Lembaga tersebut menerima dana Rp 13 miliar anggaran tahun 2025. Sebanyak Rp 9 miliar di antaranya berasal dari BPRS Dinar Ashri (Bank Dinar), terdiri atas zakat perusahaan Rp 1,3 miliar dan dana corporate social responsibility (CSR).
Direktur Utama Bank Dinar Mustaen menegaskan, dukungan itu merupakan bagian dari penguatan ekosistem syariah sekaligus komitmen menjawab persoalan sosial.
“Total penerimaan MIM Foundation Rp 13 miliar. Rp 9 miliar di antaranya dari Bank Dinar. Karena itu kami mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut menyalurkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf melalui MIM Foundation,” ujarnya.
Menurutnya, partisipasi publik menjadi kunci agar manfaat program semakin luas. Apalagi dana wakaf yang dikelola akan diputar kembali untuk kepentingan umat.
“Kalau korporasi, keuntungan kembali ke pemilik. Tapi wakaf, hasilnya kembali ke umat,” jelasnya.
Bangun Industri Ayam Halal
Tak hanya program sosial, MIM Foundation juga menyiapkan sektor produktif melalui pembangunan industri peternakan ayam pedaging di Lombok Timur. Lembaga ini akan membeli aset dan kandang, sekaligus membangun rumah produksi dan fasilitas pengemasan.
Industri tersebut dirancang memenuhi standar syariat dan aspek kehalalan secara menyeluruh, mulai dari proses penyembelihan hingga distribusi.
Produk ayam halal itu nantinya disalurkan ke rumah makan, pelaku usaha ayam geprek, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Prosesnya harus sesuai syariat dan memenuhi aspek kehalalan secara menyeluruh,” tegas Mustaen.
Audit dan Dampak Berkelanjutan
Ketua MIM Foundation Romi Saefuddin memastikan pengelolaan dana dilakukan secara transparan. Saat ini, lembaganya tengah menjalani audit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP), dan hasilnya akan segera diumumkan.
“Ini untuk menjaga amanah pengelolaan anggaran,” katanya.
Romi menyebut, tema program 2026 adalah endless impact atau dampak berkelanjutan. Fokus utama tetap pada penguatan wakaf produktif, khususnya sektor ketahanan pangan yang selaras dengan program pemerintah.
“Kami ingin ekosistem syariah ini memiliki kekuatan, manfaat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pada 2026, dana yang dikelola akan dibagi ke empat hingga lima program prioritas. Salah satunya, Rp 2,5 miliar sumbangan Bank Dinar dialokasikan untuk Program Ramadan 2026.
Program tersebut meliputi belanja bersama anak yatim, distribusi sembako bagi petugas kebersihan Kota Mataram, paket bantuan difabel, hingga gerakan bersih-bersih masjid.
Tahun ini, MIM juga menyiapkan dua unit armada yang beroperasi setiap hari membersihkan masjid di Lombok Timur dan Mataram. Selain itu, sebanyak 9.000 dus air mineral akan disalurkan ke masjid-masjid di Pulau Lombok hingga Sumbawa.
“Setiap masjid akan menerima 20–50 dus sesuai kategori. Ada masjid raya dan masjid lainnya,” tutup Romi.
Editor : Marthadi