LombokPost–Antisipasi terhadap potensi banjir rob dan abrasi seiring datangnya musim penghujan di kawasan pesisir Kota Mataram menjadi perhatian serius.
Anggota DPRD Kota Mataram Dapil Ampenan, Muchtar, meminta masyarakat, terutama di wilayah pantai, untuk lebih proaktif dalam mitigasi bencana dengan menaati regulasi pembangunan di kawasan pesisir.
Muchtar, politisi Partai Gerindra, pada Rabu (15/10), mengakui bahwa abrasi yang terjadi di Pantai Ampenan setiap tahun merupakan siklus alam yang lumrah.
Namun, kunci utama dalam menghadapi siklus ini adalah kesiapan dan ketaatan masyarakat terhadap aturan.
"Tatkala ada imbauan atau regulasi mengenai pembangunan rumah dengan jarak sekian meter dari pesisir, itu harus ditaati. Itu saja kuncinya," tegas Muchtar.
Muchtar menyatakan Dewan akan terus mendorong Pemkot Mataram untuk menjalin kerja sama dalam upaya pembangunan infrastruktur pelindung pantai. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar dalam mitigasi bencana adalah edukasi kepada masyarakat pesisir.
Mengenai bantuan anggaran melalui pokok pikiran (pokir) dewan, Muchtar menyebut tidak memungkinkan untuk membiayai pembangunan sempadan pantai yang membutuhkan biaya besar. Solusi pembangunan infrastruktur pelindung pantai secara maksimal harus melalui kerja sama antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat.
Secara terpisah, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzakki, mengungkapkan bahwa pihaknya telah dihubungi warga Bintaro untuk segera menyediakan penghalang gelombang atau geobag, mengingat cuaca telah memasuki musim penghujan.
"Kita sudah siap, tinggal Dinas PUPR nanti bagaimana teknisnya," kata Muzakki.
BPBD Mataram saat ini memiliki cadangan geobag yang merupakan bantuan dari Balai Wilayah Sungai (BWS), serta sisa material bronjong. Material ini siap diberikan kepada warga, namun penggunaannya harus dikoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sebagai dinas teknis.
Muzakki menjelaskan bahwa biaya satu unit geobag yang diisi 200 kilogram pasir mencapai Rp 250 ribu. Ia menegaskan, semua upaya yang dilakukan saat ini, termasuk penyediaan geobag dan bronjong, masih bersifat penanganan sementara.
"Saat ini semua masih penanganan sementara, bahkan ada sisa bronjong bila diperlukan silakan diinfokan," pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa