LombokPost—Kasus gangguan saluran pencernaan di masyarakat terus meningkat seiring perubahan pola hidup yang cenderung tidak sehat.
Kondisi ini mendorong perlunya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan kasus digestif secara cepat, tepat, dan terintegrasi.
Menjawab kebutuhan tersebut, RS Siloam Mataram menggelar Digestive Collaboration Symposium bersama RS Siloam Bali di Hotel Prime Park Mataram, Minggu (19/4).
Kegiatan bertajuk “Unlocking Digestive Mystery: From Scope to Scalpel” ini diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari dokter, perawat, serta tenaga kesehatan dari berbagai rumah sakit dan puskesmas di Pulau Lombok.
Direktur RS Siloam Mataram Arum Ratna Pratiwi mengatakan, kegiatan ini menjadi wadah peningkatan kompetensi tenaga medis, khususnya dalam memahami penanganan penyakit saluran cerna berbasis teknologi terkini.
Baca Juga: Dana Lelang MotoGP Bantu Tekan Stunting, ITDC Intervensi Penurunan Stunting di Desa Rembitan
“Topik yang dibahas terkait endoskopi, mulai dari tujuan pemeriksaan hingga manfaatnya untuk pasien dewasa maupun anak. Selain itu, pemateri juga memberikan insight terkait layanan yang perlu ditingkatkan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya di sela kegiatan.
Dalam simposium tersebut, para narasumber memaparkan perkembangan terbaru di bidang digestif, termasuk science updates on advanced endoscopy, yakni teknik pemeriksaan organ dalam tanpa tindakan operasi besar.
Selain itu, turut dibahas pula pengembangan bedah minimal invasif yang kini menjadi tren dalam dunia medis.
Sejumlah dokter spesialis dari RS Siloam Bali dan RS Siloam Mataram hadir sebagai pemateri, di antaranya dr Ni Nyoman Metriani Nesa, dr Haris Widita, dr I Ketut Mariadi, dan dr M Farizka Firdaus.
Baca Juga: Partai Kakbah Kembali Terbelah
Arum menegaskan, layanan digestif merupakan salah satu unggulan di jaringan RS Siloam.
Karena itu, pihaknya terus melakukan inovasi, termasuk penguatan fasilitas dan teknologi medis.
“Saat ini kami sudah memiliki layanan bedah minimal invasif atau laparoskopi. Ke depan, kami juga akan menambah fasilitas endoskopi untuk menunjang diagnosis yang lebih akurat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kolaborasi antar tenaga kesehatan, mulai dari lini pertama seperti puskesmas hingga rumah sakit rujukan.
Hal ini dinilai krusial agar proses diagnosis dan rujukan pasien dapat berjalan lebih cepat dan tepat.
“Dengan melibatkan dokter dari berbagai fasilitas layanan kesehatan, diharapkan alur rujukan bisa lebih efektif sehingga pasien mendapatkan penanganan optimal,” tambahnya.
Baca Juga: Kontingen Angkat Besi NTB Tampil Perkasa di Kejurnas Senior 2026, Lifter NTB Borong 7 Medali
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Humas Rumah Sakit Indonesia (Perhumasri) NTB, Akhmad Habsari, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, simposium ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antar fasilitas kesehatan di daerah.
“Kegiatan ini menjadi jembatan informasi antar rumah sakit sekaligus sarana edukasi bagi tenaga kesehatan dan masyarakat,” katanya.
Ia pun mendorong agar kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan di sektor kesehatan.
“Harapannya, informasi layanan kesehatan bisa semakin luas diketahui masyarakat, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan di rumah sakit,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida