Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengintip Dapur Produksi Yant Sorghum, Dikirim hingga Malaysia dan Singapura

Chia • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:19 WIB

 

Eli, karyawan Yant Sorghum
Eli, karyawan Yant Sorghum

Berawal dari program pengurangan impor gandum pada tahun 2010, Eli mengolah sorghum yang saat itu belum dilirik perajin kuliner lain. Lewat ketekunan mengatasi adonan tanpa gluten, ia sukses menyulap bulir pangan lokal tersebut menjadi aneka produk sehat hingga menembus pasar Malaysia dan Singapura.

-----------------------

Sejak belasan tahun, Eli bergulat dengan tepung berwarna sedikit kecokelatan. Bukan tepung terigu yang lazim digunakan kebanyakan pembuat kue, melainkan tepung sorghum. Pangan lokal alternatif yang kaya manfaat namun sempat terpinggirkan.

“Saya yang produksi, saya yang jualan. Kalau untuk nilai dan urusan distributornya, itu bagian Ibu Yanti yang pegang,” kata Eli membuka obrolan, menceritakan pembagian tugas di toko Yant Sorghum, Ampenan milik Yanti. 

Baca Juga: Gubernur Resmikan Bale KITA, PLN NTB Tegaskan Dukungan bagi UMKM

Pada tahun 2010 silam, pemerintah tengah gencar menggalakkan program pengurangan konsumsi terigu guna menekan angka impor gandum.

Masyarakat, khususnya para pelaku UMKM, diperkenalkan pada berbagai bahan pokok pengganti seperti jagung, singkong, labu kuning, ubi, hingga sorghum.

Di saat pelaku usaha lain berbondong-bondong memilih jagung atau singkong yang sudah akrab di lidah masyarakat, Eli justru mengambil langkah yang berbeda. Ia menjatuhkan hatinya pada sorghum.

“Karena waktu itu belum ada yang pegang. Biar lebih beda saja. Kalau jagung atau ubi-ubian kan sudah banyak sekali yang kelola,” ucapnya.

Memilih sorghum bukan berarti tanpa tantangan. Karakteristik sorghum yang tidak memiliki kandungan gluten membuat adonannya sangat rapuh dan mudah ambyar jika diolah menjadi kue. Awal-awal mencoba, Eli berulang kali menemui kegagalan. Produknya hancur dan gagal cetak.

Melalui berbagai pameran dan kompetisi yang diikutinya, Eli terus mengamati, belajar, dan bereksperimen. Kunci rahasia akhirnya ia temukan dari tanaman sorghum itu sendiri. Air nira dari batangnya yang manis menyerupai tebu.

“Batang sorghum itu kan manis seperti tebu. Nah, kami olah nira itu sampai kental untuk pengganti gula pasir. Ternyata, cairan kental inilah yang menjadi pengikat alami adonan agar tidak ambyar,” ungkapnya.

Baca Juga: Jualan Online Kena Pajak Baru? Tenang, Aturan Ini Justru Lindungi UMKM Nusa Tenggara

Seiring berjalannya waktu, eksperimen Eli berkembang pesat. Dari yang awalnya hanya memproduksi delapan varian cookies atau kue kering untuk kue nampan pameran, kini lini produk Yant Sorghum mencakup tepung, kopi, keju, susu, hingga tempe dan jamur berbasis sorghum.

Bahkan, ia berhasil membuat inovasi ramah lingkungan berupa cone, mangkuk, dan sendok dari sorghum yang bisa dimakan langsung setelah digunakan.

Eli juga mengolah gula sorghum yang dikentalkan bersama rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis, kapulaga, dan serai. Hasilnya, ramuan herbal bertekstur menyerupai madu yang sangat diminati konsumen pencinta gaya hidup sehat.

“Ternyata pasarnya yang lagi coba hidup sehat atau yang mau diet,” jelasnya. 

Meski sorghum tergolong produk pangan yang tersegmentasi dan tidak dikonsumsi semua orang, Eli berhasil membuktikan, kalau kualitas tidak pernah mengkhianati pasar. Pelanggan setianya tersebar di kawasan wisata Lombok, mulai dari Mandalika, Senggigi, Rembiga, hingga Gili Trawangan. Hotel, restoran, dan pusat oleh-oleh. 

“Memang rasanya hambar, tapi sangat sehat. Cara masaknya di magic com biasa, hanya airnya harus tiga kali lebih banyak dari beras padi,” jelasnya.

Setiap minggunya, Eli mampu memproses puluhan kilogram biji sorghum kering yang ia dapatkan dari petani lokal menggunakan alat penyosoh sederhana.

Produk cookies keringnya pun memiliki masa simpan yang awet hingga satu tahun karena diproses tanpa kandungan air.

Sementara untuk produk basah seperti susu atau keju, ia hanya memproduksinya berdasarkan pesanan tiga hari sebelumnya karena harus melalui proses fermentasi alami tanpa pengawet.

Sebelum situasi pasar domestik bergejolak belakangan ini, kue kering sorghum secara rutin diekspor ke Malaysia dan Singapura, selain dikirim ke kota besar seperti Jakarta.

“Katanya mau dijual lagi. Dia ada toko gitu,” ucapnya. 

 

 

Editor : Kimda Farida
#SORGHUM #UMKM #Kuliner #Pemkot Mataram #Mataram