LombokPost - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram menyiapkan satuan tugas (satgas) lapangan menertibkan keberadaan badut jalanan yang kembali marak di sejumlah persimpangan jalan. Beberapa titik yang menjadi perhatian antara lain Simpang Empat Panaraga di Jalan Sriwijaya dan Simpang Empat Sweta di Jalan Selaparang.
Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Muzakkir Walad, mengatakan langkah pembentukan satgas dilakukan sebagai upaya awal mengatasi fenomena tersebut. “Penanganan persoalan ini sebenarnya idealnya dilakukan secara terpadu bersama instansi terkait. Namun, kami mencoba menginisiasi langkah awal melalui satgas,” ujarnya, Rabu (11/6).
Menurutnya, apabila dalam pelaksanaan penertiban ditemukan praktik mengemis, meminta uang secara paksa, atau tindakan lain yang mengarah pada pelanggaran hukum, maka penanganannya dapat melibatkan aparat kepolisian. Ia menjelaskan, sebelumnya telah beberapa kali melakukan operasi penertiban terhadap manusia silver maupun badut jalanan.
Dalam operasi tersebut, para pelaku diberikan pembinaan dan pendataan sebelum dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Bahkan, pada penertiban sebelumnya, petugas sempat menyita sejumlah kostum badut sebagai bentuk peringatan agar para pelaku tidak kembali beraktivitas di jalan.
Meski demikian, upaya penanganan secara permanen masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu yang paling krusial keterbatasan anggaran untuk program pemberdayaan ekonomi bagi para pelaku.
Muzakkir mengakui, penertiban tanpa diikuti solusi pemberdayaan berisiko membuat mereka kembali turun ke jalan. “Kami bisa saja melakukan razia, tetapi setelah itu mereka akan kembali dengan alasan tidak memiliki pekerjaan,” katanya.
Hasil penertiban yang dilakukan selama ini juga menunjukkan sebagian besar manusia silver dan badut jalanan yang beroperasi di Kota Mataram berasal dari luar daerah. Beberapa di antaranya bahkan merupakan pelaku berulang yang pernah ditertibkan sebelumnya.
Menurut Muzakkir, fenomena tersebut dipengaruhi perubahan tren di kalangan pengamen jalanan. Sejumlah pelaku yang sebelumnya beraktivitas sebagai manusia silver beralih menggunakan kostum badut karena dinilai lebih menarik perhatian pengguna jalan.
“Karena sudah lama tidak terlihat di jalan, kemudian mereka melihat temannya yang sebelumnya menjadi manusia silver beralih menjadi badut, akhirnya ikut kembali turun ke jalan,” ungkapnya.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Emile Heskey Khawatirkan Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Performa Timnas Inggris
Ia berharap langkah penertiban yang akan dilakukan satgas dapat menekan aktivitas manusia silver dan badut jalanan di sejumlah persimpangan. Namun, penyelesaian persoalan tersebut dinilai membutuhkan dukungan lintas sektor, terutama penyediaan program pemberdayaan agar para pelaku memiliki alternatif mata pencaharian selain bekerja di jalanan.
“Kami berharap ada penanganan yang lebih komprehensif sehingga mereka tidak kembali lagi ke jalan setelah ditertibkan,” tutup Muzakkir.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin