Bagi Helmi Junaidi, mengajar bahasa Inggris gratis bukanlah kegiatan spontan. Apa yang kini dilakukan di serambi sebuah masjid hanyalah kelanjutan dari misi yang telah ia jalankan di berbagai kota selama bertahun-tahun.
---
SEBELUM menjadi General Manager Hotel Astoria Mataram, pria kelahiran Palembang tahun 1968 itu pernah melakukan hal serupa di Ambon dan Bandung. Di Ambon, ia bahkan mendatangi sebuah gereja tanpa mengenal siapa pun di dalamnya.
“Saya datang sendiri. Saya bilang kepada pengurus gereja, saya bekerja di hotel dan ingin mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak tanpa dibayar. Akhirnya mereka mengumpulkan anak-anak setiap sore,” kisahnya pada Lombok Post.
Program itu berjalan baik. Pengalaman tersebut kemudian ia ulangi di Bandung sebelum akhirnya dibawa ke Lombok.
Menurut Helmi, mengajar bahasa Inggris tidak cukup menghafalkan percakapan. Yang jauh lebih penting adalah membangun fondasi berpikir anak.
Karena itu, ia fokus pada anak kelas lima sekolah dasar. “Kalau kelas lima, nanti masuk SMP mereka sudah punya dasar. Kalau terlalu kecil dicampur, mereka akan kesulitan mengikuti materi,” ucapnya.
Pelajaran pertama yang ia berikan justru bukan bahasa Inggris. Melainkan logika berbahasa Indonesia.
“Saya jelaskan dulu kalimat itu apa. Misalnya ‘Saya makan nasi’, ada subjek, kata kerja, objek. Lalu ‘Saya adalah Helmi’. Dalam bahasa Inggris menjadi ‘I am Helmi’. Nah, ‘am’ itu kata kerja bantu. Anak harus paham alasannya, bukan sekadar menghafal,” jelasnya panjang lebar.
Baca Juga: Warga Ampenan Wajib Tahu! Ini Hasil Simulasi Rekayasa Lalu Lintas Proyek Sanitasi
Menurutnya, metode seperti inilah yang sering luput dalam pembelajaran. “Kalau hanya membaca atau menonton YouTube, semua orang bisa. Tapi memahami kenapa sebuah kalimat terbentuk, itu harus diajarkan,” terangnya.
Helmi meyakini kemampuan bahasa Inggris pernah mengubah jalan hidupnya. Ia masih mengingat ketika mengikuti wawancara kerja di Hotel Borobudur Jakarta pada 1991.
“Saya belum mengerti dunia hotel. Tapi karena bisa bahasa Inggris, saya diterima bekerja,” kenangnya.
Pengalaman itulah yang membuatnya percaya bahasa Inggris mampu membuka pintu masa depan seseorang. Karena itu ia berharap gerakan Kampung Inggris tidak berhenti di satu masjid saja.
Ia bahkan telah menawarkan gagasan tersebut kepada Pemerintah Provinsi NTB. Mendorong kolaborasi dengan dinas pendidikan, dinas pariwisata, kecamatan, kelurahan hingga perguruan tinggi.
“Saya tidak hanya cari uang. Saya ingin ikut memikirkan bagaimana mengembangkan sumber daya manusia di Lombok,” ungkapnya.
Menurutnya, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dapat dilibatkan. Sebagai relawan agar kelas-kelas bahasa Inggris tumbuh di banyak kampung.
Ia percaya, jika gerakan itu dilakukan bersama, hasilnya akan terasa. Lima hingga sepuluh tahun mendatang.
“Pemerintah jangan hanya sibuk membangun jalan atau bendungan. Anak-anak juga harus dipikirkan. Mereka inilah masa depan Lombok,” pungkasnya.
Sumber : Liputan Berita Lombok Post