Melalui tajuk "Bersama Menjaga Jejak Leluhur", sekolah ini resmi menggandeng Majelis Adat Sasak (MAS) untuk menghidupkan kembali kecintaan siswa terhadap Aksara Sasak.
Kepala SMAN 9 Mataram, Nengah Istiqomah, M.Pd, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan benteng pertahanan identitas di era globalisasi.
Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan aksara daerah sebagai bagian hidup para siswa, bukan sekadar pajangan sejarah.
Bukan sekadar teori, kerja sama dengan MAS bertujuan agar siswa dapat memahami filosofi mendalam di balik setiap lekukan aksara, bukan hanya cara menulisnya.
Ditambah lagi, kehadiran tokoh adat memberikan bobot edukasi yang lebih autentik dan emosional bagi peserta didik. Dan program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap jati diri lokal.
"Aksara Sasak adalah cerminan peradaban dan nilai masyarakat kita. Kami ingin siswa memaknainya sebagai sebuah kebanggaan, bukan sekadar materi pelajaran," ungkap Istiqomah.
Antusiasme siswa terlihat meningkat seiring dengan metode pembelajaran yang lebih interaktif. Dengan memahami aspek filosofisnya, para siswa kini mulai melihat Aksara Sasak sebagai identitas yang harus dijaga martabatnya.
Sebagai penutup, Istiqomah menegaskan bahwa upaya yang dilakukan hari ini adalah investasi masa depan. Ia percaya bahwa dengan merawat aksara, sekolah turut serta menjaga martabat budaya agar tetap dikenal oleh generasi-generasi mendatang.
Editor : Siti Aeny Maryam