LombokPost - Persoalan sampah masih menjadi keluhan utama warga Kelurahan Sayang-Sayang, Kota Mataram. Minimnya fasilitas penampungan sementara dan kurangnya armada pengangkut sampah disebut menjadi penyebab masih munculnya titik-titik pembuangan sampah liar di sejumlah lingkungan.
Bakti Jaya, anggota DPRD Kota Mataram yang mewakili wilayah tersebut mengaku telah menerima banyak aspirasi masyarakat terkait persoalan sampah. Ia berencana menyiapkan tempat penampungan sementara agar sampah rumah tangga tidak lagi dibuang sembarangan.
"Makanya saya akan buatkan penampungan sementara. Saya buatkan seperti semacam kontainer kecil dari plat yang nanti bisa diangkut oleh petugas," ujarnya.
Menurutnya, hingga saat ini kawasan Sayang-Sayang masih kekurangan sarana pendukung pengelolaan sampah, termasuk kendaraan roda tiga yang selama ini menjadi andalan pengangkutan sampah dari lingkungan permukiman menuju titik pengumpulan.
Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena selama bertahun-tahun aspirasi masyarakat terkait kebutuhan fasilitas persampahan belum tersampaikan secara optimal.
Akibatnya, banyak kendaraan roda tiga yang sebelumnya pernah dibagikan pemerintah kini sudah rusak dan tidak lagi beroperasi.
"Sebagian sudah rusak, sebagian lingkungan memang tidak dapat. Yang ada sekarang itu sudah lama sekali, belasan tahun bahkan ada yang lebih," katanya.
Kondisi itu membuat sebagian warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengangkut sampah menggunakan jasa pihak lain. Di sejumlah lingkungan, warga bahkan harus menunggu armada dari kampung lain untuk membantu mengangkut sampah yang menumpuk.
"Kadang mereka tunggu kampung lain yang punya tiga roda untuk diangkut. Itu pun bayar," ungkapnya.
Baca Juga: Kawal SPALD-T, Dewan Gufron Minta Balai dan Kontraktor Buka Semua Detail Proyek
Selain kekurangan armada, ketiadaan tempat penampungan sementara juga disebut menjadi penyebab sampah kerap menumpuk di sejumlah titik dalam kampung. Warga yang bingung membuang sampah akhirnya memilih meletakkannya di lokasi-lokasi kosong yang mudah dijangkau.
"Kenapa ada yang buang sampah sana-sini? Karena tidak ada penampungan sementara. Di rumah-rumah mereka bingung mau buang ke mana," jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu lokasi yang sempat menjadi sorotan masyarakat berada di depan Universitas 45 Mataram. Lahan kosong di kawasan tersebut sebelumnya kerap dijadikan tempat penumpukan sampah dan menimbulkan keluhan karena bau yang menyengat.
Namun, menurutnya, kondisi di lokasi tersebut kini mulai membaik setelah dilakukan penataan dan koordinasi dengan pihak terkait.
"Sekarang sudah tidak boleh menumpuk. Begitu sampah datang langsung diangkut. Sekarang sudah bersih," katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih banyak titik pembuangan sampah ilegal di dalam lingkungan permukiman yang membutuhkan perhatian serius. Karena itu, selain penyediaan penampungan sementara, pihaknya juga akan mendorong penambahan armada pengangkut sampah untuk melayani kawasan yang padat penduduk.
"Yang paling utama memang soal sampah. Sayang-Sayang ini kawasan padat, sehingga sangat membutuhkan tambahan fasilitas dan kendaraan pengangkut sampah," tegasnya.