Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Takut Dicap Gila? RSUD H Moh Ruslan Hadirkan Komandan Melati, Solusi Curhat Tanpa Dihakimi

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 15 Juni 2026 | 08:13 WIB
Petugas kesehatan jiwa RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram menunjukkan layanan Komandan Melati yang memungkinkan masyarakat melakukan skrining dan konsultasi kesehatan jiwa secara digital.
Petugas kesehatan jiwa RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram menunjukkan layanan Komandan Melati yang memungkinkan masyarakat melakukan skrining dan konsultasi kesehatan jiwa secara digital.

 

 

Tidak semua luka terlihat. Sebagian tersembunyi di balik senyum. Sebagian lagi dipendam sendirian di dalam kamar.

---

MALAM sudah lewat pukul sebelas. Lampu kamar masih menyala. 


Seorang perempuan muda duduk sendirian di tepi tempat tidur. Tangannya menggenggam telepon genggam.


Matanya menatap kosong layar yang berkali-kali menyala lalu redup kembali. 


“Hssshh…” Tak ada suara. Hanya suaranya saja yang terdengar mendesah. Berat. 


Sudah berhari-hari ia sulit tidur. Pikirannya dipenuhi kecemasan yang tak kunjung reda. 
Ia ingin mencari bantuan. Namun ada satu hal yang membuatnya terus mengurungkan niat.
Takut dinilai lemah. Takut dicap “gila”. Takut diketahui orang lain.


Perasaan di atas adalah potret keresahan tak sedikit remaja masa kini. Perasaan-perasaan itu bukan cerita yang asing. 

Baca Juga: Pesta Gol! Jerman Bantai Curacao 7-1 di Laga Perdana Grup E Piala Dunia 2026


Di tengah meningkatnya kasus gangguan kesehatan jiwa, stigma masih menjadi tembok besar yang membuat banyak orang memilih memendam masalahnya sendiri. Dibanding mencari pertolongan.


Kini, tembok itu mulai dicoba diruntuhkan oleh RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. “Bagaimana kalau seseorang bisa mencari bantuan tanpa harus merasa dihakimi?” kata Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG., Subsp. F.E.R., M.Kes., M.Sc., Jumat (12/6). 


Pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan Komandan Melati. Akronim dari Komando Pelayanan Digital Kesehatan Jiwa Terintegrasi.


Di ruang kerjanya dokter Eka bercerita kesehatan jiwa selama ini sering menjadi sisi yang terlupakan dalam pelayanan kesehatan. Padahal, gangguan kesehatan jiwa tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat jelas.


Kadang datang sebagai kecemasan yang berkepanjangan. Kadang berupa kelelahan emosional yang tidak pernah pulih.


Kadang berupa perasaan hampa yang terus menggerogoti seseorang tanpa diketahui orang-orang di sekitarnya. “Kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh,” ujarnya.


Persoalan ini bukan isu kecil. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 700 ribu orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di dunia. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 6.000 kasus bunuh diri terjadi setiap tahun.


Di NTB sendiri, persoalan kesehatan jiwa juga menjadi tantangan serius. Ribuan kasus gangguan mental dan perilaku tercatat setiap tahunnya.


Angka-angka itu menunjukkan satu hal: banyak orang membutuhkan bantuan, tetapi belum semuanya mampu menjangkaunya.
Melalui Komandan Melati, bantuan itu kini dapat diakses dari mana saja. Bayangkan seseorang membuka aplikasi dari rumahnya.


Di layar muncul beberapa pertanyaan sederhana. Jawaban demi jawaban kemudian diproses sistem.

Baca Juga: Open House Fakultas Kedokteran UBG Tarik Antusiasme Para Calon Mahasiswa, Dukung Adaptasi AI di Bidang Kesehatan.

Dalam hitungan detik, pengguna memperoleh hasil skrining awal yang membantu mengidentifikasi tingkat risiko kondisi yang sedang dialami. Jika diperlukan, sistem langsung mengarahkan pengguna menuju layanan berikutnya.


Tidak perlu antre. Tidak perlu datang ke rumah sakit.


Tidak perlu menjelaskan kisah yang sama berulang kali. Semua dilakukan melalui satu platform yang terintegrasi.


“Pelayanan ini dirancang secara komprehensif, mulai dari edukasi, skrining, konsultasi hingga tindak lanjut dalam satu sistem digital yang responsif,” jelas dokter Eka.


Perjalanan pengguna tidak berhenti pada proses skrining. Ketika sistem mendeteksi kebutuhan konsultasi lebih lanjut, pengguna dapat langsung terhubung dengan tenaga profesional melalui layanan telekonseling.
Di balik layar, tenaga kesehatan jiwa menerima data awal yang telah diisi pengguna. Proses konsultasi menjadi lebih cepat dan terarah.


Untuk kasus yang membutuhkan perhatian khusus, Komandan Melati juga dilengkapi fitur suicide care yang dirancang sebagai respons cepat terhadap kondisi krisis. Bagi pasien yang memerlukan terapi lanjutan, sistem menyediakan rekam medis elektronik, e-prescription, hingga mekanisme rujukan secara real time.


Di era ketika hampir semua orang menggenggam telepon pintar di tangan mereka, RSUD H. Moh. Ruslan mencoba menghadirkan rumah sakit yang lebih dekat dari sebelumnya. Bukan hanya dekat secara geografis. Tetapi juga dekat secara emosional.
“Dekat dengan mereka yang takut bercerita,” ucap dokter Eka. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #komandan melati #RSUD Ruslan Mataram #kesehatan jiwa