Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ancaman dari Bawah Tanah, Selatan Lombok Menjadi "Zona Panas" Gempa

Nurul Hidayati • Kamis, 28 Agustus 2025 | 16:47 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost – Ancaman dari bawah tanah, selatan Lombok menjadi "Zona Panas" gempa karena wilayah selatan Pulau Lombok menyimpan kekuatan besar. Hal itu kini menjadi pusat perhatian para ahli kegempaan. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab area ini berada di atas Segmen Sumba, sebuah bagian dari zona megathrust yang membentang dari selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.

Seismolog dan pakar sesar aktif dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pepen Supendi, menjelaskan bahwa potensi gempa bumi besar yang berasal dari zona ini sangat mengkhawatirkan.

Menurut data dari Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), skenario terburuk menunjukkan bahwa Segmen Sumba berpotensi menghasilkan gempa dengan kekuatan maksimal hingga magnitudo 8,5.

 Baca Juga: WASPADA! NTB Diintai Gempa Megathrust Hingga Tsunami, BMKG Ingatkan Ancaman Bahaya Untuk Bagian Selatan Lombok

Angka ini menunjukkan potensi energi yang sangat besar, setara dengan bencana-bencana dahsyat yang pernah terjadi di belahan dunia lain.

Fenomena "Seismic Gap" yang Mengkhawatirkan

Kekhawatiran para ahli bukan hanya pada potensi magnitudo, tetapi juga pada fenomena yang disebut seismic gap—sebuah zona yang seharusnya sudah melepaskan energi besar melalui gempa, tetapi belum terjadi dalam jangka waktu yang lama.

 Baca Juga: Wilayah Lombok Selatan Diintai Gempa Dahsyat, Ahli BMKG Ingatkan Potensi Magnitudo 8,5

"Zona megathrust memiliki bagian-bagian yang terkunci dan ada juga bagian yang sudah rilis dalam bentuk gempa-gempa kecil. Yang dikhawatirkan oleh kita selama ini adalah bagian yang terkunci tersebut, yang kita sebut seismic gap," terang Pepen Supendi.

Menurutnya, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi di Segmen Sumba. Pertama, energinya sudah dilepaskan lewat gempa-gempa kecil yang tidak terasa signifikan.

Kedua, dan ini yang paling diwaspadai, energi tersebut justru sedang tersimpan dan menumpuk secara masif, menunggu waktu untuk dilepaskan dalam bentuk gempa besar yang destruktif.

 Baca Juga: Edukasi Kebencanaan di Sekolah Harus Digalakkan, BRIN Telah Ungkap Jejak Tsunami Raksasa di Selatan Jawa

Membangun Kesadaran, Bukan Ketakutan

Pepen menekankan bahwa informasi ini disampaikan bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran dan kesiapsiagaan.

"Kita harus tetap siap, bahkan jika yang datang adalah gempa kecil. Tujuannya bukan membuat panik, tapi membangun kesiapan masyarakat sejak dini," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun para ahli sudah bisa mengidentifikasi sumber-sumber gempa, seperti zona megathrust dan sesar aktif, penentuan waktu dan lokasi presisi masih belum bisa dilakukan secara ilmiah.

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh karena itu, mitigasi bencana, baik secara struktural maupun non-struktural, adalah kunci utama untuk mengurangi risiko. Membangun rumah tahan gempa dan melatih diri serta keluarga tentang langkah-langkah evakuasi menjadi hal yang mutlak dilakukan.

Editor : Pujo Nugroho
#energi #sumba #fenomena #Gempa #Lombok