Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Ayam Naik di Mataram, Diduga Tersedot Kebutuhan MBG 

Sanchia Vaneka • Sabtu, 29 November 2025 | 17:16 WIB

 

Pedagamg ayam di Pasar Kebon Roek
Pedagamg ayam di Pasar Kebon Roek


LombokPost – Harga ayam potong di pasar Kota Mataram terus menunjukkan kenaikan signifikan dan belum kembali normal selama tiga bulan terakhir. Lonjakan harga ini diduga kuat dipicu oleh tingginya permintaan untuk memenuhi kebutuhan program pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lama.

“Iya sudah tiga bulan ini tidak turun-turun,” kata Nida, sapaan akrab Sri Wahyunida. 

Menurut Nida, saat ini harga daging ayam segar di tingkat pengecer sudah mencapai Rp 40 ribu hingga Rp 42 ribu per kilogram. Angka ini jauh melampaui harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp 32 ribu sampai Rp 35 ribu.

Hasil tinjauan Disdag Mataram ke distributor, seperti CV Cendana, mengidentifikasi dua faktor utama penyebab lonjakan harga ayam naik:

* Berkurangnya Pasokan Panen:
* Pasokan harian dari distributor berkurang drastis. Jika sebelumnya distributor bisa memotong seribu ekor per hari, kini hanya sekitar 600 ekor.
* Tingginya Permintaan Pasar (Program MBG):
* Distributor mengakui adanya peningkatan permintaan besar, terutama dari pihak yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Pengakuan dari distributor, permintaan dari pihak MBG ini sangat tinggi. Bahkan, ada komunikasi yang menyebutkan mereka mengambil daging ayam segar hingga tiga kali dalam seminggu," jelas Nida.

Baca Juga: BPS NTB Ingatkan Pemda Jangan Sampai MBG Picu Inflasi

Kenaikan ini terjadi di seluruh rantai pasok. Harga di tingkat distributor kini sudah melambung tinggi, mencapai Rp 36 ribu hingga Rp 37 ribu per kilogram, padahal sebelumnya hanya sekitar Rp 26 ribu.

Secara otomatis, kondisi ini mendorong harga ayam potong di pasar tradisional menembus Rp 40 ribu ke atas.

Meskipun pengambilan daging ayam segar untuk MBG dilakukan di tingkat distributor, Nida menegaskan bahwa hal tersebut berdampak langsung pada konsumen di pasar tradisional.

“Tentu saja ini berdampak. Yang dipakai itu kan daging ayam segar. Dan kita sebagai konsumen di pasar tradisional pasti mencari ayam segar,” imbuhnya.

Sebagai langkah antisipasi, distributor menyediakan pasokan ayam beku sebagai alternatif dengan harga yang lebih stabil, yakni sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Disdag Mataram berharap pasokan ayam beku ini dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan sektor lain (seperti hotel dan restoran) agar tidak terlalu bergantung pada ayam segar.

Selain harga ayam naik, harga telur juga terpantau masih tinggi. Hal ini juga dikaitkan dengan tingginya permintaan dari dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis, mengingat telur dan daging ayam merupakan menu pokok dalam program tersebut.

“Ya salah satunya permintaan tinggi juga,” tandasnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Inflasi #Mbg #Mataram #bapok #daging ayam