LombokPost - Hasil tangkapan ikan tongkol oleh nelayan lokal di Kota Mataram dinilai masih belum mampu memenuhi tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat setempat.
Kondisi ini memaksa Kota Mataram untuk mendatangkan pasokan tambahan dari sejumlah daerah tetangga, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kota Mataram Mulyadi Tundru, membenarkan volume produksi tongkol yang dihasilkan nelayan lokal saat ini belum mencukupi permintaan pasar yang tinggi di Kota Mataram.
“Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pasokan tongkol masih harus didukung dari daerah lain. Produksi nelayan kita belum mencukupi seluruh kebutuhan yang ada,” kata Mulyadi.
Baca Juga: Menjemput Rezeki dari Tangan Dingin Mengolah Ratusan Kilogram Ikan Tongkol
Mulyadi menjelaskan, target produksi atau angka tangkapan ikan tongkol nelayan Mataram pada tahun 2026 ini dipatok mencapai sekitar 2.000 ton per tahun.
Meski demikian, jumlah tersebut nyatanya hanya mampu menyuplai sekitar 15 hingga 20 persen dari total keseluruhan kebutuhan riil konsumsi masyarakat Kota Mataram.
Akibat keterbatasan produksi lokal tersebut, jual beli perikanan di Kota Mataram sangat mengandalkan distribusi lintas wilayah. Untuk mengamankan ketersediaan pasokan di pasar-pasar tradisional.
“Sebagian besar kebutuhan tongkol warga memang dipenuhi dari luar Mataram, baik dari daerah lain di Pulau Lombok maupun dari Sumbawa,” imbuhnya.
Meski demikian, masuknya pasokan dari wilayah penyangga dinilai berdampak positif dalam menjaga stabilitas pasokan sepanjang tahun. Langkah ini terbukti efektif meredam kelangkaan sehingga kebutuhan protein masyarakat tetap terpenuhi dengan baik.
“Karena hasil tangkapan kita tidak mencukupi, rata-rata produksi tangkapan sekitar 75-80 persen masih mengandalkan kiriman dari luar,” urainya.
Terkait evaluasi kinerja berkala, Dinas Perikanan saat ini tengah merampungkan kalkulasi hasil tangkapan tongkol untuk semester I tahun 2026. Dari target tahunan sebesar 2.000 ton, maka capaian pada paruh pertama tahun ini idealnya berada di kisaran 1.000 ton lebih. Data rinci mengenai capaian semester pertama ini masih dalam proses pengolahan internal dinas.
Mulyadi tetap optimis, target tahunan akan tercapai berkat program bantuan yang konsisten disalurkan oleh pemerintah kepada para nelayan lokal.
“Target tangkapannya tetap memenuhi target karena biasanya ada intervensi bantuan alat sarana prasarana. Hal itu sangat mempengaruhi produktivitas tangkap kita. Ditambah lagi ada sokongan dari luar daerah,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan distribusi hasil perikanan ini diutamakan untuk para pedagang lokal untuk memenuhi hajat hidup masyarakat setempat.
Namun, jika pasokan melimpah dan kebutuhan dalam kota sudah terpenuhi, komoditas ini juga kerap dikirim ke luar daerah, seperti ke Pulau Bali. Sebaliknya, jika stok lokal menipis, pasokan akan ditarik dari wilayah timur NTB.
Di sisi lain, harga ikan tongkol di pasar Kota Mataram dilaporkan masih stabil di angka maksimal Rp 15 ribu per kilogram.
“Harga tersebut tergolong normal. Kenaikan biasanya baru terjadi jika produksi tangkapan menyusut drastis akibat faktor cuaca atau musim, sementara permintaan masyarakat tetap tinggi. Tapi untuk saat ini, kondisi harga masih sangat normal,” pungkasnya. (chi)
Editor : Kimda Farida