Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmat, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan puluhan titik observasi di berbagai wilayah di Tanah Air.
“Ada 96 lokasi pemantauan hilal di seluruh Indonesia,” kata Abu Rokhmat, Senin (9/2/2026).
Menunggu Hasil Konvergensi Hisab dan Rukyat
Abu Rokhmat mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah. Ia menekankan pentingnya proses sidang isbat sebagai wadah verifikasi data astronomis di lapangan.
“Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal,” katanya.
Berdasarkan perhitungan teknis, ijtimak atau konjungsi menjelang Ramadan tahun ini diprediksi terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.01 WIB. Data menunjukkan bahwa saat matahari terbenam pada hari tersebut, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk.
Ketinggian hilal terpantau berkisar antara -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, dengan sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik.
Secara teoretis, jika hilal berada di bawah ufuk pada tanggal 17 Februari, maka hilal belum wujud atau mustahil untuk diamati. Kondisi ini memungkinkan bulan Syaban digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada laporan petugas di lapangan. Jika tidak ada yang melihat hilal, puasa dimulai tanggal 19 Februari. Sebaliknya, jika ada petugas yang berhasil melihat hilal pada 17 Februari, maka awal puasa jatuh pada 18 Februari.
Di sisi lain, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadan 2026 jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Perbedaan potensi tanggal ini muncul karena perbedaan metode penetapan. Ahli astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa Muhammadiyah kini menggunakan Kalender Hijriah Global (KHG).
Dengan metode KHG, patokan yang digunakan adalah posisi hilal secara global, bukan lagi regional Indonesia semata. Artinya, meski di Indonesia hilal masih di bawah ufuk, jika di belahan dunia lain hilal sudah berada di atas ufuk, maka pergantian bulan dianggap sudah terjadi.
Hal inilah yang mendasari penetapan Muhammadiyah pada 18 Februari, sementara pemerintah masih harus menunggu hasil rukyatul hilal secara nasional pada 17 Februari mendatang.
Editor : Redaksi Lombok Post