LombokPost - Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Bintaro, Ampenan, menunjukkan progres yang sangat signifikan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih Bintaro Diana Santiaji Irawan mengatakan, saat ini realisasi fisik pengerjaan di lapangan telah menyentuh angka 94,24 persen.
”Sekarang tinggal tahap finishing saja. Penyelesaian akhir dan ada sedikit pemasangan paving di areal kawasan,” kata Diana.
Proyek strategis nasional yang dihajatkan untuk menata kawasan pesisir sekaligus mendongkrak ekonomi nelayan di Mataram dipastikan berjalan sesuai dengan target kalender kerja. Proyek yang berada di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini menelan pagu anggaran sebesar Rp 11 miliar. Dana tersebut difokuskan penuh untuk pembangunan infrastruktur fisik sarana prasarana serta akses jalan pendukung di dalam perkampungan nelayan.
”Anggaran Rp 11 miliar itu murni untuk pembangunan fisik bangunan dan pengerjaan jalan. Tidak termasuk peralatan di dalamnya,” terangnya.
Baca Juga: Kampung Nelayan Merah Putih di NTB Masih Terkendala Operasional dan Kelembagaan
Terkait waktu serah terima proyek, Diana memaparkan pihaknya mengacu pada proses Provisional Hand Over (PHO) atau penyerahan pertama pekerjaan. Dijadwalkan, PHO akan dilaksanakan secara resmi pada pertengahan bulan depan.
”Penyerahan pertama atau PHO kita targetkan berjalan pada 15 Juli mendatang. Setelah itu, akan langsung masuk masa pemeliharaan selama enam bulan ke depan,” urainya.
Meskipun penyerahan fisik dijadwalkan Juli, operasional penuh kawasan tersebut bagi para nelayan setempat masih harus menunggu seluruh rangkaian fasilitas penunjang terpasang sempurna. Bersamaan dengan penyelesaian fisik, pihak KKP juga tengah menyiapkan pengadaan mesin dan teknologi pengolahan ikan secara paralel.
”Pembangunan ini berjalan simultan. Di tahap selanjutnya, akan dibangun fasilitas cold storage (gudang pendingin) dan pabrik es oleh tim terpisah yang juga dari KKP. Pengerjaannya berjalan paralel beriringan,” jelasnya.
Baca Juga: Butuh Rp 1,5 Miliar untuk Bebaskan Lahan Kampung Nelayan Merah Putih di Bayan Lombok Utara
Fasilitas pabrik es tersebut diproyeksikan tuntas pada Agustus nanti. Teknologi yang akan diterapkan adalah pembuatan slurry ice atau es bubur yang memanfaatkan air laut langsung sebagai bahan baku utamanya.
”Kelebihan es bubur air laut ini memiliki titik beku yang lebih rendah, yakni di bawah 0 derajat atau sekitar minus 5 derajat Celsius. Dengan suhu yang lebih dingin ini, kualitas dan mutu ikan hasil tangkapan nelayan akan jauh lebih terjaga,” paparnya.
Seluruh sarana modern ini diproyeksikan dapat mulai beroperasi dan melakukan uji coba pada Desember mendatang. Keberadaan fasilitas ini sangat dinantikan oleh para pedagang dan nelayan di pasar ikan yang berbatasan langsung dengan lokasi proyek berdasarkan informasi dari Dinas Perikanan setempat.
Menyangkut alur pengelolaan jangka panjang, setelah masa pemeliharaan rampung, sarana ini akan diserahkan dari Kementerian kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram.
“Dari pihak kami selaku PPK mendampingi sampai masa pemeliharaan tuntas. Untuk kemudian hak pengelolaannya akan diteruskan kepada Koperasi Desa Merah Putih,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama Inspektur Jenderal (Irjen) KKP Ade Tajudin Sutiawarman, mengatakan pada periode tahun 2025–2029, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target pembangunan KNMP secara bertahap di seluruh wilayah Indonesia hingga mencapai 4.000 lokasi.
“Hingga akhir tahun 2026, pada tahun ini, ditargetkan pembangunan sebanyak 1.300 lokasi. Sementara pada tahun 2025 sebelumnya, telah dibangun juga 1.000 lokasi Kampung Nelayan,” katanya.
Baca Juga: Tender Atap Proyek Pasar Ikan Bersih Bintaro Rp 900 Juta
Ade menjelaskan, proyek yang saat ini tengah dibangun di wilayah Kota Mataram merupakan bagian dari kelanjutan program pembangunan yang telah berjalan dari target 1.000 lokasi tersebut. Sedangkan untuk target 1.000 lokasi berikutnya pada tahun ini, prosesnya masih terus berjalan.
Lebih lanjut, dirinya mengatakan, program dengan skala sebesar ini tentu bukan sebuah pekerjaan yang sederhana. Luasnya cakupan wilayah Indonesia serta berbagai tantangan nyata di lapangan menuntut adanya kolaborasi kuat dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).
“Oleh karena itu, keberhasilan KNMP dukungan penuh dari pemerintah daerah, aparat pengawasan, aparat penegak hukum, serta instansi teknis terkait,” pungkasnya.
Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman, menyampaikan, kawasan pesisir Mataram merupakan salah satu pusat aktivitas perikanan tangkap. Selama ini, sektor tersebut telah menjadi penopang utama perekonomian masyarakat setempat.
“Semoga ini mampu meningkatkan produktivitas nelayan, memperkuat rantai usaha perikanan, membuka peluang ekonomi baru, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan secara berkelanjutan,” harapnya. (chi)
Editor : Jelo Sangaji