LombokPost - Ide legalisasi kasino belakangan menyeruak. Entah dari mana awal mulanya, sejumlah pihak mulai menyuarakan pendapatnya pelan namun pasti. Pro dan kontra pun bermunculan.
Jika benar akan dilegalkan, tentunya ada daerah-daerah khusus yang akan menjadi tempat kasino di Indonesia. Tempat itu misalnya daerah pariwisata. Sehingga salah satu tempat yang mungkin dijadikan lokasi adalah Pulau Lombok, yang merupakan salah satu pulau pariwisata andalan Indonesia.
Misalnya di Amerika, ada Las Vegas, kemudian di China ada Makau. Namun apa jadinya jika Pulau Lombok yang dipilih untuk kasus Indonesia. Bukankah Lombok merupakan pulau seribu masjid? Apa kata dunia jika ini sampai terjadi?
Pemerhati Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi mengemukakan pendapatnya. Melalui akun IG miliknya, dia membuat tulisan berjudul Legalisasi kasino, Apakah Sejalan dengan Karakter Pariwisata Indonesia ?
Diterangkan Taufan Rahmadi, UEA dan Thailand mulai legalisasi kasino demi meningkatkan PNBP ( Pendapatan Negara Bukan Pajak ) dan menarik wisatawan. Thailand meniru Singapura yang sukses dengan Marina Bay Sands, menambah 19 juta wisatawan hanya dalam 5 tahun pertama.
Tapi, Taufan Rahmadi kemudian mengajak masyarakat berfikir lebih jernik. "Mari belajar dari Makau," serunya.
Baca Juga: Top 3 Mobil Daihatsu Paling Laris Seluruh Indonesia
Dijuluki "Las Vegas-nya Asia", Makau pernah cetak pendapatan USD 45 miliar dari kasino (2013). Tapi ketika pandemi melanda dan China batasi arus wisatawan, ekonomi Makau kolaps, 80 persen PDB-nya ambruk karena terlalu tergantung pada judi. "Kini, mereka kesulitan diversifikasi pariwisata," imbuh Taufan Rahmadi.
Indonesia lanjut Taufan Rahmadi juga bisa lihat Kepulauan Mariana Utara (CNMI). Sempat mengalami “boom” karena satu kasino besar, tapi pada 2021 bangkrut karena korupsi, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan ekonomi tunggal.
Bagi Taufan Rahmadi yang merupakan Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata, Indonesia tidak perlu mengorbankan jati diri budaya hanya demi mengejar PNBP instan. Dia menyebut kita punya modal luar biasa, 4 dari 6 elemen terbesar daya tarik wisata global, yaitu: budaya, spiritualitas, alam, dan hospitality.
Pariwisata berkualitas kata Taufan Rahmadi adalah soal otentisitas dan keberlanjutan, bukan soal glamor atau hiburan semu. "Kita butuh kebijakan fiskal yang in the soul of the nation, bukan sekadar out of the box," imbuhnya.
Dari pendapatnya ini, dapat ditarik kesimpulan, judi bukan hanya tak cocok di Lombok, namun juga daerah-daerah lainnya di tanah air. Bagaimana pendapatmu netizen? (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic