Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sering Dengar Ibu Muda Kebingungan Baca Buku KIA, Nakes Ramah Ini Lahirkan Inovasi 'Mistar Ajaib'

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 12 Juni 2026 | 01:28 WIB
Mimin Minkhatul Maula S.Kep, Ners. saat menggunakan MANDALIKA SIP, media edukasi berbentuk mistar yang membantu orang tua memahami jadwal imunisasi anak di wilayah kerja Puskesmas Ampenan, beberapa waktu lalu.
Mimin Minkhatul Maula S.Kep, Ners. saat menggunakan MANDALIKA SIP, media edukasi berbentuk mistar yang membantu orang tua memahami jadwal imunisasi anak di wilayah kerja Puskesmas Ampenan, beberapa waktu lalu.

 

 

Tidak semua orang tua kesulitan datang ke posyandu. Kadang yang sulit justru memahami jadwal imunisasi itu sendiri.

 

___

 

“ANAK saya sekarang usia berapa ya Bu?”

 

Pertanyaan itu berkali-kali didengar Mimin Minkhatul Maula S.Kep, Ners. di meja pelayanan posyandu.

 

 Baca Juga: Tak Perlu Nunggu Ulang Tahun, Layanan Cek Kesehatan Gratis Mataram Kini Hadir di Lokasi Ini

Di hadapannya, seorang ibu muda tampak membolak-balik buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Matanya bergerak dari satu halaman ke halaman lain.

 

Sesekali berhenti di sebuah tabel. Lalu berpindah lagi ke halaman berikutnya.

 

Di sana ada deretan nama vaksin, jadwal pemberian, usia anak, hingga catatan kesehatan yang memenuhi hampir setiap lembar buku. “Sebentar ya, Bu. Kita lihat dulu,” kata Mimin sambil membantu mencari jadwal imunisasi yang sesuai.

 

Sebagai perawat yang bertanggung jawab terhadap program imunisasi sejak 2020, Mimin memahami persoalan imunisasi tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan vaksin atau akses pelayanan. Kadang persoalannya jauh lebih sederhana: orang tua tidak memahami jadwal imunisasi yang harus diterima anaknya.

 

Dari kegelisahan itulah lahir MANDALIKA SIP atau Mistar Andalan Imunisasi Kita Sebagai Upaya Strategi Komunikasi yang Komprehensif. Ini inovasi lahir dari karya Mimin.

 

 

Baca Juga: Ducati Tembus 100 Kemenangan MotoGP, Marc Marquez Ukir Sejarah di Hungaria

Bentuknya sederhana. Hanya sebuah mistar. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan upaya menerjemahkan kerumitan jadwal imunisasi ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

 

“Jadi sebenarnya ini penyederhanaan dari buku KIA. Yang tadinya berbentuk banyak tabel dan grafik dibuat menjadi lebih sederhana,” jelasnya, pada Lombok Post.

 

Pada mistar tersebut, angka usia anak ditampilkan secara berurutan. Di bawah setiap angka tertera jenis imunisasi yang harus diterima anak pada usia tertentu.

 

Saat menunjukkan usia satu bulan, misalnya, mistar langsung menampilkan vaksin BCG dan Polio yang harus diberikan. Pada usia dua bulan, orang tua dapat langsung melihat jenis imunisasi berikutnya tanpa perlu membuka banyak halaman buku.

 

Menurut Mimin, konsep itu muncul setelah dirinya melihat sebagian besar orang tua datang ke posyandu hanya untuk memperoleh layanan imunisasi. Lalu setelahnya pulang tanpa sempat membaca informasi yang tersedia dalam buku KIA.

 

Baca Juga: Dewan Dian Khawatir LGBT Berdampak pada Generasi Muda

 

“Ketika sekali lihat, mereka langsung tahu. Oh usia dua bulan dapat imunisasi ini, usia sembilan bulan dapat imunisasi ini. Lebih mudah dibandingkan membaca tabel yang panjang,” terangnya.

