Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Setahun Terakhir Delapan Pendaki Jatuh di Rinjani, Empat Tewas, Satu Hilang, Tiga Luka-Luka

Redaksi Lombok Post • Jumat, 27 Juni 2025 | 20:09 WIB

EVAKUASI: Tim SAR gabungan saat mengevakuasi pendaki perempuan asal Brasil Brasil Juliana De Sauza Pereira Marins yang meninggal dunia setelah terjatuh saat mendaki Rinjani, kemarin (25/6).
EVAKUASI: Tim SAR gabungan saat mengevakuasi pendaki perempuan asal Brasil Brasil Juliana De Sauza Pereira Marins yang meninggal dunia setelah terjatuh saat mendaki Rinjani, kemarin (25/6).
LombokPost— Musibah jatuhnya Pendaki asal Brasil, Juliana Marins (27), di Taman Nasional Gunung Rinjani, Sabtu (21/6/2025) menambah daftar panjang musibah yang menimpa  wisatawan di Taman Nasional Gunung Rinjani.

Sepanjang tahun 2024-2025 tercatat sedikitnya delapan wisatawan jatuh di TN Gunung Rinjani. Dari jumlah itu empat diantaranya meninggal dunia tiga berhasil dievakuasi dengan selamat  dan satu orang lainnya belum ditemukan hingga kini.

Sebagian besar korban merupakan warga negara asing. Berikut adalah beberapa insiden pendaki jatuh di Taman nasional Gunung Rinjani dari 2024-2025.

 

Juni 2025

Juliana Marins  (27 tahun), warga negara Brasil terjatuh ke jurang sedalam sekitar 600 meter saat mendaki ke arah  puncak Gunung Rinjani pada Sabtu, 21 Juni 2025. Jenazah ditemukan pada Selasa, 24 Juni 2025.

 

Mei 2025

Rennie Bin Abdul Ghani (57 tahun), warga negara Malaysia, meninggal dunia setelah jatuh sekitar 100 meter dari tebing di jalur pendakian Torean, Taman Nasional Gunung Rinjani  pada 3 Mei 2025.

September 2024

Mohd Hafidz (38 tahun), warga negara Malaysia jatuh ke tebing sedalam 10 meter di Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lokasi Hafidz jatuh tepatnya di dekat jembatan Pos 2 Tengengean Sembalun Selasa (16/9/2024)

Mordovina Alexandra (44 tahun), warga negara Rusia didisebut hilang di Rinjani bulan September 2024 dan belum ditemukan hingga kini.

Oktober 2024 

Farrel Paul (31 tahun), warga negara Irlandia, Jatuh sekitar 200 meter di area yang sama dengan insiden Rusmordovina Alexandra. Peristiwa ini terjadi 9 Oktober 2024.

September 2004 

Dua Pendaki WNI  Muh. Afifah Reza dan Kaifat Rafi Mubarok asal  Jakarta tergelincir ke jurang saat pendakian ke puncak Gunung Rinjani pada Minggu (29/9/2024).

Muh. Afifah Reza berhasil selamat karena berpegangan pada kayu, sedangkan Kaifat Rafi Mubarok ditemukan tak bernyawa. Jenazah Kaifat ditemukan di jurang sedalam 175 meter dan berhasil dievakuasi Jasad Rabu (9/10/2024).

Juni 2024 

Melanie seorang wisatawan asal Swiss yang tewas terjatuh dari tebing bukit Anak Dara, Taman Nasional Gunung Rinjani, Sembalun

 Baca Juga: Mengenang Juliana Marins Si Pemberani dan Mandiri, Dari Panggung Pole Dance ke Puncak Rinjani

 

Desak Modernisasi Peralatan Evakuasi

 

Insiden terjatuhnya pendaki wanita asal Brasil bernama Juliana Marins menjadi sorotan luas. Bukan hanya secara  nasional tapi juga menyita perhatian  internasional.

Bahkan netizen Brasil menyerbu akun media sosial Presiden Prabowo Subianto.

        Banyak yang menyayangkan lambannya proses evakuasi korban sejak terjatuh di tebing Cemara Nunggal, pendakian Gunung Rinjani, Sabtu lalu (21/6).

