Tak ada meja-meja belajar seperti di lembaga kursus. Hanya serambi masjid. Dan sekitar 50 anak yang datang membawa harapan.
---
SABTU sore itu, serambi sebuah masjid tak hanya dipenuhi anak-anak yang bersiap mengaji. Sekitar 50 anak duduk berkelompok sambil membawa buku tulis.
Mereka serius memperhatikan seorang pria yang berdiri di depan mereka. Menjelaskan perbedaan sederhana antara:
“go” dan “went”.
Pria itu bukan guru sekolah. Bukan pula pemilik lembaga kursus bahasa Inggris.
Ia adalah Helmi Junaidi, General Manager (GM) Hotel Astoria Mataram. Di tengah kesibukannya memimpin hotel, Zaini memilih memanfaatkan waktu selepas salat Asar.
“Saya mengajar setiap Sabtu, bahasa Inggris, gratis. Cuma-cuma,” tuturnya pada Lombok Post.
Kegiatan itu kini dikenal masyarakat sekitar sebagai “Kampung Inggris”. Nama yang justru diberikan oleh pengurus masjid setelah melihat antusiasme anak-anak mengikuti kelas tersebut.
Baca Juga: Di Serambi Masjid, GM Hotel Astoria Bangun Kampung Inggris untuk Masa Depan Anak Mataram
“Anaknya sekarang sudah sekitar 50 orang. Mereka senang belajar, akhirnya ustaz di sini yang menyebutnya Kampung Inggris,” ujarnya.
Ide itu sebenarnya telah lama tersimpan di benaknya. Selama berpindah tugas dari satu daerah ke daerah lain, ia selalu mencari tempat yang bisa dijadikan ruang berbagi ilmu.
Setelah dua bulan bertugas di Mataram, ia melihat banyak anak di sekitar masjid berasal dari keluarga yang secara ekonomi sulit menjangkau kursus bahasa Inggris. “Biayanya mahal. Untuk makan dan beli buku saja susah,” katanya.
Karena merasa memiliki kemampuan mengajar, ia pun memberanikan diri. Meminta izin kepada pengurus masjid dan marbot agar diberi waktu mengajar sebelum anak-anak mengikuti pengajian Magrib.
“Saya bilang, saya punya kemampuan mengajar bahasa Inggris secara ilmiah. Kalau diizinkan, saya ingin mengajar anak-anak di sini tanpa dipungut biaya,” ujarnya.
Baca Juga: Pojok Baca Sangkareang Cuma Jadi Pajangan, Ismul Hidayat Desak Pemkot Alih Fungsi Jadi Musala
Sejak saat itu, setiap Sabtu sore ia datang membawa materi sederhana. Tidak ada ruang kelas khusus, tidak ada papan nama lembaga pendidikan, hanya semangat berbagi ilmu.
Menurutnya, belajar bahasa Inggris tidak cukup hanya menghafal kosakata dari internet. “Semua orang bisa buka YouTube,” ucapnya.
Tapi grammar tidak cukup dipelajari sendiri. Anak harus paham kenapa ‘go’ berubah menjadi ‘went’.
“Kenapa ‘I go to school every day’, tetapi kalau kemarin menjadi ‘I went to school yesterday’,” katanya mencontohkan.
Baginya, memahami tata bahasa jauh lebih penting daripada sekadar mampu mengucapkan kalimat. Respons anak-anak pun membuatnya semakin yakin.
Baca Juga: Pojok Baca Sangkareang Cuma Jadi Pajangan, Ismul Hidayat Desak Pemkot Alih Fungsi Jadi Musala
Banyak di antara mereka yang mengaku baru pertama kali mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di luar sekolah. “Mereka bilang, ‘Terima kasih Pak, sekarang kami bisa belajar bahasa Inggris.’ Itu yang membuat saya terus semangat,” ungkapnya.
Meski hanya berlangsung seminggu sekali, Helmi percaya kebiasaan kecil itu akan memberi dampak besar bila dilakukan secara konsisten. “Saya ingin siapa pun yang punya kemampuan ikut bergerak memajukan sumber daya manusia di Lombok. Lima sampai sepuluh tahun itu cepat. Kalau anak-anak tidak dipersiapkan dari sekarang, nanti akan terlambat,” ucapnya.
Baginya, membangun generasi muda sama pentingnya dengan membangun jalan, jembatan, atau bendungan. "investasi terbesar sebuah daerah sesungguhnya berada pada kualitas manusianya,” tekannya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post