Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Mataram Harum, Bukan Mataram Maju Religius Berbudaya, Tapi...

Prihadi Zoldic • Rabu, 21 Mei 2025 | 07:08 WIB

RAWAN RAMAI: Tugu Mataram Metro sebagai gerbang masuk perbatasan antara Kota Mataram dan Lombok Barat akan dipasangi CCTV. 
RAWAN RAMAI: Tugu Mataram Metro sebagai gerbang masuk perbatasan antara Kota Mataram dan Lombok Barat akan dipasangi CCTV. 
 

LombokPost - Pada awalnya Kota Mataram dikenal dengan jargon Maju dan Religius. Belakangan moto itu bertambah menjadi Maju, Religius, dan Berbudaya. 

 

Pada masa kepemimpinan H Mohan Roliskana, tagline baru dikenalkan, Mataram Harum. Kata yang sederhana, namun punya arti cukup dalam. Walaupun banyak juga yang mengartikan Harum sebagai singkatan dari nama wali kota dan wakil wali kota saat ini. 

 

Dalam konteks pariwisata, Kota Mataram tampaknya akan memiliki moto baru. Tanpa menghilangkan konsep Mataram Harum, muncul ide untuk mencari padanan kata yang mampu menggambarkan kota ini dalam dimensi lain. 

Khususnya yang mampu menjangkau wisatawan. Menjadi ciri khas Kota Mataram.

 

Hal itu diamini Taufan Rahmadi, pemerhati pariwisata yang juga dewan pakar GSN Bidang Pariwisata. Menurutnya, urban tourism berbasis identitas adalah jalan baru pariwisata Kota Mataram. 

 

Kota Mataram dibawah kepemimpinan Wali Kota H Mohan Roliskana tengah menata diri menjadi destinasi urban tourism yang otentik dan berdaya saing global. 'Ini menurut saya bukan sekadar rebranding, melainkan reposisi strategis berbasis pluralisme, warisan budaya lokal, dan integrasi kawasan kota," kata Taufan Rahmadi.

Mataram lanjutnya ingin naik kelas, bukan lagi kota singgah menuju Tiga Gili atau Rinjani. Tapi menjadi end destination yang menawarkan pengalaman kota yang khas dan berjiwa.

 

Berbeda dari pola mass tourism, yang disanjungnya, Mataram terlihat mengedepankan pendekatan place-making. Menjadikan ruang kota sebagai bagian dari narasi wisata yang berkelanjutan. "Rute wisata seperti Ampenan, Kelenteng, Islamic Center, dan Taman Mayura jika boleh diusulkan dapat dirancang menjadi cultural corridor yang menghidupkan kembali jejak sejarah, spiritualitas, dan harmoni sosial," imbuh Taufan Rahmadi. 

 

Penguatan calendar of events lokal menurutnha dapat menjadi strategi membangun sense of place dan menghadirkan immersive cultural experience yang kini menjadi tren pariwisata global. Wisatawan tak lagi mencari “tempat,” tapi “cerita.” "Di sinilah Mataram punya kekuatan, keberagaman yang hidup berdampingan secara alami," Taufan Rahmadi berpendapat. 

IKON BARU: Eks Pelabuhan Ampenan yang telah direvitalisasi, rencananya akan dikunjungi 25 duta besar perwakilan negara sahabat pada awal Mei mendatang.
IKON BARU: Eks Pelabuhan Ampenan yang telah direvitalisasi, rencananya akan dikunjungi 25 duta besar perwakilan negara sahabat pada awal Mei mendatang.

Sebagai pembanding kata Taufan Rahmadi, benchmark kota seperti Hoi An (Vietnam), George Town (Malaysia), dan Essaouira (Maroko) menunjukkan bagaimana kota dengan warisan budaya yang kuat bisa tampil di panggung dunia. Mereka berhasil memadukan identitas lokal dengan tata kelola destinasi yang kreatif, inklusif, dan berorientasi pengalaman.

 

Kunci sukses Mataram ada pada satu hal, membangun narasi kota yang kuat, konsisten, dan mudah diingat. Dari sekadar kota menjadi city of harmony, di mana wisatawan datang bukan hanya melihat, tapi ikut mengalami. Kota yang bukan hanya dituju, tapi juga dirindukan. "Maju Terus Pariwisata Mataram," tutup Taufan Rahmadi. (yuk/r6) 

Editor : Prihadi Zoldic
#Taufan Rahmadi #kota #Mataram #Mohan Roliskana #Pariwisata