Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Eka Cakra Mengajari Anak Menari, Menjaga Warisan di Era Viral Dengan Mengkreasikan Seni Tari yang Lebih Maskulin

Lombok Post Online • Sabtu, 21 Juni 2025 | 07:19 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Bagi banyak orang, tarian hanya sekadar hiburan gerak tubuh berirama, beberapa menit di panggung, lalu tepuk tangan.

Tapi bagi Pak Eka Cakra, tarian adalah nyawa, apa maknanya? 

MENJAGA tarian tradisi di tengah anak-anak yang lebih tergila-gila pada gerakan TikTok adalah perjuangan panjang yang sering bikin hati teriris.

Sehari-hari, Pak Eka hanyalah guru ekstrakurikuler di SD Negeri 5 Ampenan.

Tapi di balik jam kerjanya, ia adalah salah satu pejuang paling gigih yang masih setia menuntun anak-anak menari tari tradisional Lombok — rudat, tari Presean, dan gerak-gerak lama yang nyaris kalah oleh gemerlap tari modern.

“Ya, saya guru ekstra. Dari tradisi sampai kreasi saya ajarkan. Anak-anak sekarang sukanya tari-tari modern, yang tren di TikTok itu. Jadi kalau ngajak mereka kembali ke tradisi itu susah sekali, apalagi anak laki-laki,” tutur Eka, matanya menerawang.

Ia tak menutup-nutupi: di lingkungan anak-anak, penari laki-laki sering jadi bahan olok-olok.

“Kadang diolok-olok. Jadi banyak yang minder. Padahal seni tari tradisi ini kan jiwanya bagus, geraknya punya makna. Tapi ya, zaman sekarang beda,” tuturnya pelan.

Bertahun-tahun Pak Eka memutar otak. Ia tahu, tak mungkin memaksa anak-anak meninggalkan tarian modern.

Jadi, ia memilih pendekatan yang lebih bijak: merangkul, bukan mematikan. “Kalau anak laki-laki, saya kenalkan tari Presean. Itu kan seperti duel perisai, gerakannya gagah, seperti bertarung. Nah, mereka suka yang begitu. Dari situ pelan-pelan saya arahkan ke rudat, ke gerakan salam, ke seni gerak yang lain,” jelasnya.

Di atas kertas, Eka punya dua puluh anak binaan. Tapi kenyataan di lapangan tak selalu seindah daftar hadir.

“Yang tampil kadang cuma sepuluh. Yang lain bentrok sama ujian, atau tiba-tiba hilang minat. Apalagi kalau sudah lihat TikTok, lupa sama latihan,” katanya sambil terkekeh, setengah pasrah.

Eka mulai menekuni seni tari sejak 1986, belajar pada orang-orang tua yang kini satu per satu menua.

“Dulu saya sama Pak Haji Ahmad di SMP 2 Mataram. Sekarang pelatih tari tradisi makin sedikit. Sekolah seni di Lombok pun belum ada. Jadi kalau saya berhenti, siapa yang nerusin?” katanya, suaranya menahan getir.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Untungnya, Kepala SD Negeri 5 Ampenan mendukung sepenuh hati. “Kepala sekolah di sini luar biasa. Suka tradisi. Makanya saya ditarik ke sini. Tapi ya, saya berharap sekolah-sekolah lain juga begitu. Kepala sekolah harus bisa bikin anak-anak suka budayanya. Kalau enggak, ya habis juga,” tambahnya.

Eka diam sejenak, lalu bercerita sambil menoleh ke anak-anak binaannya yang berpakaian oranye. “Kalau di Bali, setiap banjar wajib punya sanggar tari. Anak-anaknya semua terlibat. Di Lombok belum ada itu. Harapan saya, andai ada sekolah seni di sini, pasti anak-anak punya ruang garap, bisa bikin tari baru dari dasar tradisi. Tapi sekarang belum ada,” ujarnya, separuh berharap, separuh lelah.

Siang merangkak tenang. Di halaman sekolah itu, sepuluh anak didik, Eka bercengkerama dengan riang. Sambil kadang menirukan goyangan TikTok di sela jeda.

Eka hanya tersenyum, menepuk bahu mereka satu-satu. “Pelan-pelan… Yang penting kalian ingat ini tari orang Lombok. TikTok boleh, tapi jangan lupa gerak sendiri,” bisiknya, lirih.

Begitulah seni tari tradisional Lombok bertahan, bukan di sanggar mewah atau panggung megah. Ia tumbuh di hati seorang guru sederhana yang percaya, budaya tak akan punah selama masih ada yang sabar menanam cinta di dada anak-anak.

BAGI Eka, tari bukan hanya pekerjaan. Ia adalah napas. Sumber hidup.

Dan alasan untuk tetap berdiri, meski dunia berubah cepat. “Kalau ditanya kenapa saya masih betah latih anak-anak di SDN 5 Ampenan ini? Karena saya diberi ruang, diberi kesempatan. Terima kasih sama Bu Kepala Sekolah, Bu Baiq Zohri Uyuni. Beliau luar biasa peduli dengan seni dan budaya,” ucapnya pelan, tapi penuh getar keyakinan.

Eka mulai menari sejak 1983. Di masa itu, ia masih bocah polos di Mayura.

Namun langkahnya menjejak lebih jauh setelah masuk SMP Negeri 2 Mataram. Di sanalah, di bawah bimbingan almarhum Pak Haji Hamid, ia benar-benar belajar mengolah ragam gerak, ritme gendang, dan makna di balik setiap liuk tubuh penari tradisi Lombok.

