LombokPost-Munculnya nama Pj Gubernur NTB Lalu Gita Ariadi, dinilai makin menyemarakkan kontestasi Pilgub 2024. Gita bahkan disebut-sebut memiliki modal kuat untuk menang.
Prediksi itu datang dari Pendiri Lembaga Riset dan Konsultan Kebijakan Publik Policy Plus Dr Adhar Hakim. Ia mengungkapkan, sampai saat ini memang belum ada pernyataan resmi dari Lalu Gita, untuk ikut ambil bagian di Pilgub NTB 2024.
”Tetapi dari beberapa kali diskusi dan bincang-bincang dengan pak Gita, saya mendapat kesan kuat pak Gita akan ambil bagian dalam kontestasi tersebut,” jelasnya, Selasa (26/3).
Menurut mantan kepala Perwakilan Ombudsman RI NTB tersebut, setidaknya ada empat indikator kesiapan Gita maju di Pilgub NTB 2024. Pertama, kapasitas, kapabilitas dan pengalaman seorang Lalu Gita Ariadi sebagai birokrat sangat mumpuni.
”Ini relevan dengan kebutuhan kondisi birokrasi NTB saat ini, yang memang harus segera diperkuat performanya dari berbagai alasan,” terangnya.
Di samping itu, sebagai seorang ASN, Gita sangat paham bagaimana kebutuhan dan tantangan birokrasi saat ini. Terlebih sudah mengarah pada pola kerja yang lebih modern berbasis teknologi informasi.
”Saya mendapat keyakinan, malah rekan-rekan ASN nyaman, setidaknya sesama ASN memahami apa yang menjadi kebutuhan,” tegas dia.
Kedua, indikator dari sisi modal jaringan Gita yang dinilai kuat. Adhar menegaskan, Gita dalam perjalanannya sebagai ASN, dapat mencapai posisi sebagai sekretaris daerah (sekda) dan pj gubernur adalah bukti nyata dan kuatnya jaringan pria asal Lombok Tengah (Loteng) tersebut, baik di daerah maupun di pusat.
Ketiga, modal politik, yakni hubungan baik Gita dengan jaringan politik dan partai politik. ”Ini adalah modal yang bagus buat beliau, untuk menata langkah politiknya,” kata Adhar.
Terakhir, adalah modal sosial. Keterkenalan Gita di masyarakat adalah satu modal awal yang positif untuk segera ditingkatkan, kemudian menjadi diterima lalu dipilih masyarakat Bumi Gora. ”Ini merupakan proses yang biasa dalam politik, dan pak Gita sepertinya menyadari hal tersebut,” ujarnya.
Dirinya juga menegaskan, terhadap analisa yang muncul dari berbagai pihak, termasuk dirinya yang melihat bahwa Gita sebagai seorang pj gubernur, akan maju di Pilgub NTB 2024, tidak akan mengganggu kebijakan publik. ”Menurut saya, tidak ada politisasi birokrasi,” terangnya.
Baca Juga: 751.230 Warga NTB Masih Miskin
Alasan Adhar, tugas dan tanggung jawab pj berkutat pada hal-hal administratif. Sebagai pejabat administrasi, artinya dia hanya menjalankan tugas dan kewajiban yang sudah diberikan oleh Kemendagri.
Ia mencontohkan perihal mutasi kepala OPD. Kebijakan ini tidak bisa dilakukan langsung begitu saja. Seorang pj kepala daerah harus melalui serangkaian proses konsultasi ke BKN dan KASN, kemudian meminta persetujuan ke Kemendagri, dan tahapan tersebut membutuhkan lebih dari dua bulan lamanya. Beda halnya dengan kepala daerah yang bersifat definitif.
”Dari sini kewenangan pj menjadi sangat terbatas, beda dengan gubernur dari hasil kontestasi pemilu, kalau hari ini dia mau mutasi bisa langsung digelar, nah beda dengan pj, jangan diartikan lain-lain yang dalam mengambil kebijakan, tidak segampang itu,” jelas Adhar.
Sementara itu, berkaitan dengan inisiatif Gita ingin maju di Pilgub NTB 2024, dirinya mengatakan, pj gubernur pasti sudah paham dengan regulasi yang berlaku. Apabila seorang PNS maju ke kontestasi politik, maka dia harus mundur dari jabatannya.
Terakhir, disinggung perihal Gita yang ingin menggandeng Wakil Gubernur NTB 2018-2023 Hj Sitti Rohmi Djalillah di Pilgub NTB 2024, Adhar enggan berkomentar lebih jauh. “Saya tidak bisa komentar soal itu, saya belum sampai ke sana,” pungkasnya.
Pj Gubernur NTB Lalu Gita Ariadi masuk dalam bursa peserta Pilgub NTB 2024. Kabar ini kian santer, setelah Gita mengunggah tulisan panjang melalui akun media sosialnya yang berjudul “LagiUmroh semoga Umroh Lagi”.
Judul ini dinilai sebagai akronim dari “Lalu Gita-Ummi Rohmi, atau UmmiRohmi-Lalu Gita”. Kendati demikian, Gita sendiri masih menunggu dinamika politik ke depan. Terkait apakah maju dalam pilgub atau tidak. (yun/r11)
Editor : Akbar Sirinawa