Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nanang Samodra Lakukan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Universitas Islam Al Azhar

Prihadi Zoldic • Rabu, 9 April 2025 | 07:19 WIB
Anggota MPR RI Dr H Nanang Samodra (kiri) memberi penjelasan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Universitas Islam Al Azhar, Mataram.
Anggota MPR RI Dr H Nanang Samodra (kiri) memberi penjelasan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Universitas Islam Al Azhar, Mataram.

 

LombokPost-Sosialisasi 4 Pilar MPR RI, diadakan Anggota MPR RI Dr H Nanang Samodra, 22 Februari 2025.

Peserta terdiri atas, mahasiswa, dosen, karyawan serta masyarakat umum.

Kegiatan sosialisasi ini bertempat di Universitas Islam Al Azhar, Sabtu (22/2).

Selaku narasumber, Nanang memaparkan secara panjang lebar mengenai peristiwa sejarah Agresi Militer Belanda I (1947).

Dijelaskan, Agresi Militer Belanda I merupakan upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Agresi ini terjadi pada tanggal 21 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947, dan dikenal juga sebagai Operatie Product.

"Agresi ini menjadi bukti bahwa Belanda tidak siap menerima kenyataan atas kemerdekaan Indonesia dan mereka berusaha untuk merebut kembali kekuasaannya untuk menjajah Indonesia melalui kekuatan militer," karang Nanang memberi penjelasan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Belanda tidak mau mengakui kedaulatan Indonesia.

Melalui berbagai cara, Belanda mencoba untuk kembali menguasai wilayah Hindia Belanda dengan memanfaatkan bantuan pasukan Sekutu.

Pada 15 November 1946, perundingan antara Indonesia dan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggajati.

Dalam perjanjian itu Belanda bersedia mengakui kekuasaan Republik Indonesia secara de facto atas Jawa, Sumatera, dan Madura.

"Namun ternyata Belanda melanggar kesepakatan tersebut dengan melakukan provokasi dan mempersiapkan kekuatan militer untuk menyerang wilayah Republik Indonesia," urai mantan sekda NTB tersebut, dan disimak dengan seksama oleh para peserta.

Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melancarkan agresi militer secara besar-besaran dengan dalih untuk "memulihkan keamanan dan ketertiban" atau yang mereka sebut Operatie Product.

Target utama adalah wilayah-wilayah strategis dan ekonomi di Jawa dan Sumatera.

Tujuan Agresi Militer Belanda, selain untuk menguasai daerah ekonomi penting: seperti perkebunan dan pabrik gula di Jawa, tambang minyak di Sumatera, juga untuk menghancurkan kekuasaan Republik Indonesia.

Dilakukan dengan memutus jalur logistik dan komunikasi, dan mengisolasi pusat pemerintahan Republik Indonrsia di Yogyakarta.

Diterangkan politisi Demokrat dapil NTB II itu, meski peralatan tempur TNI sangat terbatas dibandingkan dengan pasukan Belanda yang modern, namun semangat perjuangan rakyat tidak pernah surut.

TNI bersama laskar rakyat melancarkan perang gerilya dan sabotase terhadap jalur transportasi musuh.

Beberapa daerah penting yang menjadi target agresi, antara lain di Bandung, dengan pertempuran antara Divisi Siliwangi dan pasukan Belanda.

"Sedangkan di Sumatera Timur, Belanda berusaha menguasai ladang minyak dan perkebunan. Serta di Jawa Tengah dan Jawa Timur, perlawanan besar terjadi di berbagai daerah," jabarnya.

Agresi Militer Belanda I mendapat perhatian dunia internasional.

Banyak negara yang mengecam tindakan Belanda sebagai bentuk kolonialisme modern.

PBB akhirnya ikut campur tangan melalui pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN) yang bertugas mengawasi gencatan senjata dan menjadi perantara negosiasi.

Pada tanggal 4 Agustus 1947, gencatan senjata diumumkan di bawah tekanan dunia internasional.

Hal ini memaksa Belanda untuk menghentikan operasi militernya.

Dampak dari Agresi Militer I, adalah kerugian besar Bagi Republik Indonesia.

Wilayah-wilayah strategis jatuh ke tangan Belanda, perekonomian lumpuh akibat hilangnya kontrol atas sumber daya alam.

Meski pun demikian semangat perjuangan tetap menggelora.

Rakyat tetap mendukung republik meskipun dalam tekanan militer.

Hal itu menjadikan perang gerilya yang semakin masif, dilakukan oleh TNI dan laskar rakyat.

Di samping itu diplomasi semakin ditingkatkan dan timbullah Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948.

Itu sebagai upaya penyelesaian konflik melalui diplomasi, meski dalam perjanjian tersebut banyak merugikan pihak Indonesia.

Agresi Militer Belanda I kata sang doktor, menjadi bukti kuatnya tekad Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Meski pun kalah dalam kekuatan militer, semangat patriotisme tetap menyala di hati rakyat.

Melalui perjuangan diplomasi dan perlawanan fisik, bangsa Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, tetapi hasil dari perjuangan tanpa henti.

Peristiwa ini juga membuka mata dunia bahwa Republik Indonesia benar-benar serius dalam mempertahankan kemerdekaan.

Juga siap melawan segala bentuk penjajahan hingga titik darah penghabisan.

"Demikianlah rangkaian peristiwa Agresi Militer I (1947) yang dilakukan oleh Belanda dalam upayanya merebut kembali wilayah Indonesia. Namun berkat kegigihan TNI bersama lasykar rakyat, Agresi Militer I itu dapat digagalkan," imbuhnya.

Terdapat beberapa pertanyaan dari peserta kegiatan.

Misalnya, mengapa Belanda masih berkeinginan untuk merebut kembali wilayah Negara Indonesia, padahal sudah jelas bahwa Indonesia telah merdeka.

Ada juga yang menanyakan seberapa besar kerugian Belanda sebagai dampak dari kemerdekaan negara Indonesia, karena Belanda sepertinya sangat ngotot untuk merebut kembali Indonesia.

Seberapa besar dukungan rakyat Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, utamanya dukungan perang yang dilakukan oleh TNI bersama lasykar rakyat secara gerilya.

Meski pun telah terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Belanda dengan Indonesia, namun Indonesia mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Kemudian ditanyakan, bagaimana cara Pemerintah Indonesia memulihkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terdampak oleh Agresi Militer I.

Bagaimana sikap dunia internasional setelah mengetahui perilaku Belanda yang menyerang dalam peristiwa Agresi Militer I, dan bagaimana langkah yang diambil oleh Perserikatan Bangsa-bangsa juga turut didalami peserta kegiatan.

Berbagai kegiatan itu lantas didiskusikan bersama, sambil membuka file dokumen yang ada. "Sangat menarik diskusinya, peserta tampak begitu antusias," tutup Nanang Samodra. (yuk/r6) 

Editor : Prihadi Zoldic
#Unizar Mataram #nanang samodra #empat pilar