LombokPost – Lonjakan harga emas ANTAM sebesar Rp 90.000 dalam sehari hingga mencapai Rp 2.880.000/gram per 23 Januari 2026, memicu dilema besar di kalangan masyarakat: Apakah ini waktu yang tepat untuk masuk, atau justru awal dari kerugian?
Kapan Membeli Emas Saat Harga Tinggi Terasa Rugi?
Membeli emas di puncak harga (ATH) akan menjadi bumerang jika orientasi adalah jangka pendek.
Jika membeli hari ini dengan harapan untung dalam hitungan minggu, sangat rentan terhadap koreksi harga.
Risiko terbesar adalah saat terpaksa menjual kembali emas tersebut menggunakan dana kebutuhan sehari-hari saat harga sedang turun.
Kapan Membeli Emas Saat Harga Naik Justru Menguntungkan?
Sejarah membuktikan bahwa emas adalah pelindung nilai (safe haven) terbaik. Membeli saat harga naik tetaplah langkah cerdas.
Orientasi Jangka Panjang: Emas ideal disimpan minimal 3 hingga 5 tahun. Dalam rentang ini, fluktuasi harian akan tertutupi oleh tren kenaikan nilai emas secara historis.
Menggunakan Uang Dingin: Memakai dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat membuat tidak panik saat harga terkoreksi.
Pelindung Inflasi: Di tengah volatilitas ekonomi 2026, emas menjaga daya beli tetap utuh dibandingkan menyimpannya dalam bentuk tunai.
Jangan terjebak fenomena FOMO (Fear of Missing Out) tanpa strategi.
Manfaatkan kemudahan Antrean Online ANTAM atau fleksibilitas Tabungan Emas Pegadaian untuk mencicil kepemilikan emas secara disiplin.
Emas bukan tentang seberapa murah membelinya, tapi tentang seberapa lama mampu mempertahankannya.
Editor : Kimda Farida