Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Terinspirasi TikTok, Annisa 'Goreng' Peluang Bisnis Tren Real Food

Sanchia Vaneka • Rabu, 26 November 2025 | 21:03 WIB

 

Annisa saat berjualan kukusan di Jalan Majapahit, depan Jasa Raharja.
Annisa saat berjualan kukusan di Jalan Majapahit, depan Jasa Raharja.

 

Berawal dari Jualan Ubi-ubian Polopendem

 Tren gaya hidup sehat (real food) yang semakin masif di kalangan masyarakat urban perlahan mulai muncul di Kota Mataram. Terbukti dengan hadirnya gerai sederhana, namun unik, yang menjajakan aneka makanan serba kukusan, mulai dari ubi, talas, hingga lauk pauk, lengkap dengan minuman rempah tanpa gula. Bisnis ini ternyata terinspirasi dari konten viral di media sosial.

 

SANCHIA VANEKA, Mataram 

 

Adalah Annisa Jasmine, wanita di balik usaha kukusan yang diberi nama “Kukusan” di Jalan Majapahit, tepat di depan Kantor Jasa Raharja. Setiap pagi, ia bersama adiknya, menggelar dagangan dengan dua set kukusan susun yang mengepulkan asap tipis, menampilkan aneka hasil bumi yang siap santap. Di kukusan pertama, tampak berjejer rapi ubi ungu, ubi madu, talas, hingga pisang. Sementara di kukusan lainnya, aneka sayuran segar dan lauk seperti ayam dan tempe tersaji apik.

 

Annisa menceritakan, ide bisnis yang terkesan "kembali ke alam" ini murni berawal dari sebuah video di aplikasi TikTok.

 

“Awalnya itu benar-benar terinspirasi dari TikTok. Ada mas-mas di Kediri, Jawa, yang jualan ubi-ubian kukus seperti ini. Di Lombok sepertinya belum ada yang jual, jadi saya bilang, coba deh di sini,” ujar Annisa sambil sesekali melayani pembeli yang datang.

Baca Juga: Juicy Juice & Salad Bar, Tempatnya Makanan Sehat di Mataram

 

Usahanya ini telah berjalan kurang lebih delapan bulan. Annisa memulai usahanya pada pertengahan April lalu. Awalnya, ia hanya menjual karbohidrat berupa ubi-ubian yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah ‘Polopendem’, artinya tumbuhan yang terpendam di dalam tanah. Namun, istilah itu ternyata kurang familiar bagi sebagian besar warga Lombok.

 

“Awalnya sepi sekali. Namanya juga membangunkan pasar, ya. Kami pernah minus, bahkan harus membuang barang berpuluh-puluh kilo karena dagangan kukusan ini tidak bisa dipakai lagi keesokan harinya,” kenangnya.

 

Titik balik datang ketika seorang pelanggan menyarankan agar nama dagangannya diganti menjadi lebih lugas.

 

“Pelanggan menyarankan, ganti saja Mbak pakai ‘Kukusan’ biar orang langsung ngeh (paham). Dan benar, setelah diganti, makin banyak yang tahu,” papar Annisa.

 

Seiring berjalannya waktu, keramaian mulai terasa. Ini bertepatan dengan lokasi jualannya yang strategis, dekat dengan beberapa perkantoran di Jalan Majapahit. Pelanggan awalnya didominasi oleh pegawai kantoran dan mereka yang sedang menjalani program diet.

 

Meskipun usahanya sangat selaras dengan tren real food atau makanan utuh tanpa proses berlebihan, Annisa jujur mengaku dirinya bukan pelaku diet atau penggiat real food. 

 

“Jujur saya hanya membaca kebutuhan pasar. Saya melihat, orang yang makan ubi pasti juga butuh sayur dan protein,” katanya.

 

Berangkat dari masukan pelanggan, Annisa kemudian menambah varian sayur, lauk pauk (protein), buah potong, hingga minuman rempah yang ia racik sendiri tanpa menggunakan gula pasir.

 

“Minuman kami tetap satu konsep. Minuman rempah, tapi gulanya menggunakan gula diet. Jadi semua produknya kami produksi sendiri, mulai dari makanan hingga minuman,” tegasnya. 

 Baca Juga: BPOM Perkuat Integritas Supplier untuk Cegah Keracunan di Program Makanan Bergizi

Ia menambahkan, semua penambahan menu adalah hasil riset dan masukan konsumen, seperti penambahan salad sayur yang ia masukkan ke dalam daftar menu.

 

Strategi pemasaran Annisa pun mengikuti arus tren digital. Setelah empat bulan beroperasi dan memiliki basis pelanggan tetap, barulah ia membuat konten di TikTok. 

 

“Konten itu justru kami buat setelah warung sudah ramai. Tujuannya untuk memperluas jangkauan traffic di luar Jalan Majapahit,” ungkapnya. 

 

Upaya ini berhasil mendatangkan pelanggan baru dari berbagai wilayah di Mataram, bahkan yang datang karena rasa penasaran setelah melihat di TikTok.

Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau, mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 5.000 per porsi untuk aneka makanan seperti tahu, tempe, pisang, hingga dada ayam kukus. Sementara untuk minuman, ia mematok harga Rp 10.000. 

 

Annisa buka setiap hari, Senin sampai Sabtu di Jalan Majapahit mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WITA, menyesuaikan dengan jam sarapan orang kantoran. Pada hari Minggu, ia pindah ke kawasan Car Free Day (CFD) Udayana.

 

“Ke depannya saya lihat potensi bisnis ini lumayan bagus, karena sudah banyak juga yang mulai jualan seperti ini di Mataram. Namanya usaha pasti dinamis, tinggal bagaimana kita terus berinovasi,” jelasnya. 

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Diet #lifestayle #makanan sehat #realfood