LombokPost--Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram mulai merencanakan penataan lapak pedagang di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan.
Langkah ini diambil untuk menciptakan kawasan yang lebih tertib, nyaman, dan estetis, sekaligus mencegah menjamurnya lapak liar di sepanjang jalur jogging track.
Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahayadi menjelaskan, konsep penataan tidak sekadar mengatur lokasi berjualan, tetapi juga menyeragamkan desain bangunan.
Salah satu rencana terdekat adalah menyamakan model atap lapak dan memusatkannya di satu titik tertentu.
“Kita rencanakan membuat atap yang seragam supaya lebih rapi dan terpusat di satu titik,” kata Denny.
Baca Juga: SMPN 14 Mataram Terganggu dengan Keberadaan Pedagang Kaki Lima di Depan SekolaSekolahh
Menurutnya, aktivitas ekonomi masyarakat di RTH Pagutan memang perlu difasilitasi.
Meski demikian, fungsi utama kawasan sebagai ruang publik dan sarana olahraga warga tidak boleh terganggu.
Selama ini, banyak pedagang yang mendirikan lapak secara mandiri di sepanjang jalur jogging track, sehingga mempersempit akses pejalan kaki.
"Tujuannya supaya pedagang tetap bisa berjualan, tetapi kawasan juga tetap nyaman untuk masyarakat yang datang berolahraga atau sekadar bersantai," imbuhnya.
Saat ini, RTH Pagutan menjadi salah satu ruang publik favorit, tidak hanya bagi warga Kota Mataram tetapi juga dari luar daerah.
Lonjakan pengunjung pada pagi dan sore hari membuat penataan kawasan menjadi kebutuhan yang mendesak.
Dalam jangka panjang, DLH memproyeksikan kawasan ini memiliki lapak permanen layaknya sentra kuliner di Eks Pelabuhan Ampenan.
Namun, Denny mengakui rencana tersebut belum bisa dieksekusi dalam waktu dekat akibat keterbatasan fiskal daerah.
Baca Juga: Pemkot Mataram Batal Tarik Retribusi dari Pedagang Kaki Lima
"Niatnya memang ke arah sana (permanen), tetapi kita lihat nanti kalau memang ada kemampuan keuangan daerah supaya bisa terakomodasi," jelasnya.
Sebagai langkah awal, DLH saat ini mulai membangun pondasi lapak dengan melakukan penimbunan tanah secara bertahap.
Menariknya, proses pembangunan ini melibatkan kontribusi aktif dari para pedagang.
Pembangunan atap lapak nantinya akan dilakukan secara swadaya oleh pedagang melalui sistem iuran.
Begitu pula dengan proses pengurukan tanah yang sedang berjalan saat ini.
"Kalau untuk urukan tanahnya itu swadaya pedagang," pungkasnya.
Keterlibatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki di kalangan pedagang, sehingga mereka turut berkomitmen menjaga kebersihan dan ketertiban RTH Pagutan ke depan.
Editor : Kimda Farida