LombokPost – Menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di penghujung tahun, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram tengah memperkuat strategi mitigasi banjir.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menekankan pentingnya koordinasi terintegrasi, khususnya dengan pemerintah provinsi dan Kabupaten Lombok Barat, sebagai upaya kunci untuk menyamakan aksi penanganan.
Mohan mengakui bahwa Kota Mataram, yang berada di hilir, selalu diintai risiko banjir akibat kombinasi volume hujan besar, air pasang laut (rob), dan tingginya debit air sungai. Wilayah pesisir hingga tengah kota berpotensi terdampak.
“Ini kebijakan secara integratif bersama pemangku kepentingan, termasuk juga dengan pihak provinsi dan Lombok Barat, supaya kita sama-sama memiliki pemahaman yang sama berkaitan dengan isu banjir,” kata Mohan, Senin (31/10).
Evaluasi dari pengalaman banjir sebelumnya menyoroti isu krusial: koordinasi di wilayah hulu sungai. Mataram seringkali menanggung beban air yang tidak proporsional dari wilayah hulu.
Wali Kota secara spesifik meminta koordinasi intensif dengan pengelola di wilayah hulu untuk menjamin pembagian debit air yang adil dan merata.
“Saya minta juga koordinasi kita di hulu, supaya ketika debit air cukup besar, supaya pembagiannya itu bisa merata di seluruh, di empat sungai ini. Jadi tidak dibebankan kepada satu sungai saja,” tegasnya.
Strategi Mitigasi Terintegrasi Pemkot Mataram:
- Normalisasi Infrastruktur: Melakukan normalisasi saluran-saluran air dan fokus pada penanganan jaringan drainase.
- Amplifikasi Informasi BMKG: Meminta informasi BMKG diamplifikasi dan disebarluaskan agar masyarakat lebih waspada.
- Partisipasi Masyarakat: Mengajak camat, lurah, dan masyarakat untuk berswadaya membersihkan lingkungan guna mendukung fokus Pemkot pada infrastruktur.
Mohan berharap, dengan aksi yang lebih terencana dan pengalaman yang semakin mendalam, penanganan isu banjir dapat lebih optimal, terutama di area pesisir dan wilayah yang berada di sekitar bantaran sungai. (*)