Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Terungkap Proyek Ponpes Al Khoziny dari Tahun 2015-2024 Terekam, Ternyata Penyebab Bangunan Ambruk Karena Hal Vital ini

Fratama P. • Senin, 6 Oktober 2025 | 20:55 WIB
Kondisi bangunan Ponpes Al Khoziny
Kondisi bangunan Ponpes Al Khoziny

LombokPost - Insiden tragis ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes Al Khoziny) di Buduran, Sidoarjo, terus memicu perhatian dan sorotan kritis dari berbagai kalangan.

Data terbaru yang dikutip dari BPBD mengonfirmasi penemuan satu jenazah lagi di antara puing-puing bangunan Ponpes Al Khoziny, sehingga total korban meninggal dunia saat ini mencapai sembilan orang.

Sementara itu, berdasarkan data internal Ponpes Al Khoziny, setidaknya 54 korban masih berada dalam proses pencarian dan evakuasi.

Bersamaan dengan upaya pencarian korban yang masih berlangsung, publik secara luas mempertanyakan bagaimana kelayakan teknis proyek gedung empat lantai yang akhirnya runtuh ini.

Kronologi Pembangunan Kontroversial Terekam Google Maps

Kecurigaan publik diperkuat dengan beredarnya serangkaian foto (diunggah ulang di X/Twitter, bersumber dari Google Maps) yang memperlihatkan perkembangan pembangunan Ponpes Al-Khoziny selama hampir satu dekade.

Foto-foto tersebut secara dramatis menunjukkan evolusi pembangunan yang kini dinilai kontroversial secara struktural.

Para pengguna media sosial secara khusus menyoroti dimensi tiang penyangga (kolom) yang dinilai tidak sebanding dengan beban bangunan yang terus bertambah secara vertikal.

Rangkaian foto viral menunjukkan tahapan pembangunan sebagai berikut:

1. 2015–2017: Awalnya, bangunan merupakan struktur dua lantai dengan fasad khas hijau-putih yang tampak stabil.

2. 2019 (Titik Kritis): Foto tahun ini memperlihatkan persiapan penambahan lantai di atas struktur lama.

Kritik muncul karena kolom-kolom penyangga di lantai dasar, yang dibangun pada periode awal, terlihat sangat ramping dan diduga tidak dirancang untuk menahan beban bangunan yang akan bertingkat tinggi.

3. 2021–2024 (Pembangunan Agresif): Pembangunan berlanjut tanpa henti. Struktur beton di atas lantai dua terus menjulang, mencapai empat hingga lima lantai.

Foto tahun 2024 menunjukkan bangunan yang nyaris selesai, namun kontras yang mengkhawatirkan antara dimensi tiang penyangga di lantai bawah dengan volume bangunan masif di atasnya semakin mencolok.

Kewajiban Audit Struktur: Perspektif Teknis

Sorotan tajam terhadap tiang penyangga Ponpes Al Khoziny ini didukung oleh prinsip dasar ilmu teknik sipil.

Dikutip dari jurnal Analysis of Optimization of Cross-Sections and Reinforcement of Building Structures Based on SNI 2847-2019 and SNI 1726-2019, secara teknis, kolom beton adalah elemen vertikal krusial yang berfungsi memikul beban tekan (aksial) dari seluruh struktur di atasnya, sebelum meneruskannya secara aman ke fondasi.

Standar keamanan bangunan mewajibkan adanya perhitungan ulang struktur secara menyeluruh (audit struktur) setiap kali ada penambahan beban vertikal, khususnya penambahan lantai.

Jika penambahan beban dilakukan tanpa pembesaran atau penguatan kolom lama yang tidak dirancang untuk beban tinggi, risiko kegagalan struktur secara teknis menjadi sangat tinggi.

Pemerintah Sepakat Perketat Standar Pembangunan Pesantren

Mencegah tragedi serupa terulang, Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (PM) Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), telah menyepakati dua langkah strategis untuk masa depan.

"Pak Pratikno dan saya sepakat untuk mencari jalan keluar," ujar Menko PM Muhaimin Iskandar.

Dua kesepakatan utama tersebut adalah:

1. Standar Teknik Wajib: Pesantren tidak boleh lagi membangun tanpa memenuhi standar teknik yang memadai dan standar keselamatan bangunan yang berlaku.

2. Pendampingan Teknis: Pemerintah akan memfasilitasi agar pesantren yang sedang melaksanakan pembangunan mendapatkan pendampingan teknis melalui kementerian terkait, khususnya sektor infrastruktur.

Menko PM menegaskan pentingnya melibatkan tenaga ahli teknik dalam setiap proses pembangunan.

Ia menekankan bahwa, meskipun semangat kerukunan tinggi, kalkulasi teknik harus diutamakan.

"Gotong royong boleh, tetapi tetap harus ada hitungan ilmunya. Kita tidak boleh lagi membangun tanpa kalkulasi teknik. Itu sangat berisiko," serunya, menjadikan komitmen ini sebagai langkah fundamental untuk menjamin keselamatan warga di lingkungan pesantren, seperti Ponpes Al Khoziny.***

Editor : Fratama P.
#Ponpes Al Khoziny