Sapaan itu terdengar lebih akrab, jauh dari kesan formal yang selama ini melekat pada program santunan.
Di Masjid Jalan Cahaya, 61 anak asuh dipanggil dengan sebutan "Teman Yatim”. Sebuah upaya dekonstruksi istilah untuk meruntuhkan sekat sosial dan membangun kedekatan emosional yang lebih humanis.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Sore itu, suasana di sekitar Masjid Jalan Cahaya terasa begitu nyaman. Semilir angin sepoi-sepoi membawa kesegaran di tengah cuaca Mataram yang cukup terik.
Di halaman masjid, belasan anak tampak riang gembira. Mereka berlarian kecil, tertawa lepas, mengejar bola plastik yang menggelinding di atas aspal. Binar mata mereka begitu jernih, mencerminkan kepolosan dan keceriaan khas anak-anak.
Di balik tawa renyah itu, mereka membawa status yang dalam ajaran Islam begitu dalam dan dimuliakan, yakni Yatim. Mereka adalah anak-anak yang telah kehilangan figur ayah, sang pelindung dan pencari nafkah. Kehilangan yang tak kasat mata namun begitu nyata dalam setiap jengkal kehidupan mereka.
Namun, di Masjid Jalan Cahaya ini, kesedihan itu seakan tak diberi ruang untuk berlama-lama hinggap. Di lembaga ini, mereka tidak pernah disematkan label sebagai anak binaan atau penerima bantuan. Sebaliknya, mereka dipanggil dengan sapaan yang jauh lebih hangat dan bermartabat, yakni teman yatim.
“Sapaan itu bukan tanpa alasan,” kata Faihrorrozy, Koordinator Program Masjid Jalan Cahaya, dengan lembut, Sabtu (7/3).
Atas dasar itulah, Masjid Jalan Cahaya membangun sebuah ekosistem pendidikan karakter yang komprehensif. Saat ini, terdapat 61 anak yatim yang bernaung di bawah payung program ini.
Jika ditambah dengan ibu mereka yang turut serta dalam pembinaan, total ada 122 penerima manfaat.
Angka yang cukup besar, menunjukkan kepercayaan masyarakat yang begitu tinggi terhadap lembaga ini.
Anak-anak dan ibu mereka datang dari berbagai wilayah, melintasi batas kota dan kabupaten.
Bukan hanya dari wilayah di sekitar masjid, tapi juga dari Perampuan, Batu Ringgit, hingga Kediri dan Gunung Sari di Lombok Barat.
Jarak yang jauh tak menyurutkan semangat mereka untuk mereguk ilmu di masjid yang menjadi oase kebaikan ini.
“Yang membedakan kami adalah pembinaan menyeluruh. Kami tidak hanya mengajarkan mereka bagaimana caranya membaca Alquran, tapi kami juga menjaga ibadah mereka agar selalu tertib. Kami ingin menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, agar menjadi landasan kuat bagi karakter mereka,” jelasnya.
Yang paling unik, lanjut Rozy, adalah adanya Kelas Talenta. Di kelas ini, anak-anak tidak diminta untuk duduk diam dan mendengarkan ceramah yang membosankan.
Sebaliknya, mereka dibebaskan untuk mengeksplorasi bakat dan imajinasi mereka di ruang terbuka.
“Kami ingin fitrah kesehatan dan kreativitas mereka tumbuh seimbang. Setiap pekannya, menu kegiatan di Kelas Talenta selalu berbeda. Mulai dari menggambar, melukis, membuat kerajinan tangan, hingga kegiatan luar ruangan yang seru dan menyenangkan,” tambahnya.
Melalui berbagai kegiatan ini, Masjid Jalan Cahaya berharap anak-anak ini tidak merasa berbeda dengan anak-anak lainnya.
Mereka ingin agar Teman Yatim tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi, menyadari bahwa mereka memiliki potensi yang luar biasa.
Meski fokus pada pendidikan, sisi ekonomi tetap diperhatikan dengan cara yang sangat manusiawi. Masjid Jalan Cahaya memahami betul beban berat yang harus dipikul oleh seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal. Oleh karena itu, setiap pertemuan pekanan, tiap anak diberikan uang transportasi sebesar Rp 25.000.
Jumlah yang mungkin tak seberapa bagi sebagian orang, tapi begitu bermakna bagi mereka.
Tak hanya itu, sebulan sekali, mereka menerima "Paket Nutrisi" yang nilainya jika dirupiahkan mencapai Rp 1.000.000 per orang per bulan jika ditotal.
Paket ini berisi beras, minyak, daging, telur, hingga nugget dan buah-buahan.
“Kami menyebutnya paket nutrisi karena kami ingin memastikan pertumbuhan fisik mereka terjaga. Kami bertanggung jawab atas kesehatan mereka, layaknya orang tua sendiri,” katanya. (bersambung)
Editor : Kimda Farida