LombokPost - Satu-satunya alat transportasi umum di Mataram yang menggunakan pola trayek rute adalah bemo kuning.
Kini rutenya hanya satu, bolak balik dari Ampenan hingga ke Sweta, dari barat ke timur melalui jalur utama dari Pasar Kebon Roek, hingga Pasar Bertais.
Di tengah kompleksitas Kota Mataram yang semakin tinggi, transportasi umumnya malah semakin terpinggirkan.
Sejumlah catatan memperlihatkan, jumlah bemo kuning saat ini tak lebih dari 30 unit yang masih beroperasi di Mataram.
Itu pun dengan kondisi yang terbilang memprihatinkan, lantaran usia bemo kuning Mataram yang umumnya sudah lebih dari 25 tahun.
"Sekarang kalau ke mana-mana yang kalau tidak kendaraan pribadi, ya naik grab, gojek, atau taksi bluebird, bukan bemo kuning," kata Hj Zulaikha, salah seorang warga Kota Mataram yang tinggal di Kecamatan Ampenan.
Dia sudah lupa kapan terakhir kali menggunakan bemo kuning di Kota Mataram.
Bahkan ketika berbelanja ke pasar, semisal pasar Ampenan atau ke Puskesmas Ampenan, pulangnya dia biasa menggunakan cidomo atau menaiki ojek pangkalan, bukan bemo kuning.
"Karena trayeknya kan beda, kalau saya naik bemo dari Pasar Ampenan, berarti turunnya di Kios Biru dekan Pom Bensin Ampenan. Kan Rumah saya di Gatep dekat Polsek Ampenan, terus naik apa lagi dong," katanya penuh tanya.
Bemo kuning memang seolah hidup segan mati tak mau. Mau dimatikan sekaligus, tak ada pengganti. Mau dihidupkan, caranya bagaimana.
Beberapa tahun lalu sejatinya sempat ada semacam Trans Mataram yang dilayani bus oleh pihak Damri yang bekerja sama dengan Pemprov NTB dan Pemerintah Kota Mataram.
Halte halte dibuat di berbagai sudut kota. Bahkan rutenya disebut memanjang dari Senggigi hingga Narmada. Juga membentang dari Bundaran Mataram dekat Tembolak, hingga Rembiga, bahkan dihembuskan hingga Gunungsari di Lombok Barat. Barat ke timur, selatan ke utara, mirip lagu Wali.
Tak berlangsung lama, tak sempat berkembang, ide itu layu dengan sendirinya, meninggalkan halte halte yang kini mulai karatan dimakan usia.
Bemo kuning kembali berjuang sendiri menjadi transportasi umum "the one and only".
"Terakhir naik bemo kuning mungkin pas SMP, dulu saya sekolah di SMPN 6 Mataram yang sekarang sudah jadi Islamic Center," kenang Putra, salah seorang warga Kota Mataram yang kini sudah berusia 36 tahun.
Bemo kuning butuh peremajaan, warga Mataram butuh angkutan kota yang bisa diandalkan, ayo dong Pak Mohan.
Ayo dong Pak Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, transportasi Kota Mataram butuh solusi segera. (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic