Akbar Sirinawa• Selasa, 21 Oktober 2025 | 07:00 WIB
Bibit mangrove hasil penyemaian di Pulau Namo, Sumbawa Barat, dibesarkan dengan metode tanam tiang pancang di pesisir pantai. (FOTO: DIDIT/LOMBOK POST)
Di ujung barat Pulau Sumbawa, laut biru Gili Balu tak hanya menyimpan keindahan, tapi juga kisah keberanian. Dari sanalah masyarakatnya berdiri sebagai penjaga laut. Menumbuhkan kehidupan dari laut yang mereka cintai, agar Gili Balu bisa terus diwariskan kepada generasi yang belum lahir.
LombokPost-Pulau Kenawa, Pulau Kambing, Pulau Ular, Pulau Belang, Pulau Paserang, Pulau Mandiki, Pulau Kalong, dan Pulau Namo. Delapan pulau yang bersatu dalam gugusan Gili Balu, berada di Desa Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Gili Balu bukan semata keindahan alamnya. Kawasan ini juga kaya akan biodiversitas laut, hingga akhirnya ditetapkan sebagai wilayah konservasi, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2008.
Sebagai wilayah konservasi, masyarakat Desa Poto Tano menjadi garda terdepan, menjaga setiap sudut laut yang mereka cintai. Upaya itu dilakukan dengan pola pengawasan hingga proses rehabilitasi pada terumbu karang serta mangrove dan lamun di Gili Balu.
Tapi, sebagaimana dua sisi mata uang, ada tantangan yang dihadapi masyarakat dalam upaya konservasi. ”Saat ini kompresor. Kalau bom ikan, 99 persen tidak ada,” kata Ketua Pengelola Wisata Poto Tano Rudini kepada Lombok Post.
Kompresor yang dimaksud Rudini adalah pencari ikan dengan menggunakan panah. Mereka menyelam pada kedalaman 50-100 meter di perairan Gili Balu, tanpa peralatan memadai. Hanya menggunakan kompresor sebagai alat bantu nafas selama menyelam.
Sebagai penjaga kawasan konservasi, Rudini kerap menghadapi situasi berisiko. Nyawanya pernah terancam saat berhadapan dengan para nelayan kompresor. Peristiwa itu terjadi medio 2023, ketika ia dikepung di tengah laut.
Malam itu, lebih dari lima perahu mengitari perahunya. Di atas masing-masing perahu, para nelayan kompresor sudah bersiaga. Rudini tak lagi mengingat jumlah pastinya, namun ia tahu, tak kurang dari delapan orang mengepungnya malam itu.
Beberapa di antara mereka memegang panah ikan dan mengarahkannya ke Rudini. Tegang. Nyawa Rudini seolah berada di ujung tenggorokan. ”Salah ngomong sedikit, bisa langsung lewat (mati, Red) saya saat itu,” kenangnya dengan mata menerawang.
Rudini memilih menenangkan diri. Ia berbicara pelan kepada nelayan kompresor, menjelaskan bahwa perburuan ikan menggunakan panah di kawasan konservasi adalah pelanggaran.
”Mereka juga sebenarnya tahu itu salah. Akhirnya paham setelah diberitahu, apalagi sebagian dari nelayan kompresor itu masih keluarga jauh juga, walaupun tinggal di desa tetangga” kata Rudini.
Bagi masyarakat Desa Poto Tano, laut dan Gili Balu bukan sekadar hamparan air asin dan pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Gili Balu adalah sumber penghidupan, penopang ekonomi sekaligus jantung pariwisata lokal.
Kondisi ini disadari dengan baik oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB. Kolaborasi PT AMMAN dan DKP NTB untuk mendampingi masyarakat, merawat Gili Balu agar bisa diwariskan di masa depan.
Manager Community Development Amman Dimas Purnama mengatakan, dalam program konservasi itu, pihaknya juga melibatkan Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan (PKSDPL) Institut Pertanian Bogor (IPB).
”Bersama DKP Provinsi NTB dan IPB ini sinergi dan ikhtiar menjaga kawasan konservasi Gili Balu,” kata Dimas.
Ada lima poin kegiatan dalam upaya konservasi yang dilakukan AMMAN. Antara lain, kegiatan pemantauan habitat dan populasi ikan, perlindungan dan rehabilitasi ekosistem perairan Gili Balu, peningkatan kapasitas SDM.
Kemudian, penyediaan dan pemeliharaan sarpras pengelolaan kawasan. Terakhir, peningkatan pelayanan pemanfaatan kawasan untuk pariwisata dan perikanan berkelanjutan.
"Objek utama kita ada lamun, mangrove, dan terumbu karang. Ini yang berkaitan dengan konservasinya," ujarnya.
Berdasarkan data pada laman gilibalutransformasea, pemantauan reef ball di perairan Pulau Kenawa pada 2023 menunjukkan hasil menggembirakan. Persentase tutupan karang hidup mencapai 86,00 persen, dengan dominasi karang lunak dan biota asosiasi sebesar 58,44 persen, diikuti karang keras 27,56 persen, faktor abiotik 10 persen, dan alga 4 persen.