Sehingga perempuan 27 tahun itu ditemukan meninggal dunia. Tim SAR gabungan baru bisa mengevakuasi jenazah korban, Rabu kemarin (25/6).

"Tentu kita ikut berduka dengan kabar meninggalnya korban. Ini menjadi catatan serius dari sisi keamanan pendaki," kata Anggota Komisi V DPR RI Mori Hanafi di Kantor Gubernur NTB, kemarin (25/6).

         Disampaikan, pemerintah harus meningkatkan kualitas keamanan bagi pendaki. Sarana prasarana dan alat evakuasi untuk mendukung evakuasi juga harus ditingkatkan.

Itu semua tanggung jawab bersama. Mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah. Apalagi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) langsung menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.

"Saran saya kepada pemerintah pusat agar semua standar pengamanan dan keselamatan pendaki di Gunung Rinjani dipenuhi dulu. Sehingga saat ada insiden seperti itu alat itu bisa memudahkan proses evakuasi," ujar Mori.

        Apalagi, sambung dia, pendakian Gunung Rinjani juga memberikan pendapatan ke kas negara melalui  Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Jumlahnya tidak sedikit. Pada 2024 lalu, nilai PNBP mencapai lebih dari Rp 22 miliar.

"Jangan muluk-muluk untuk pengadaan helikopter dulu. Karena itu biayanya sangat besar dan biaya perawatan juga besar. Minimal penuhi peralatan yang standar dulu. Seperti drone yang lebih canggih untuk memudahkan pencarian korban," tegas Mori.

       Prinsipnya, sambung dia, standar penyelamatan dan alat-alat evakuasi harus memadai dan memenuhi syarat.

Untuk meningkatkan standar keamanan dan kenyamanan pendaki, sambung dia, sebetulnya bukan hanya tanggung jawab pusat. Pemerintah daerah seperti Pemprov NTB dan kabupaten serta masyarakat Gunung Rinjani juga punya peran penting.

"Khususnya ekosistem pendakian seperti guide dan porter harus benar-benar dilatih dalam hal keamanan. Karena mereka yang paling utama berhadapan dengan tamu," tegas ketua DPW Nasdem NTB itu.

        Anggota DPR RI Fraksi PAN Muazzim Akbar juga memberikan catatan serius atas terjatuhnya pendaki di Gunung Rinjani. Disampaikan, pemerintah pusat melalui Balai TNGR harus berbenah. Minimal dengan menerapkan SOP pendakian.

"Saya kira harus ada SOP standar pendakian yang jelas dan aman. Tidak semua orang boleh mendaki Rinjani. Dari sisi usia, kesehatan fisik maupun kesehatan mentalnya diperhatikan," kata Muazzim.

         Dia setuju bahwa pekerjaan rumah (PR) utama saat ini terkait dengan pengadaan alat safety yang lebih memadai. Itu bisa digunakan sewaktu-waktu jika terjadi kondisi darurat.

"Prinsipnya harus mulai dipikirkan  modernisasi alat keamanan dan alat evakuasi untuk pendakian Gunung Rinjani," tegas legislator Senayan dari daerah pemilihan (dapil) NTB itu.

          Wakil rakyat yang berkantor di Udayana atau DPRD NTB juga ikut bersuara. Muhammad Aminurlah anggota Fraksi Amanat Bintang Nurani Rakyat (ABNR) menegaskan Pemprov NTB harus memberi perhatian serius atas insiden ini. Apalagi ini bukan kali pertama terjadi.

Pada Mei lalu, seorang pendaki asal Malaysia juga terjatuh di Jalur Torean. Korban juga meningal dunia.

"Pemprov harus duduk bersama dengan Balai TNGR. Meskipun itu lembaga vertikal tapi pemprov juga bisa mendukung untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan pendakian di Gunung Rinjani," tegas Maman, sapaan akrab Muhammad Aminurlah.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#pendaki #Gunung Rinjani #TNGR #pendaki asal Brasil #Mori Hanafi #agam rinjani #Mordovina Alexandra #Rennie Bin Abdul Ghani #Juliana Marins