LombokPost - Menjelang Ramadan 1447 H, suasana di berbagai Tempat Pemakaman Umum (TPU) mulai tampak berbeda.
Salah satunya di TPU Rembiga seorang pengunjung Sekar Setiawati, Mataram, menjadi salah satu yang datang nyekar.
Di mana hilir mudik peziarah mulai memadati area pemakaman untuk melakukan tradisi "Nyekar".
Bagi masyarakat Indonesia, ziarah makam bukan sekadar kunjungan fisik atau ritual membersihkan nisan.
Ini adalah momen "jeda" untuk berefleksi, mengingat akhirat, dan menyambung doa bagi mereka yang telah berpulang sebelum kita memasuki bulan suci.
Mengapa Harus Ziarah Sebelum Puasa?
Ziarah makam memiliki dimensi spiritual yang dalam.
Mendoakan Leluhur: Bentuk bakti anak cucu memohonkan ampunan bagi kerabat agar mendapat tempat terbaik.
Pembersihan Jiwa: Pengingat bahwa dunia hanya sementara, sehingga hati menjadi lebih lembut dan siap menyambut bulan suci.
Ajang Silaturahmi: Tak jarang, area pemakaman menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar yang jarang bertemu untuk saling memaafkan.
Baca Juga: Makam Pahlawan Majeluk Menyimpan Banyak Kisah
Sekar Setiawati, menuturkan bahwa kegiatan ini adalah agenda wajib keluarga.
"Kami rutin ke sini, apalagi banyak anggota keluarga yang dimakamkan di satu lokasi yang sama, jadi sekali jalan semua terziarahi," ujarnya.
Waktu Terbaik: Biasanya dilakukan sepekan hingga sehari sebelum menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh.
Donasi Kebersihan: Jika ada petugas kebersihan makam, berikan sekadarnya sebagai bentuk apresiasi atas bantuan mereka menjaga pusara keluarga.
Nyekar adalah kunjungan secara spiritual kepada orang-orang terkasih sebelum fokus beribadah satu bulan penuh.
Selamat menyambut Ramadan, semoga doa-doa tersampaikan dengan sempurna.
Editor : Pujo Nugroho