Sejak dipasang antara 5 hingga 14 tahun lalu, reef ball di kawasan ini telah mengalami kolonisasi karang yang sangat baik, dengan rata-rata tutupan karang berkisar antara 56,00 persen hingga 87,56 persen sepanjang periode pemantauan 2015–2023.
Aktivitas ikan karang yang menggunakan struktur reef ball sebagai tempat berlindung dan mencari makan menjadi tanda jelas terjadinya proses rekolonisasi dan pemulihan ekosistem terumbu karang di Gili Kenawa.
Kegiatan konservasi AMMAN bukan melulu berbicara lingkungan. Perusahaan juga menyentuh elemen pariwisata berkelanjutan. Sehingga bisa memberikan nilai tambah ekonomi dan sosial, kepada masyarakat Desa Poto Tano.
Karena itu, beberapa pemuda di Pengelola Wisata Poto Tano telah mendapat beberapa pelatihan. Antara lain, pelatihan menyelam dengan lisensi internasional, pemandu wisata, lifeguard, hingga pemasaran digital.
Dengan upaya tersebut, membuat masyarakat bisa melakukan konservasi secara mandiri. Masyarakat juga bisa berusaha memanfaatkan daya dukung laut dengan berpegang pada pola lestari.
Dimas mengatakan, upaya konservasi tentu tidak bisa dirasakan langsung. Tidak dalam satu atau dua tahun. ”Belasan tahun, bahkan puluhan tahun baru terlihat. Itu kenapa dijaga dan dirawat saat ini, agar bisa diwariskan untuk anak cucu nanti,” tandasnya.
Kepala DKP Provinsi NTB Muslim mengatakan, upaya konservasi bersifat jangka panjang. Sehingga membutuhkan pendampingan melalui kegiatan ekonomi, yang bisa dirasakan dalam jangka pendek.
”Harus juga ada manfaat ekonomi. Agar masyarakat juga bisa bernafas panjang untuk kegiatan konservasi ini,” kata Muslim.
Menurut Muslim, pendampingan PT AMMAN bersama Pemprov NTB memiliki semangat untuk pembangunan Ekonomi Biru bagi masyarakat di sekitar Gili Balu. ”Kami ingin bersama-sama menjaga konservasi perairan di Gili Balu, namun masyarakat bisa tetap meningkat ekonominya dari sana,” tandas Muslim.
Bagi Rudini, apa yang dilakukan AMMAN membawa perubahan besar bagi masyarakat Poto Tano. Tak hanya dari sisi konservasi, tapi juga dari semangat dan kebanggaan mereka sebagai penjaga laut Gili Balu.
Pelatihan peningkatan kapasitas SDM pemandu wisata di Desa Poto Tano, yang dilakukan AMMAN. (FOTO: gilibalutransformasea)
“Dampaknya sangat luar biasa. Sebelumnya kami biasa mendapat dukungan dari NGO, hanya satu kali dalam sebulan. Dengan adanya program AMMAN, kami terbantu dalam kegiatan konservasi, dan ada banyak kegiatan lain yang bisa kami lakukan,” katanya.
Program pendampingan itu, lanjut Rudini, memberi ruang bagi masyarakat untuk benar-benar berdaulat dalam menjaga lautnya sendiri. Sistemnya diserahkan penuh kepada kelompok masyarakat, dari perencanaan hingga pelaksanaan.
“Kami membuat modul karang, melakukan penyemaian, hingga menanam mangrove. Tentu saat ini belum terlihat hasilnya, tapi ini proses awalnya,” ujarnya.
Perlahan, dampak ekonomi mulai terasa. Kas kelompok kini terisi, anggota bisa mendapat bayaran dari kegiatan konservasi, dan ruang belajar bagi anak muda desa terbuka lebih lebar. “Kami bahkan bisa mengirim dua anggota ke Bali untuk mengikuti pelatihan selam open water, itu semua dari hasil usaha kelompok,” katanya.
Rudini bercerita, anak-anak muda yang dulu hanya mengenal laut sebatas tempat mencari ikan, kini mulai memahami laut sebagai ekosistem yang harus dijaga. “Mereka orang laut, tapi baru sekarang kami membuka ruang agar mereka benar-benar bisa memahami lautnya sendiri,” ucapnya.
Perubahan itu juga terlihat dari sisi pengawasan kawasan konservasi. Jika sebelumnya patroli hanya bisa dilakukan sekali atau dua kali dalam sebulan karena keterbatasan biaya, kini kelompok masyarakat bisa turun hingga sepuluh kali dalam sebulan.
“Kadang setiap kali kami antar tamu, sekalian kami lakukan pengawasan,” ujar Rudini.
Baginya, setiap kegiatan pengawasan bukan hanya soal menjaga laut, tapi juga mengedukasi. “Kami ajak tamu melihat langsung apa yang kami lakukan, melihat transplantasi karang, dan menjelaskan apa yang kami lindungi,” katanya.
Rudini tersenyum kecil saat menceritakan semua itu. Laut yang dulu hanya jadi tempat mencari nafkah, kini menjadi ruang belajar, sekaligus ruang perjuangan bersama. Gili Balu tidak hanya dijaga, tapi juga dirawat untuk masa depan.