Cabang olahraga Indonesia Beladiri Campuran Amatir Mixed Martial Arts (IBCA MMA) debut untuk pertama kalinya pada ajang Porprov XII NTB 2026 yang diikuti oleh 69 atlet dari 8 kabupaten/kota. Meski diwarnai absennya dua daerah dan keterbatasan anggaran kontingen, kejuaraan ini tetap berlangsung sengit sekaligus menjadi batu loncatan menuju PON 2028.
-------------------
Keringat bercucuran deras di atas matras pertandingan. Suara hantaman sarung tinju dan gemuruh teriakan suporter memecah keheningan hall Gelanggang Pemuda Mataram siang itu. Untuk kali pertama, arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026 secara resmi mempertandingkan cabang olahraga (cabor) Indonesia Beladiri Campuran Amatir Mixed Martial Arts (IBCA MMA). Sebuah debut yang memompa adrenalin.
“Ini kali pertama MMA ada di Porprov,” kata Ketua Panitia Porprov IBCA MMA 2026 Imelda Gita Windarni.
Baca Juga: IBCA MMA Turunkan 13 Atlet di Ekshibisi PON Aceh-Sumut 2024
Debut cabor baru ini menyajikan 69 atlet yang memperebutkan medali di 13 kelas berbeda. Nominator atlet yang bertarung di kisaran usia 18 hingga 30 tahun tersebut datang dari berbagai pelosok daerah. Sayangnya, peta kekuatan kali ini tidak terdistribusi secara merata di seluruh NTB.
Dari 10 kabupaten dan kota yang ada di Bumi Gora, dua wilayah terpaksa absen melantai. Yakni Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Sumbawa Barat. Penyebabnya seragam dan klasik, yakni absennya kepengurusan serta ketiadaan atlet yang siap diterjunkan.
Namun, ketimpangan partisipasi tak berhenti di sana. Bahkan daerah yang memiliki kepengurusan pun harus memutar otak akibat keterbatasan anggaran dari KONI tingkat daerah masing-masing. Kontingen Kota Mataram, misalnya, hanya mampu menerjunkan 7 petarung dari 13 kelas yang dibuka. Sementara itu, Kabupaten Sumbawa menjadi kontingen paling gemuk dengan memboyong 11 atlet untuk bertarung di 13 nomor pertandingan.
“Jadi setiap kota maupun kabupaten itu tidak sama mengirimkan atlet, walaupun kelasnya di sini ada 13 kelas. Semuanya terbentur satu masalah, yakni anggaran,” ujarnya.
Menurut Imelda, potensi atlet di daerah sebenarnya sangat melimpah. Bakat-bakat muda terhampar dari Bima, Sumbawa, Mataram, hingga Lombok Barat. Namun, biaya akomodasi dan transportasi menuju arena Porprov di Mataram kerap yang menghalangi langkah mereka. Keterbatasan dana membuat daerah harus memangkas kuota atlet yang dikirim, meski sang atlet sejatinya mengantongi kualitas jempolan.
Kendati dibayang-bayangi keterbatasan finansial daerah, kualitas teknis dan gengsi ajang tiga hari ini sama sekali tidak surut. Imelda menegaskan, IBCA MMA NTB bukanlah cabor kemarin sore yang minim pengalaman. Jauh sebelum panggung Porprov XII dibuka, jam terbang para atlet dan perangkat pertandingan sudah teruji di level nasional.
“Kalau dibilang atlet sedikit, sebenarnya atlet kita banyak dan potensinya sangat bagus. Kami sudah mengikuti kejuaraan nasional sejak 2022 di Halim, Jakarta, dan membawa pulang Piala Kasal. Di sana kami dapat 3 emas, 2 perak, dan 5 perunggu,” ungkapnya.
Baca Juga: IBCA MMA Turunkan 13 Atlet di Ekshibisi PON Aceh-Sumut 2024
Tak hanya itu, IBCA MMA NTB juga menorehkan tinta emas saat tampil pada laga eksibisi PON Aceh-Sumut lalu dengan menyapu bersih medali emas, perak, dan perunggu.
“Jadinya bisa dibilang sudah pengalaman, dan potensinya bagus,” ucapnya.
Pengalaman beruntun di level nasional itu pula yang membuat aspek keamanan serta regulasi pertandingan Porprov berjalan mulus. Pertandingan dipimpin oleh wasit dan juri tersertifikasi profesional, sementara para pelatih serta atlet telah menjunjung tinggi sportivitas.
“Kalah dan menang itu hal biasa di arena. Atlet dan tim daerah tahu betul betapa sulitnya perjalanan seleksi untuk bisa sampai ke Porprov ini. Jadi tidak ada yang diributkan,” tegasnya.
Debut di Porprov XII NTB 2026 ini dihajatkan menjadi batu loncatan besar. IBCA MMA NTB menatap ajang yang lebih tinggi, dengan target besar dapat terdaftar secara resmi sebagai cabor yang dipertandingkan penuh pada PON 2028 mendatang.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan