Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Nelayan di Kampung Bugis Ampenan, Rumah Hilang, Hidup Numpang Mertua

Sanchia Vaneka • Rabu, 19 November 2025 | 18:13 WIB

 

Puing-puing tumah warga terdampak abrasi di Kampung Bugis Ampenan
Puing-puing tumah warga terdampak abrasi di Kampung Bugis Ampenan

Ancaman gelombang pasang dan banjir rob sudah menjadi siklus tahunan yang menggerus garis pantai Kampung Bugis, Ampenan, membuat puluhan rumah tak layak huni, memaksa warga mengungsi ke rumah kerabat.

Di tengah rencana pembangunan ambisius, warga hanya menanti solusi permanen berupa tanggul paten yang tak kunjung terealisasi.

Kehidupan di pesisir Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, adalah sebuah pertarungan abadi melawan alam, terutama saat musim penghujan tiba.

Di tengah deru angin dan gelombang yang mengganas, warga setiap hari berhadapan dengan kenyataan pahit, abrasi dan banjir rob yang terus menggerus daratan, merusak permukiman, dan menghilangkan aset hidup mereka.

Baca Juga: Wagub NTB Indah Dhamayanti Putri Desak Pemetaan PAD, Soroti UPT yang Masih di Posisi Terendah Jelang Akhir Tahun

Dari lokasi memperlihatkan betapa mendesaknya kondisi di salah satu sudut pantai Mataram ini.

Bibir pantai yang seharusnya menjadi garis pemisah yang tenang, kini menjadi medan perang. Pasir pantai berwarna hitam pekat dipenuhi dengan sampah laut dan puing-puing kayu yang terbawa ombak, bersanding dengan sisa-sisa tembok dan fondasi bangunan yang tampak tak berdaya, roboh dan tinggal separuh setelah dihantam gelombang pasang berulang kali.

Karung-karung raksasa berisi pasir yang berfungsi sebagai tanggul darurat, ditumpuk seadanya untuk menahan amukan ombak.

Namun, tumpukan itu terlihat compang-camping dan tak mampu sepenuhnya membendung air laut yang setiap saat bisa naik, seperti yang diungkapkan salah seorang warga. 

Baca Juga: Belasan Rumah Rusak Akibat Abrasi, Warga Bintaro Mataram Berharap Segera Direlokasi 

Dampak abrasi di Kampung Bugis jauh melampaui sekadar kerusakan infrastruktur, ia merenggut tempat tinggal. Bagi Zainul (35), gelombang pasang yang menerjang adalah malapetaka pribadi.

Rumahnya kini sudah tak bisa ditempati lagi, menyisakan puing-puing yang tergerus di bibir pantai. 

"Sekarang tinggalnya di rumah mertua," ujar Zainul. 

Zainul mengisahkan, kerusakan rumahnya bukan terjadi dalam sekali gempuran, melainkan akumulasi dari serangan ombak yang datang berulang kali selama bertahun-tahun.

Upaya perbaikan yang dilakukan selalu sia-sia.

 "Di pinggir-pinggir rumah, selalu diperbaiki, rusak lagi," katanya, menggambarkan sebuah siklus tanpa akhir. 

Kerusakan yang paling sering terjadi dan menghabiskan tenaga serta biaya adalah pada bagian penahan dan atap. 

“Kadang-kadang terbalik, atapnya lagi dipasang, rusak lagi, gitu aja," tambahnya.

Bencana rob besar yang merusak rumahnya hingga tak bisa dihuni lagi biasanya terjadi satu kali dalam setahun, bertepatan dengan puncak musim ombak besar.

 Baca Juga: Abrasi Pantai Mataram Kian Kritis, Dana Darurat BTT Rp 5 Miliar

“Mungkin satu tahun itu satu kali. Soalnya kan tidak satu kali kayak gini ya. Sekarang bulan sebelas, besok lagi bulan tiga, nah dia datang lagi,” jelasnya. 

Namun, kali ini, nasib rumahnya berakhir tragis. Pintu dan temboknya menganga lebar langsung menghadap laut. 

Meskipun ancaman abrasi begitu nyata, kehidupan warga tetap berdenyut.

Anak-anak kecil masih bermain di atas pasir hitam yang basah, berlarian di antara puing dan perahu.

Warga masih berkumpul saling ngobrol di tengah sisa sisa teras mereka. 

“Coba side tinggal di sini semalam aja. Kalau malam, terus ada ombak itu rasanya kayak gempa. Gempa 3,5 skala richter,” ujar  Ita, seorang ibu-ibu yang memilih pindah dan ngontrak di tempat lain. 

Warga butuh solusi segera, berupa tanggul paten yang kuat, agar mereka tidak perlu lagi merasakan getaran gempa dari hantaman ombak yang selalu datang saat musim buruk tiba. (bersambung) 

 

Editor : Kimda Farida
#Ampenan #Abrasi #banjir rob