LombokPost — Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 dinilai masih menyisakan ketimpangan sebaran peserta didik di Kota Mataram. Meski memiliki fasilitas dan mutu pendidikan yang mumpuni, sejumlah sekolah pinggiran atau yang berada di wilayah padat fasilitas pendidikan harus gigit jari karena kekurangan siswa baru.
"Sekolah kami posisinya berada di tengah-tengah," ungkap Kepala SD Negeri 12 Mataram, Ni Nengah Artini Mahendri, S.Pd., saat membeberkan minimnya serapan siswa di wilayahnya, Senin (13/7/2026).
Artini menjelaskan bahwa irisan calon peserta didik di areanya sangat terbatas akibat lokasi sekolah yang berhimpitan dengan beberapa SD negeri lain serta madrasah swasta. Beruntung, rapor mutu pendidikan sekolah yang mengantongi Akreditasi A sejak 2023 ini tetap terjaga, sehingga SDN 12 Mataram terhindar dari kebijakan penggabungan (merger) oleh dinas terkait.
"Kalau dari sisi kualitas kami tidak masalah," terangnya menegaskan keunggulan internal sekolah yang dipimpinnya.
Namun, kendala utama dinilai muncul dari inkonsistensi penegakan aturan batas daya tampung di lapangan selama proses penerimaan berlangsung. Pihak sekolah menyayangkan adanya kebijakan sekolah-sekolah tertentu yang mendadak menambah kuota kelas, sehingga menutup peluang sekolah kecil mendapatkan sisa limpahan murid.
"Kalau kuotanya sudah ditetapkan, sebaiknya konsisten," cetus Artini.
Dampak dari minimnya jumlah siswa ini berimbas langsung pada alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang berbasis per kepala siswa, sementara biaya perawatan gedung dan honorarium operator tetap berjalan penuh.
Guna menyiasati hal tersebut, para tenaga pendidik di sekolah ini secara swadaya patungan membelikan seragam gratis demi meringankan beban wali murid.
"Sedikit atau banyak siswanya, tugas kami tetap memberikan pelayanan terbaik," tegasnya.
Kondisi sepi peminat ini pun menjadi potret buram yang memicu perhatian otoritas pendidikan di tingkat kota. Merespons persoalan tersebut, Dinas Pendidikan Kota Mataram menyatakan segera menggelar evaluasi total terhadap sistem zonasi domisili agar disparitas antar-sekolah negeri tidak semakin melebar pada tahun-tahun mendatang.
"Kami tetap semangat," pungkas Artini menutup pembicaraan dengan optimisme tinggi.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin