Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Karena Kelalaian Tim SAR, Hasil Autopsi Juliana Pendaki yang Jatuh di Gunung Rinjani Meninggal Dunia Lantaran Hal Ini: Sudah Dipastikan…

Fratama P. • Jumat, 27 Juni 2025 | 13:59 WIB
Hasil autopsi Juliana pendaki yang jatuh di Gunung Rinjani dan dievakuasi Tim SAR
Hasil autopsi Juliana pendaki yang jatuh di Gunung Rinjani dan dievakuasi Tim SAR

LombokPost - Pendaki Juliana asal Brazil yang jatuh dari Gunung Rinjani menarik perhatian banyak pihak termasuk Tim SAR.

Kecelakaan yang menewaskan pendaki Juliana di Gunung Rinjani membuat banyak orang mempertanyakan kerja Tim SAR.

Banyak yang menyalahkan Tim SAR karena dinilai lalai dan tidak memberikan pertolongan segera pada pendaki Juliana saat terjatuh di Gunung Rinjani.

Banyak simpang siur yang menyalahkan Tim SAR selama ini atas kematian Juliana akhirnya bungkam.

Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) telah merampungkan autopsi terhadap jenazah Juliana De Souza Pereira Marins (27), pendaki perempuan asal Brasil yang meninggal dunia setelah terjatuh di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (21/6). 

Hasil autopsi menyimpulkan bahwa Juliana tewas akibat cedera serius yang disebabkan oleh jatuh.

Karena terjatuh yang mengakibatkan luka di sekujur tubuh, patah tulang, kerusakan organ dalam, dan pendarahan hebat.

"Dapat menyimpulkan bahwa sebab kematian itu adalah karena kekerasan tumpul yang menyebabkan kerusakan organ-organ dalam dan pendarahan," terang Spesialis Forensik RSBM, dr. Alit IB.

Ia menjelaskan bahwa benda tumpul yang dimaksud adalah benda-benda dengan permukaan relatif rata dan padat.

Adanya benturan itu tentu saja yang menyebabkan luka lecet geser saat tubuh korban bergesekan dengannya.

Rincian Luka dan Kondisi Tubuh

Dokter Alit merinci bahwa Juliana mengalami berbagai luka, termasuk luka lecet akibat tergeser, luka ringan di kepala, serta patah tulang pada bagian dada, tulang punggung, dan paha. 

Luka paling parah ditemukan pada area dada dan tulang punggung, sementara pendarahan terbanyak terjadi di bagian perut dan dada.

"Kalau kita lihat pola lukanya lecet geser sesuai dengan pola luka jatuh. Tersebar di daerah tubuh banyak ditemukan di punggung dan anggota gerak atas dan bawah bagian kepala ada. Yang di punggung paling parah karena terjadi dalam waktu yang sama," jelas dr. Alit. 

Pola luka ini konsisten dengan seseorang yang terjatuh dan bergesekan dengan permukaan benda tumpul.

#Kematian Terjadi Cepat, Bukan Hipotermia

Pendarahan dan luka parah yang dialami Juliana membuat ia tidak dapat bertahan hidup lama. 

Dr. Alit memperkirakan bahwa Juliana meninggal dunia sekitar 20 menit setelah insiden terjatuh. 

"Bahwa bukti-bukti menunjukkan kematian itu segera terjadi karena pendarahan begitu luas, patah tulang dan luka-luka multiple, jadi hampir pada seluruh tubuhnya termasuk organ dalam di dada dan perut. Jadi kata segera memang relatif kita perkirakan tidak lebih dari 20 menit setelah terjadi," sambungnya.

Lebih lanjut, dr. Alit dengan tegas memastikan bahwa kematian Juliana bukan disebabkan oleh hipotermia.

Hipertemia yaitu kondisi ketika suhu tubuh turun drastis di bawah 35 derajat Celsius yang dapat menyebabkan kegagalan organ vital. 

Ia tidak menemukan tanda-tanda luka yang biasa disebabkan oleh hipotermia pada tubuh Juliana, seperti kehitaman pada ujung jari-jari. 

"Jadi luka-luka yang ditimbulkan oleh hipotermia adalah luka pada ujung-ujung jari. Jadi lukanya berwarna kehitaman, ini tidak ditemukan. Jadi bisa kita katakan tidak ada hipotermia," tegasnya.

Saat ini, jenazah Juliana masih berada di RSBM setelah melakukan rangkaian autopsi sebelumnya.

Kuasa hukum keluarga berencana akan mengambil jenazah tersebut dari RSBM untuk selanjutnya dikirimkan kepada pihak keluarga di kampung halamannya di Brasil.

Melihat hal ini, tentunya banyak orang semakin terbuka dan tidak menyalahkan Tim SAR atas musibah yang menimpa Juliana di Gunung Rinjani.***

Editor : Fratama P.
#pendaki #Gunung Rinjani #tim sar #NTB #Juliana