LombokPost - Di tengah hamparan tambang tembaga dan emas Batu Hijau, pertarungan merebut setiap gram mineral berharga kini tak hanya mengandalkan otot dan alat berat. Di balik layar, kolaborasi antara kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan puluhan tahun pengalaman para ahli metalurgi lokal tengah merevolusi cara pengelolaan sumber daya alam Indonesia.
Melalui inovasi bertajuk Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA), PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) membuktikan bahwa teknologi canggih dan konservasi lingkungan bisa berjalan beriringan. Hasilnya tak main-main: AIDA berhasil mendongkrak tingkat pemulihan mineral (mineral recovery) hingga 2,5 persen. Sebuah rekor impresif untuk tambang skala raksasa yang memang sudah dikenal berkinerja tinggi.
Mengolah bijih mineral yang kian kompleks ibarat menerbangkan pesawat di tengah badai. Dulu, para metalurgis harus bergulat secara manual dengan ribuan variabel data yang berubah setiap detik—mulai dari dosis reagen hingga laju aliran air.
Baca Juga: Smelter Tembaga AMMAN di Sumbawa Barat Resmi Rampung, Siap Olah 900 Ribu Ton Konsentrat Per Tahun
Kini, AIDA hadir menyerap data operasional selama 25 tahun terakhir dan menyajikannya menjadi panduan yang presisi secara real-time. Lewat fitur Set Point Optimizer, AIDA bekerja layaknya sistem navigasi canggih bagi pilot.
Namun, AMMAN menegaskan satu hal penting: AI tidak hadir untuk menggantikan peran manusia.
setiap empat jam sekali, tim operasi dan metalurgi duduk bersama meninjau rekomendasi AIDA. Keputusan akhir tetap berada di tangan para ahli yang mengombinasikan intuisi, pengalaman belasan tahun di lapangan, dan kalkulasi algoritmik.
“Keberhasilan inisiatif ini bukan hanya terletak pada teknologinya, melainkan pada sinergi antara data, inovasi, dan keahlian tim kami. Ketika teknologi dan pengalaman manusia berjalan beriringan, kami mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menciptakan nilai yang lebih besar," tegas Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communications AMMAN.
Peningkatan recovery sebesar 2,5 persen bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi industri pertambangan berskala besar, efisiensi ini memberikan dampak ganda yang sangat krusial.
Dengan menekan jumlah logam berharga yang terbuang sia-sia ke dalam tailings, AMMAN berhasil mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus meminimalkan dampak lingkungan demi mewujudkan praktik pertambangan yang jauh lebih bertanggung jawab.
Pengembangan AIDA juga mendorong AMMAN menyempurnakan seluruh infrastruktur fisik di pabrik pengolahan (processing plant), mulai dari keakuratan sensor hingga instrumen pengumpulan data.
Baca Juga: Cerita Sasambo 2026 Dibuka, AMMAN Siapkan Hadiah Ratusan Juta untuk Jurnalis NTB
Transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa digitalisasi di sektor ekstraktif bukan sekadar tren gaya hidup korporat, melainkan langkah konkret menuju pengolahan sumber daya alam yang cerdas, efisien, dan berwawasan lingkungan. Melalui integrasi AIDA, AMMAN tidak hanya memperkuat daya saingnya di tingkat global, tetapi juga menetapkan standar baru bagi masa depan industri pertambangan Indonesia.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan