Hangatnya Jalinan Komunitas Rajut Sanggar Utas

Chia • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:03 WIB
Anggota Komunitas Sanggar Utas berpose di stan pameran dengan menampilkan ragam koleksi kerajinan rajut tangan
Anggota Komunitas Sanggar Utas berpose di stan pameran dengan menampilkan ragam koleksi kerajinan rajut tangan

 

Siapa sangka, jemari lincah para ibu bisa mengubah helai demi helai benang menjadi karya seni bernilai ekonomi. Berawal dari sekadar hobi mengisi waktu luang, Komunitas Sanggar Utas kini menjadi wadah kreatif yang produktif sekaligus menghasilkan pundi-pundi rupiah.

--------------------------

Suasana hangat dan penuh keakraban senantiasa menyelimuti perkumpulan anggota Sanggar Utas di Kota Mataram. Komunitas rajut yang didominasi oleh perempuan dari berbagai latar belakang mulai dari ibu rumah tangga, dosen, hingga dokter. Mereka disatukan oleh satu kegemaran yang sama, yakni seni merajut benang. Meski mayoritas didominasi ibu-ibu dan kaum muda perempuan, tak jarang pula kaum pria atau mas-mas turut tertarik menyerap ilmu merajut bersama mereka.

Santi Junita, salah seorang anggota aktif Sanggar Utas, menceritakan komunitas ini berdiri atas dasar semangat kebersamaan sejak lima tahun lalu. 

“Kalau hobi merajut sebenarnya kami masing-masing sudah lama menyukainya. Namun, kami baru resmi berkumpul dan dipersatukan dalam Sanggar Utas ini kurang lebih lima tahunan,” kata Santi dengan senyum, saat ditemui di sela-sela pameran produk.

Baca Juga: Gandeng Komunitas Fantastik, BYD Harmoni Lombok Uji Ketangguhan BYD M6 DM

Saat ini, anggota yang terdaftar di Sanggar Utas telah mencapai lebih dari 30 orang. Walaupun tidak semua anggota bisa hadir setiap kali ada pameran atau bazar di luar karena kesibukan profesi masing-masing, semangat saling mendukung tetap terjaga. Anggota yang berhalangan hadir kerap menitipkan hasil karya rajutannya untuk dipasarkan bersama oleh rekan-rekannya.

Perkembangan tren kerajinan tangan tak membuat para anggota Sanggar Utas gagap. Mereka terus memoles keterampilan mengikuti arus zaman. Jika dahulu merajut identik dengan kerajinan nenek-nenek atau taplak meja konvensional, sekarang mereka lihai menguasai teknik modern seperti amigurumi, seni merajut boneka dan gantungan kunci berbentuk karakter lucu yang amat digandrungi anak sekolah dan remaja masa kini.

“Ilmu merajut itu berkembang terus. Kita belajar otodidak dari YouTube, saling berbagi teknik, dan di komunitas ini kita tidak ada yang pelit ilmu,” katanya. 

Selain belajar mandiri, kapasitas merajut mereka makin terasah berkat sinergi dengan pemerintah setempat. Dinas Pariwisata serta Dinas Perindustrian Kota Mataram rutin melibatkan Sanggar Utas dalam pelatihan lima hari yang memadukan teknik merajut dengan unsur muatan lokal, menghasilkan produk variatif mulai dari tas, sepatu, hingga tempat botol minum atau tumbler.

Kendala keterbatasan bahan baku dan tingginya harga benang di pasaran lokal Mataram pun berhasil mereka atasi secara mandiri. Berkat inisiatif anggota yang memiliki modal, Sanggar Utas kini memiliki galeri sekaligus toko benang sendiri yang berlokasi di Ruko Jalan Adi Sucipto, Pojok A1 (pertokoan Bakso Haji Anang). Toko ini menyediakan aneka jenis benang khusus seperti polycherry hingga chenille dengan harga terjangkau di bawah harga pasar lokal.

“Sedangkan di Mataram toko yang menjual ini tidak banyak, harganya juga mahal. Jadi kita beli online,” jelasnya. 

Waktu pengerjaan produk rajutan sangat bergantung pada tingkat kerumitan serta suasana hati. Untuk souvenir kecil seperti gantungan kunci atau sarung botol, kreasi bisa tuntas hanya dalam hitungan satu jam. Namun, untuk produk rumit seperti tas rajut bermotif khusus, pengerjaan dapat memakan waktu satu hingga dua hari.

“Tergantung mood aja. Kalau lagi ga mood ya dilepas dulu,” ucapnya. 

Baca Juga: Lombok Pecah! Sukses Sedot Puluhan Komunitas, Event Terbesar Ini Sampai Dituntut Pengunjung Lebih Sering

Karya-karya indah buatan Sanggar Utas dibanderol mulai dari harga Rp 15 ribu untuk gantungan kunci hingga Rp 350 ribu untuk tas dan produk fesyen bertingkat kerumitan tinggi. Para pembeli juga dibebaskan memesan secara kustom atau request sesuai ukuran, warna, dan model yang diinginkan.

Menurutnya dan rekan-rekannya di Sanggar Utas, merajut bukan lagi sekadar penyalur hobi di kala senggang. 

“Alhamdulillah, hobi yang terbayar. Selain mendapat ilmu dan teman baru, kita juga bisa mencari rezeki dan memetik cuan dari setiap jalinan benang rajut ini,” pungkasnya.

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
KOMUNITAS SANGGAR UTAS MERAJUT IBU IBU Mataram