Dosen Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) Mataram, Lalu Hulfian, menyebut fenomena ini sebagai pergeseran paradigma olahraga di Lombok. Menurutnya, mini soccer didominasi oleh kalangan pekerja yang mencari sarana hiburan dan rekreasi.
“Kalau di mini soccer itu lebih didominasi oleh para pekerja atau orang-orang yang sudah bekerja, dan orang-orang yang memang membutuhkan hiburan,” ujar Hulfian.
Daya tarik utama mini soccer terletak pada konsep "fun football". Ini menjadikannya pilihan ideal bagi para pekerja untuk refresh atau menghilangkan stres setelah rutinitas harian yang padat. Mereka umumnya memilih waktu bermain di akhir pekan atau malam hari.
Hulfian menjelaskan bahwa tingginya partisipasi komunitas, seperti fans club sepak bola, menunjukkan fungsi utamanya sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan kesenangan.
“Jadi lebih cari fun nya aja. Senang-senang. Ketemu temen silaturrahim,” tambahnya.
Salah satu faktor pendorong dominan yang membuat mini soccer kian menarik, khususnya di era digital, adalah faktor sosial berupa kehadiran fotografer.
"Salah satu yang bisa membuat mini soccer ini menarik untuk para mereka itu salah satunya ada fotografer. Karena ada fotografer, ada tempat mereka melihat posting atau yang lainnya lah. Itu yang jadi pembeda,” tegas Hulfian.
Hal ini berbeda dengan futsal yang umumnya menggunakan jaring yang menyulitkan pengambilan foto berkualitas. Selain itu, mini soccer hadir sebagai pilihan yang lebih santai dibandingkan sepak bola lapangan besar yang menuntut tenaga ekstra.
Baca Juga: Mini Soccer Resmi Jadi Anggota KONI Pusat, Bukan Olahraga Musiman
Dengan jumlah pemain 9 lawan 9 dan luas area yang ideal—tidak terlalu besar maupun kecil—mini soccer dinilai paling sesuai untuk kategori fun, terutama bagi mereka yang berusia 35 hingga 40 tahun ke atas. Fleksibilitas durasi bermain (sewa 2 jam dibagi untuk 3-4 tim dengan sistem bergantian) juga sangat cocok dengan kondisi fisik para penikmatnya.
Lonjakan permintaan, terutama pada malam hari, telah menciptakan ekosistem bisnis baru yang menjanjikan. Hulfian mencatat, biaya pembangunan lapangan mini soccer lebih efisien karena tidak memerlukan atap seperti futsal.
"Penghabisan untuk membuat fasilitas itu lebih murah, sewanya lebih mahal,” ungkapnya.
Di Lombok, sewa lapangan mini soccer pada malam hari rata-rata mencapai Rp 300.000 hingga Rp 350.000 per jam, jauh di atas sewa futsal yang mentok di angka Rp 150.000 per jam.
Meskipun lebih cocok sebagai rekreasi, Hulfian tidak menutup mata pada kemungkinan berkembangnya mini soccer ke jalur prestasi dengan adanya wadah seperti liga mini soccer. Namun, ia meyakini bahwa popularitas mini soccer bukan sekadar tren musiman, melihat tingkat keterisian lapangan yang konsisten setiap malam.
Editor : Siti Aeny Maryam