Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kenapa Gen Z Sulit Punya Rumah? Ini Alasannya!

Kimda Farida • Sabtu, 7 Juni 2025 | 08:14 WIB
Luas rumah subsidi diperkecil jadi 18 meter persegi, mirip kos-kosan?
Luas rumah subsidi diperkecil jadi 18 meter persegi, mirip kos-kosan?

LombokPost--Generasi Z menghadapi tantangan besar dalam memiliki rumah impian mereka.

Berdasarkan survei terbaru, dibutuhkan puluhan tahun bagi Gen Z untuk menabung demi membeli rumah, dan itupun seringkali tidak cukup karena kenaikan harga properti yang terus melambung.

Mengapa demikian? Mari kita bedah alasannya.

1. Kepemilikan Properti Berlebih dan Minimnya Pajak Progresif

Salah satu faktor utama di balik melonjaknya harga rumah adalah fenomena kepemilikan properti berlebih.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 7,82 persen keluarga di Indonesia memiliki lebih dari satu rumah.

Kebiasaan ini diperparang dengan belum adanya pajak progresif bagi individu yang memiliki banyak properti.

Generasi sebelumnya sering menganggap "membeli rumah" sebagai investasi paling aman.

Alhasil, setiap kali ada kelebihan dana, investasi diarahkan ke properti.

Hal ini menciptakan kondisi pasar di mana pasokan rumah menjadi terbatas bagi pembeli pertama, terutama bagi Gen Z yang baru memulai karir.

2. Gen Z Lebih Memilih Sewa?

Menariknya, survei "Property Perspective from Gen Z" mengungkapkan bahwa 36 persen Gen Z lebih memilih untuk menyewa daripada membeli rumah.

Pilihan ini mungkin didasari oleh beberapa pertimbangan.

Dengan kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan, investasi properti menjadi kurang menarik bagi Gen Z.

Berdasarkan survei 99 Group, kenaikan harga properti di Indonesia pada tahun 2023 hanya mencapai 2,2 persen.

Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan potensi keuntungan dari instrumen investasi lain, atau bahkan jika dibandingkan dengan laju inflasi.

Bagi sebagian Gen Z, membeli rumah hanya relevan jika tujuannya adalah sebagai tempat tinggal, bukan sebagai investasi yang menguntungkan.

Situasi ini menyoroti pergeseran pandangan Gen Z terhadap properti.

Mereka cenderung lebih realistis dan pragmatis dalam melihat investasi, serta mempertimbangkan opsi yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi keuangan mereka.

Apakah Anda seorang Gen Z yang juga merasakan kesulitan ini, atau punya pandangan lain tentang isu kepemilikan rumah di Indonesia? ****

Editor : Kimda Farida
#rumah impian Gen Z #investasi genZ