LombokPost - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menghadapi krisis fiskal serius menyusul adanya pemangkasan besar pada Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat, yang diperkirakan mencapai Rp370 miliar untuk tahun anggaran 2026.
Dampak langsung dari penekanan biaya ini menghantam sektor pariwisata, mengancam terhentinya agenda festival yang selama ini menjadi daya tarik utama Kota Mataram.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Cahya Samudra, menyatakan bahwa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diinstruksikan untuk 'puasa' anggaran dan menekan biaya untuk kegiatan bersifat seremonial. Hal ini imbas dari kebijakan efisiensi anggaran pusat.
"Untuk kegiatan festival, kita menyesuaikan. Kalau memang tidak ada anggarannya, ya tidak kita laksanakan," katanya.
Tahun 2025, Dinas Pariwisata (Dispar) Mataram berhasil menggelar 10 festival besar, termasuk Festival Mutiara, Festival Ragi Genep, Lebaran Topat, dan Festival Film Sangkareang. Namun, kegiatan dengan alokasi anggaran sekitar Rp10 miliar di 2025 itu dipastikan tidak dapat diulang.
"Melihat anggaran yang menurun, kemungkinan kita tidak bisa melaksanakan kegiatan festival karena dananya tidak mencukupi," terangnya.
Meski festival besar terancam ditiadakan, Dispar Mataram berupaya maksimal untuk menyelamatkan kegiatan yang memiliki nilai budaya lokal yang kuat. Pagelaran Peresean, tradisi khas Lombok yang baru dirintis tahun ini, akan menjadi prioritas.
Kegiatan yang sifatnya pelestarian budaya lokal, seperti Pagelaran Peresean, akan diupayakan untuk tetap dilaksanakan.
Untuk menanggulangi defisit dan agar roda pariwisata tetap berjalan tanpa festival besar, Pemkot Mataram berencana mencari solusi dengan menggandeng pihak eksternal.
Dispar akan proaktif menarik dukungan dan bantuan dana dari pemangku kepentingan (stakeholder) dan mitra swasta agar agenda pariwisata tetap hidup.
Pemangkasan TKD ini secara keseluruhan mendorong Pemkot Mataram untuk lebih selektif dalam memilih program prioritas dan meningkatkan kemandirian fiskal daerah.
Editor : Jelo Sangaji