak kuasa menahan tangis.

Dari rekam jejak kepemimpinan Mustofa banyak yang sudah dilakukan.

Polisi yang low profile, merakyat, dan tegas dalam mengambil tindakan membuat wilayah hukum Polresta Mataram tetap kondusif.

”Apa yang sudah terjaga di Polresta Mataram ini harus dilanjutkan,” tegasnya.

Mengingat saat ini memasuki masa pemilihan umum (Pemilu).  Situasi kondusif itu harus dijalankan bersama dengan masyarakat.

Kendati sudah kondusif sampai sekarang, Mustofa tetap rendah hati. Dari dalam dirinya, masih banyak kekurangannya saat memimpin.

”Masih ada banyak hal yang belum bisa saya berikan untuk masyarakat,” kata dia merendah.

Hal yang paling berkesan bagi Kapolresta Mataram adalah menyelesaikan konflik sosial masyarakat.

Persoalan itu sudah mengakar dan selalu timbul tenggelam.

”Persoalan antara Monjok dan Taliwang sudah lama terjadi. Sejak tahun 2015,” kata dia.

Berkat kerjasama dengan masyarakat dan pemerintah daerah, konflik itu bisa diselesaikan dengan baik.

Sekarang kondisi di dua lingkungan itu sudah sangat kondusif.

”Saya meminta kepada masyarakat harus sama-sama menjaga Kota Mataram ini,” ujarnya.

Untuk memupuk kondusifitas, Mustofa selalu keliling setiap hari Jumat. Nama programnya Safari Jumat.

Masuk ke masjid. Mengambil peran menjadi khatib. Menanamkan rasa tanggung jawab kepada masyarakat menjaga kondusifitas.

”Ya, itu atas inisiatif. Kalau kita tidak bergerak memberikan pemikiran positif, siapa lagi,” ujarnya.

Di momen program itu, juga sebagai ajang untuk melakukan pendekatan kepada tokoh agama dan masyarakat. Mereka orang-orang tua yang didengarkan.

”Semua kita rangkul untuk mewujudkan kondusif di Mataram,” bebernya.

Tidak hanya itu, ada juga program membagikan semen untuk membangun tempat ibadah. Dibagikan ke masjid-masjid, pura, dan gereja.

”Itu bentuk kepedulian. Paling tidak bisa membantu,” kata dia.

Meski tidak lagi menjabat, Mustofa tetap meminta kepada seluruh masyarakat di wilayah hukum Polresta Mataram.

”Rasa tanggung jawab menjaga kondusif ini harus sama-sama kita pegang,” imbaunya.

Kapolresta Mataram AKBP Ariefaldi Warganegara mengatakan, apa yang sudah dikerjakan Kombespol Mustofa akan dilanjutkan.

”Semua harus dilanjutkan,” tegasnya saat memberikan kata sambutan pada acara perpisahan.

Dia memberikan rasa hormat yang setinggi-tingginya untuk Kombespol Mustofa.

“Saya langsung yang memimpin upacara untuk hormat kepada beliau,” ujarnya.

Namun, saat ini Ariefaldi merasa sedih. Karena, tidak ada yang menemaninya.

“Saya sedih karena Wakapolresta Mataram AKBP Syarif Hidayat juga pindah saat saya mulai menjabat,” ujarnya.

Dia meminta kepada seluruh personel, apa yang sudah diberikan kepada Mustofa, juga harus diberikan kepadanya. Apa yang sudah dilakukan jangan ada yang ditutup-tutupi.

“Kita harus lanjutkan. Walaupun saya harus nyebrang tiga pulau untuk sampai di sini,” ujarnya.

Pindahan Kabag Binkar Biro SDM Polda Sumatera Selatan itu, mengaku, selama karirnya di kepolisian sudah dilingkupi oleh orang-orang yang menjabat di Mataram. Seperti, Pang Rio Nababan, Boyke Karel Wattimena, dan Haris Dinzah.

”Setelah keluar TR barulah tersadar. Mungkin aura lah yang menarik saya bisa sampai di sini,” ujarnya.

Ariefaldi juga pernah berdinas dengan Mustofa dan Syarif Hidayat. Dengan Mustofa saat berdinas di Polda Sumatera Selatan dan dengan Syarif pernah sama-sama berdinas di Bengkulu.

”Jadi saya minta kita harus pertahankan ini. Bila perlu harus lebih daripada itu. Mohon terima saya apa adanya,” tutupnya. (arl/r3) 

 

 

Editor : Marthadi
#Mustofa #perpisahan #Polresta Mataram #Mutasi