Kemitraan antara Amazon dan OpenAI ini menunjukkan bahwa kompetisi di sektor AI saat ini tidak hanya berfokus pada produk akhir, melainkan pada penguasaan rantai pasok komputasi, pengembangan cip, hingga pusat data.
Berdasarkan laporan Fortune, Amazon tengah dalam pembicaraan untuk menanamkan modal sebesar USD 10 miliar atau setara dengan Rp 167,2 triliun. Kesepakatan strategis ini berpotensi mendorong valuasi OpenAI melampaui angka USD 500 miliar (sekitar Rp 8.358 triliun).
Namun, langkah ini menuai kritik dari sejumlah pengamat industri. Charles Fitzgerald, seorang investor infrastruktur komputasi awan dan mantan karyawan Microsoft, menilai kesepakatan tersebut bersifat administratif semata.
Baca Juga: Fokus Memenangi Perang Video Berbasis AI, Netflix Akuisisi Warner Bros Senilai Rp 1.199 Triliun
”Ini adalah kesepakatan palsu, atau kalau mau lebih sopan, ini hanyalah sebuah kerangka,” ujarnya kepada Fortune. Ia menekankan bahwa OpenAI saat ini tidak memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi komitmen belanja komputasi skala besar yang telah diumumkan sebelumnya.
Mekanisme Pembiayaan Sirkular
Dalam praktiknya, rencana investasi Amazon ini dipandang sebagai bentuk pembiayaan sirkular. Dana sebesar USD 10 miliar tersebut diprediksi akan mengalir dari neraca Amazon ke OpenAI, untuk kemudian kembali lagi ke unit bisnis Amazon Web Services (AWS) sebagai pembayaran atas kapasitas komputasi.
”Ini memang terlihat seperti pembiayaan melingkar, tetapi mereka harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan dananya,” kata Fitzgerald. Bagi Amazon, mekanisme ini tetap memungkinkan perusahaan untuk mencatatkan pendapatan baru melalui layanan cloud.
Anshel Sag, analis utama di Moor Insights & Strategy, melihat fenomena ini sebagai konsekuensi dari tingginya biaya pengembangan teknologi AI mutakhir.
“Banyak ekonomi sirkular yang terjadi saat ini. Dengan melakukan investasi finansial, risiko memang meningkat, tetapi juga menciptakan jaring pengaman,” tutur Sag.
Kebutuhan Kapasitas Komputasi dan Kredibilitas
Bagi OpenAI, kesepakatan ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan kapasitas komputasi yang lebih besar. Ketergantungan yang tinggi pada Nvidia dan Microsoft mendorong OpenAI untuk menjajaki opsi infrastruktur lain, termasuk penggunaan cip Trainium dan Inferentia milik Amazon, meski performanya dinilai belum setara dengan cip generasi terbaru dari Nvidia.
Di sisi lain, bagi Amazon, investasi ini merupakan pertaruhan besar untuk memperkuat kredibilitas di pasar AI generatif. Meskipun berstatus sebagai penyedia layanan cloud terbesar di dunia, Amazon dinilai masih tertinggal dalam persepsi publik sebagai pemain utama AI.
”ChatGPT masih dipandang sebagai acuan utama industri AI. Jika OpenAI menggunakan perangkat keras Anda dalam skala besar, hal itu menjadi bentuk pengakuan yang sangat kuat,” beber Sag.
Editor : Redaksi Lombok Post