LombokPost – Gubernur NTB Dr Lalu Muhamad Iqbal, tiba-tiba muncul tiba-tiba di tengah-tengah warga terdampak banjir di Lingkungan Kebon Duren Selagalas, Kota Mataram, kamis (10/7). Waktu menunjuk sekitar pukul 12.00 Wita, saat panas mulai menggigit, dan lumpur masih membekas di jalan-jalan kecil yang baru terendam air Sungai Ancar.
Tanpa rombongan pejabat, gubernur datang ditemani protokol yang melekat padanya. Ia langsung menyapa warga, menyalami satu per satu, dan berbincang dengan nada menenangkan.
“Gimana kabarnya, Bu? Sehat-sehat?” tanya pria yang akrab disapa Miq Iqbal itu.
Ia menyentuh bahu seorang ibu paruh baya yang berdiri di dekat tumpukan ember dan kursi plastik yang diselamatkan dari air. Ibu itu mengangguk pelan.
“Alhamdulillah, Pak Gubernur. Cuma belum bisa masak, dapur masih becek,” kata perempuan itu takzim.
Iqbal menatap wajahnya serius, lalu tersenyum kecil. “Yang sabar, ya. Ini musibah besar, tapi kita pasti bisa segera pulih. Pemprov dan Pemkot sedang berusaha semaksimalnya,” katanya.
Di dekat sebuah gang kecil, Miq Iqbal menyapa sekelompok anak-anak yang tengah bermain air. Salah satu dari mereka melambaikan tangan dengan malu-malu.
Gubernur mendekat, menunduk, dan mengangkat tangan kecil itu untuk tos. “Semangat ya, jangan takut,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Yang menarik, di tengah kunjungan, Gubernur melihat seorang relawan bernama Amir, sedang memperbaiki kompor rusak milik warga. Amir, satu dari sekian orang yang datang tanpa diminta, hanya ingin membantu.
“Ini kompor ibu-ibu rusak semua, Pak. Saya bantu perbaiki. Tapi banyak juga yang butuh alat ganti,” ujar Amir.
Gubernur langsung memerintahkan ajudan, mentransfer biaya. Menyerahkan bantuan sebesar Rp 4 Juta.
“Ini, saya bantu. Biar bisa beli alat dan bantu lebih banyak lagi,” imbuh mantan Dubes RI untuk Republik Turki ini.
Amir kaget, tapi ia terlihat sangat antusias. “Terima kasih, Pak. Ini akan membantu lebih banyak warga,” ucap Amir bersyukur.
Perjalanan Gubernur berlanjut ke arah utara lingkungan. Di sepanjang jalan, ia menyapa relawan-relawan muda dari berbagai latar: kader Partai Gerindra, siswa-siswi SMA pecinta alam, dan komunitas warga.
“Terima kasih, adik-adik. Tetap semangat. Apa yang kalian lakukan ini sangat berarti dan bernilai ibadah,” katanya.
Ia juga menekankan ilmu yang mereka serap terbukti berguna bagi kemanusiaan. “Ilmu kalian terbukti berguna,” tekannya.
Miq Iqbal lalu masuk ke sebuah warung usaha nasi setelah diajak pemiliknya. Melihat satu per satu kondisi alat masak dan stok bahan makanan yang telah terendam.
“Banjir kali ini betul-betul luar biasa,” ucapnya lirih.
Di satu rumah, ia menemui warga yang tampak kikuk karena hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. “Gak apa-apa, kita semua sedang berjuang,” ujarnya sambil tertawa ringan.
Ia menyapa anak kecil lain yang sedang diam di sudut rumah, lalu mengajaknya tos. “Ayo, senyum! Kamu kuat, kamu hebat,” ucapnya kemudian.
Langkah Gubernur, berlanjut menyusuri gang menuju arah Sungai Ancar, sumber bencana yang menghantam pemukiman padat penduduk. Di sana, ia memasuki satu rumah yang plafonnya masih membekas lumpur karena sempat tenggelam total.
Di titik inilah Gubernur berbicara lebih tegas. “Kita harus belajar dari musibah ini. Jangan buang sampah sembarangan lagi. Sekecil apapun sampah, bisa menyumbat dan membuat air meluap,” ucapnya.
Ia berharap warga lebih tertib menjaga lingkungan, dan mau bergotong-royong jika diajak membersihkan area sekitar. “Kalau kita hidup harmonis dengan lingkungan, lingkungan juga akan menjaga kita,” ucapnya.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Mataram Muhtar yang hadir di lokasi, meminta masyarakat yang menempati bantaran sungai tanpa sertifikat tidak lagi membangun rumah atau tempat usaha di area tersebut. “Kita dorong pemerintah menata bantaran sungai jadi ruang terbuka atau taman,” kata Muhtar.
Senada dengan itu, Lurah Selagalas Yusrin mengungkapkan, Wali Kota Mataram telah menginstruksikan pengosongan bantaran sungai. “Sudah kami ratakan kemarin. Ada tujuh titik yang sebelumnya dijadikan tempat usaha. Rencananya akan kita bangun taman,” ujar Yusrin.
Ia menyebut, para pelaku usaha tidak keberatan karena sebagian besar memang bukan tinggal di sana, tapi menjadikan tempat itu sebagai lapak berdagang. “Mereka punya tempat tinggal sendiri, lapak itu hanya tempat usahanya,” pungkasnya. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin