Langkah ini langsung memicu reaksi publik internasional yang mempertanyakan relevansi dan sensitivitas keputusan tersebut. Di tengah perang yang belum berakhir, terutama konflik Israel–Palestina, pemberian FIFA Peace Prize ke Donald Trump dianggap menghadirkan ironi besar bagi dunia olahraga.
FIFA menyampaikan bahwa penghargaan perdana ini diberikan sebagai simbol dedikasi terhadap upaya perdamaian.
Namun, banyak pengamat menilai bahwa pemberian FIFA Peace Prize ke Donald Trump justru berlawanan dengan realitas geopolitik yang diwarnai eskalasi konflik dan ketegangan antarnegara.
Dunia tengah bergulat dengan krisis kemanusiaan, sementara langkah FIFA malah membuka babak baru kontroversi yang melibatkan politik internasional.
Baca Juga: VAR Diberi Kewenangan Lebih di Piala Dunia 2026, FIFA Pertimbangkan Aturan Baru
Pemberian penghargaan ini juga menempatkan FIFA dalam sorotan tajam. Organisasi yang selama ini mengedepankan netralitas olahraga kini dituding semakin melekat dengan agenda politik global.
Para pengamat menilai bahwa keputusan ini menciptakan jarak antara propaganda seremoni perdamaian dan fakta konflik, sehingga FIFA Peace Prize ke Donald Trump semakin dipandang sebagai simbol ironi moral di era ketidakpastian dunia.
Kritik juga datang dari komunitas olahraga yang menilai bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang pemersatu dan bukan panggung untuk memilih figur-figur politik kontroversial.
Situasi ini menyulut diskusi publik yang lebih luas terkait hubungan sepak bola, diplomasi, dan realitas global. Pada akhirnya, pemberian FIFA Peace Prize ke Donald Trump di tengah konflik yang terus membara menjadi potret paradoks antara idealisme olahraga dan kompleksitas geopolitik modern.
Editor : Siti Aeny Maryam