“Saya dulu ambil pilihan seni tari di SMP 2. Dari situ ikut Porseni, wakili sekolah, menang lomba, sering pentas di Taman Budaya. Itu masa-masa belajar banyak hal,” kenangnya sambil tersenyum.

Hubungannya dengan sekolah tidak sekadar murid. Ia juga sempat satu kelas dengan orang-orang yang kini menjadi tokoh di Mataram, salah satunya Mohan Roliskana, Walikota Mataram sekarang.

“Di SMP beda kelas, tapi pas SMA Ampenan kami sekelas di Biologi 2,” tuturnya.

Perjalanan panggung Eka tidak hanya berhenti di Mataram. Pada 2006, Lalu Suryadi Mulawarman (Kepala Taman Budaya NTB), ia dipercaya memilih penari-penari untuk tampil di forum internasional: Pertemuan Bank Dunia dan IMF di Singapura.

SENYUM: Eka Cakra (dua dari kiri) saat tampil sebagai penari Rudat beberapa waktu lalu.
SENYUM: Eka Cakra (dua dari kiri) saat tampil sebagai penari Rudat beberapa waktu lalu.

“Saya bawa Rudat, Topeng Pengarat, Canang Mendet. Garapan Mas Surya luar biasa, kontemporernya, saya di tradisinya. Kita padukan, dan orang luar kagum,” katanya, matanya berbinar mengingat momen gemilang itu.

Sayang, saat kesempatan ke Australia datang, mimpi itu tertahan. Masalah paspor menghalangi langkahnya ke negeri Kangguru.

“Ya sudahlah, memang jalannya begitu. Yang penting saya sudah pernah rasakan panggung luar, bawa nama Lombok,” ujarnya ringan.

Jalan hidup Eka sempat berbelok jauh dari panggung. Ia pernah bekerja di Blue Bird, bukan sebagai sopir biasa, melainkan staf personalia yang bertugas mengetes para pengemudi baru.

Kerja di perusahaan bonafid tentu gajinya tak main-main. Tapi, di antara setumpuk berkas dan jadwal tes, hati Eka sering memberontak.

Panggilan untuk menari lebih kuat dari slip gaji bulanan. “Kalau ditanya mana lebih besar, jelas kerja di Blue Bird lebih banyak. Tapi apa ya... rasanya nggak bisa. Kalau hati senang menari, ya menari saja,” ucapnya, tertawa kecil.

Sering kali ia bolos kerja demi pentas. Sering kali ditegur atasan.

Hingga akhirnya ia memilih mundur dari kursi nyaman, demi panggung kecil di sekolah, di sanggar, di sudut-sudut desa.

Warisan Cinta: Anak Gadisnya Membawa Tari Lombok ke Amerika

Cinta Eka pada seni menetes ke darah putrinya, Rade Ayu Dewi Amerta Ratih. Ceritanya bermula saat sang putri diam-diam mengintipnya melatih tarian sejumlah siswi di rumah.

Ketika sekolah membuka peluang program pertukaran pelajar, salah satu syaratnya adalah mampu menampilkan kesenian daerah.

“Awalnya dia latihan sendiri, saya nggak tahu. Diam-diam. Tahu-tahu lolos program pertukaran pelajar ke Michigan, Amerika. Gratis. Saya bangga sekali,” suara Pak Eka bergetar menahan haru.

Di Michigan, Ratih menjadi duta budaya. Ia menari di panggung asing, membawa irama Sasak di hadapan audiens internasional.

Dan yang lebih membanggakan, Ratih pulang membawa gelar lulusan terbaik di Michigan. “Itu kebanggaan saya. Dari tari, anak saya kenal dunia. Tidak mudah, cuma dua orang dari NTB yang lolos waktu itu. Satu anak Lombok Tengah, satu anak saya,” kata Pak Eka, menghapus peluh di kening.

Eka pernah mendirikan sanggar bernama Mendur Puteq, sanggar warisan gurunya, almarhum Haji Abdul Hamid. Ia juga rutin turun ke sekolah-sekolah, memastikan anak-anak Lombok tidak lupa cara mengibaskan selendang.

“Sayang kalau anak-anak sekarang cuma bisa satu tari. Di luar, satu orang bisa lima tari. Di sini, kadang baru satu sudah berhenti,” ujarnya, pelan, separo getir.

KARYA SENI: Eka Cakra saat menari topeng saat di acara Bank Dunia dan IMF di Singapore, beberapa waktu lalu.
KARYA SENI: Eka Cakra saat menari topeng saat di acara Bank Dunia dan IMF di Singapore, beberapa waktu lalu.

Sejauh apapun langkahnya, setinggi apapun panggung yang pernah ia singgahi, Eka selalu kembali ke panggung kecil di Ampenan. Di situlah napas tradisi Lombok terus bertahan.

Baginya, menari bukan sekadar soal pentas. Ini soal merawat akar.

Soal membisikkan pada anak-anak Lombok bahwa di balik gendang dan tabuh, ada sejarah. Ada harga diri. Ada warisan. Dan selagi masih ada satu anak yang mau belajar menari, Eka berjanji, ia tidak akan pernah berhenti. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r7)

Editor : Siti Aeny Maryam
#tradisi #seni tari #perjuangan #modern #Rudat #warisan