Ada ungkapan yang bilang: “Di balik kelahiran, ada keheningan yang sangat teratur.” Dan hari itu, Lombok Post berada tepat di dalam keheningan itu.
----
INILAH ruangan yang menjadi jantung tindakan program bayi tabung di RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Di catatan Laporan Khusus sebelumnya, situasi ruangan ini sudah dipaparkan secara umum, kali ini akan lebih detail.
Ruangan ini tidak ramai, tidak gegap gempita seperti ruang operasi darurat. Ruangan ini sunyi. Tapi di balik sunyi itu, ada teknologi yang berbicara lebih keras dari suara manusia.
Sebuah layar hitam mengilap, sebesar dinding kecil. Di layar itu terpampang angka digital: suhu, tekanan udara, kelembapan, waktu operasi, bahkan countdown pembiusan.
Semuanya tampil rapi, tak ada satu pun informasi yang tertinggal. Semua bisa dikontrol hanya dengan satu sentuhan jari.
“Sistem di ruangan ini sudah terintegrasi,” kata dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc., Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, Senin (14/7).
Di balik layar itu, tidak hanya suhu yang dikendalikan. Ada kendali kelembapan, sistem pencahayaan, dan bahkan pengatur tekanan partikel di udara.
Ruangan ini menggunakan sistem AC sentral, dan sudah diuji partikelnya, terverifikasi ISO 5, standar internasional untuk ruang embriologi. Artinya, udara yang dihirup di ruangan ini salah satu yang paling bersih yang bisa didapat manusia.
“Tidak sembarangan debu bisa masuk,” imbuh dr. Eka.
Ia menunjukkan salah satu alat kerja yakni lampu operasi. “Kalau lampu ini, bisa diarahkan sesuai kebutuhan,” ujar dr. Eka.
Ia memutar arah lampu besar bulat di atas meja tindakan. Lampu itu seperti cahaya surgawi, putih dan bersih, tapi tidak menusuk.
“Mau fokus ke atas, ke bawah, atau di satu titik saja, bisa kita atur,” lanjutnya.
Dan memang, ini bukan sekadar lampu operasi. Ini cahaya yang membantu kehidupan dibentuk dari awal.
Di sisi kanan meja tindakan, berdiri kokoh mesin anestesi. Tidak seperti mesin di ruang bedah yang mengintimidasi, bentuknya lebih ramping di sini.
Namun fungsinya vital: membawa pasien ke dalam tidur medis yang nyaman, agar prosedur bisa berlangsung tanpa rasa sakit.
“Kita bukan melakukan operasi besar,” jelasnya.
Namun karena alat harus masuk ke dalam tubuh untuk mengambil sel telur dari sang ibu, maka alat ini diperlukan. “Ada pasien yang toleransi nyerinya rendah, jadi kita bantu supaya dia rileks,” terangnya.
Sambil menunjukkan alatnya, ia menyebut satu per satu: bedside monitor yang terhubung langsung ke tubuh pasien, alat pencatat tekanan darah, kadar oksigen, hingga jumlah detak jantung.
Semua data muncul real time di layar monitor. “Ini untuk memastikan pasien aman dan stabil selama tindakan berlangsung,” terangnya.
Beralih ke sebuah perangkat canggih yang terletak di sisi kiri. “Yang ini Voluson S8,” terangnya.
Alat ini punya tampilan futuristik, dengan layar besar dan tombol-tombol yang berderet seperti keyboard pesawat luar angkasa. Di sinilah rahim diperiksa, endometrium diukur, dan posisi ovarium dipantau.
“Ini bisa lihat rahim, ovarium, sampai ke perut (abdominal),” lanjutnya.
Teknologi ini 3D dan bisa melakukan freeze frame atau menghentikan gambar pada detik yang dibutuhkan. “Kalau di rumah sakit biasa mungkin belum banyak yang pakai ini. Tapi di sini, kita pakai yang terbaik di kelasnya,” terangnya.
Di sisi dinding lainnya, sebuah panel layar lain yang menunjukkan timer: 00:00:00. Ini adalah sistem waktu operasi.
Setiap tindakan punya batas waktu yang jelas, agar embriologis atau dokter bisa bekerja presisi. Semua penghitungan detik hingga durasi anestesi termonitor.
Di bagian bawah panel, terpasang sistem gas medis: oksigen dan CO₂.
Alirannya bisa diatur secara presisi, dan seluruh alur gas ini masuk lewat pipa-pipa khusus. “Di sinilah sistem pendukung kehidupan bekerja tanpa suara, tapi sangat menentukan,” paparnya.
Terakhir, sebuah alat mungil bernama jarum OPU (Ovum Pick-Up). Tidak sebesar pulpen.
Namun melalui alat ini, telur-telur kecil di dalam tubuh ibu diambil satu per satu. “Lalu dipersiapkan untuk bertemu sperma dalam tabung kaca,” terangnya.
Inilah ruang tindakan yang tak sepenuhnya bisa didefinisikan dengan tulisan. Namun di ruangan ini, teknologi tidak hanya menyelamatkan.
Teknologi di tempatkan sebagai alat untuk merancang harapan. Di balik layar hitam penuh angka itu, ada kehidupan yang bersiap hadir, bukan lewat pelukan rahim dulu, tapi lewat kerja sama mesin, ilmu, dan cinta manusia.
Seberapa canggih ruangan dan alat-alat yang disebut tadi? “Kita tidak mau hanya bagus, kita ingin jadi benchmark untuk rumah sakit-rumah sakit lainnya,” tegas dr. Eka.
Sebuah fasilitas yang juga mencerminkan kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang besar. Karena dari ruangan ini, masa depan beberapa keluarga mungkin sedang dipersiapkan—satu embrio dalam satu tabung, satu kehidupan dalam satu keheningan. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin