LombokPost – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram memiliki rencana ambisius untuk mengatasi masalah banjir yang sering melanda, yaitu membangun satu kolam retensi di setiap kecamatan. Rencana ini tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) terbaru dan dianggap sebagai solusi jangka panjang yang efektif.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning, mengatakan bahwa gagasan ini sudah masuk dalam RTRW. Namun, ia tidak memungkiri bahwa tantangan terbesar adalah soal anggaran.
"Perencanaan di RTRW itu semua sudah tergambar. Nanti manakala ada kebijakan kepala daerah terkait ini, kita sudah siap," ujarnya.
Saat ini, Kota Mataram baru memiliki satu kolam retensi di Giong Siu seluas 3.000 meter persegi. Kolam ini terbukti efektif menampung air hujan, namun perlu dirawat secara rutin. Lale menekankan pentingnya normalisasi kolam, setidaknya 2-3 bulan sekali, agar fungsinya tetap optimal, terutama saat musim hujan.
Baca Juga: Dilema Tata Ruang Penertiban Sempadan Sungai, Kadis PUPR Mataram: Maju Kena, Mundur Kena
Pembangunan kolam retensi baru membutuhkan biaya yang sangat besar, terutama untuk pembebasan lahan. Dengan harga tanah yang tinggi, satu kolam retensi yang membutuhkan lahan sekitar 20 are bisa menelan biaya puluhan miliar rupiah.
Meskipun demikian, Lale Widiahning menegaskan bahwa kolam retensi sangat penting untuk meminimalisasi banjir. Kolam ini berfungsi sebagai penampung sementara air hujan, mencegahnya langsung menggenangi permukiman warga.
"Kolam retensi ini dapat meminimalisir banjir karena memiliki daya tampung. Paling tidak, air dapat ditampung dulu," jelasnya.
Meski realisasi rencana ini sangat bergantung pada ketersediaan dana dan prioritas kebijakan, Pemkot Mataram tetap menjadikannya agenda penting dalam master plan penanggulangan banjir.
Editor : Siti Aeny Maryam