 

Bentuknya yang ringkas juga membuat media tersebut mudah dibawa ke mana-mana. Baik petugas kesehatan maupun kader posyandu cukup membawa satu mistar saat melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat.

 

Namun MANDALIKA SIP bukan sekadar alat pengingat jadwal imunisasi. Di baliknya terdapat strategi komunikasi yang dirancang agar orang tua memperoleh seluruh informasi imunisasi sejak kunjungan pertama.

 

Ketika seorang ibu datang membawa bayi untuk imunisasi, Mimin tidak hanya menjelaskan vaksin yang diberikan hari itu. Ia juga menjelaskan seluruh rangkaian imunisasi yang akan diterima anak hingga usia dua tahun.

 

Baca Juga: Dewan Dian Khawatir LGBT Berdampak pada Generasi Muda

Mulai usia dua bulan, tiga bulan, empat bulan, sembilan bulan, dua belas bulan hingga delapan belas bulan. “Saya jelaskan semuanya sejak awal. Jadi ibu sudah punya gambaran lengkap sampai usia dua tahun,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menjelaskan efek samping yang mungkin muncul setelah imunisasi. Termasuk demam yang sering terjadi setelah pemberian vaksin DPT.

 

Pendekatan itu lahir dari pengalaman lapangan menghadapi rendahnya minat membaca sebagian masyarakat. Menurutnya, meski Ampenan berada di kawasan perkotaan, masih banyak ibu muda dengan tingkat literasi kesehatan yang terbatas.

 

Tidak sedikit yang lebih mudah memercayai informasi dari media sosial dibandingkan membaca buku KIA. “Kadang memang kemauan literasinya kurang. Akhirnya hoaks lebih mudah dipercaya,” katanya.

 

Meski belum pernah melakukan penelitian formal menggunakan kuesioner, Mimin mengaku mulai melihat perubahan perilaku orang tua setelah menggunakan MANDALIKA SIP. Banyak ibu yang datang kembali ke posyandu sambil mengingat sendiri jadwal imunisasi anak mereka.

 

 

Baca Juga: Hariri Tegaskan Komitmen Parlemen Bentengi Kota Mataram dari Fenomena LGBT!

“Ada yang bilang, Mbak anak saya sekarang sembilan bulan berarti dapat campak ya? Ada juga yang bilang anak saya sekarang dua belas bulan berarti jadwal imunisasinya naik lagi ya? Artinya mereka paham,” tuturnya.

 

Inovasi tersebut mendapat dukungan dari program CSR Pertamina yang beroperasi di wilayah Bintaro, Ampenan. Dukungan diberikan dalam bentuk pencetakan media dan pelatihan kader posyandu.

 

Sekitar 80 unit MANDALIKA SIP telah dicetak dan didistribusikan kepada kader di 24 posyandu yang tersebar di wilayah Ampenan. Meski demikian, Mimin menegaskan mistar tersebut tidak pernah dimaksudkan menggantikan buku KIA.

 

Buku KIA tetap menjadi dokumen utama pencatatan kesehatan anak. Sementara MANDALIKA SIP berfungsi sebagai media edukasi dan alat bantu komunikasi.

 

“Ini hanya ringkasannya saja. Pencatatan tetap di buku KIA. Buku KIA tetap harus mendampingi,” tegasnya.

 

Baca Juga: Rumor Bursa Transfer: Manchester United Bidik Sandro Tonali, Bersaing dengan AC Milan

 

Ke depan, ia berharap inovasi yang diberi nama khas NTB tersebut dapat direplikasi di berbagai daerah. Baginya, MANDALIKA SIP hanyalah ide kecil yang lahir dari kebutuhan lapangan.

 

Namun dari ide sederhana itu, ia berharap semakin banyak orang tua memahami pentingnya imunisasi lengkap bagi anak-anak mereka. “Saya berharap ini bisa diterapkan bukan hanya di Ampenan. Mudah-mudahan bisa direplikasi di tempat lain juga,” ujarnya.

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #nakes teladan mataram #mandalika sip #inovasi dikes mataram