Kadang Bawa Ikan, Kadang Ember Kosong! Kisah Pemancing Ampenan Berburu 'Ketenangan' di Ujung Senja

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:15 WIB
Dua pemancing di pantai Boom Ampenan tengah menunggu umpan di makan ikan.
Dua pemancing di pantai Boom Ampenan tengah menunggu umpan di makan ikan.

 

Di Pantai Boom Ampenan, orang-orang tidak selalu datang untuk bermain. Ada yang mengejar ketenangan, ada yang merawat kenangan, dan ada pula yang sekadar ingin mendengar laut bercerita.

---

TAK semua orang datang ke Pantai Boom atau kawasan eks Pelabuhan Ampenan untuk mengejar matahari tenggelam. Sebagian datang membawa kamera. Sebagian lagi membawa keluarga. 

Anak-anak berlarian. Pasangan muda sibuk mengabadikan siluet senja, sementara pedagang kopi mulai menata kursi-kursi plastik menyambut malam.

“Kalau ditanya kenapa sering ke sini, jawabannya sederhana. Di sini pikiran jadi lebih tenang,” ujar Fadil, 34 tahun, salah seorang pemancing yang ditemui di lokasi, Kamis (6/8).

Ia adalah satu dari beberapa pria yang konsisten berdiri menghadap laut dengan sebatang joran di tangan. Ia tidak mengejar cahaya matahari.

Mereka mengejar sesuatu yang jauh lebih sunyi. Harapan.

Sore itu, angin bertiup pelan dari Selat Lombok. Ombak bergulung lembut, hanya sesekali menyentuh kaki para pemancing yang berdiri di bibir pantai. 

Dari kejauhan tampak beberapa perahu nelayan melintas perlahan. Lebih jauh lagi, sebuah kapal tanker Pertamina berdiam tenang di tengah laut, seperti penjaga yang tak pernah meninggalkan tempatnya.

Baca Juga: Cetak Agen Perubahan, Dikes Mataram Bangun Kaderisasi Kepemimpinan Kesehatan Bersama FKAK NTB

Fadil terus memainkan gulungan senar. Pandangan matanya tetap tertuju pada ujung kail yang hilang ditelan ombak.

“Kadang pulang bawa beberapa ekor, kadang ember kosong. Tapi pulang dari sini rasanya kepala lebih ringan,” katanya sambil tersenyum.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun mungkin itulah alasan mengapa hampir setiap sore selalu ada orang memancing di Pantai Boom.

Mereka bukan sekadar mencari ikan. Mereka sedang mencari jeda dari bisingnya persaingan dunia. 

Di kota yang semakin sibuk, ruang untuk menenangkan diri menjadi barang mahal. Sebagian orang memilih pegunungan. Sebagian memilih kafe. Sebagian lagi memilih laut.

Pantai Boom Ampenan menawarkan semuanya secara cuma-cuma. Suara ombak. Semilir angin. Aroma asin air laut.

Langit yang perlahan berubah dari biru menjadi jingga. Tak ada tiket masuk untuk menikmati semua itu. “Kecuali parkir di depan,” celetuknya, sambil tertawa kecil.

Hanya perlu sedikit waktu untuk diam. Membiarkan laut melakukan pekerjaannya.

Hasan, 52 tahun, mengaku telah memancing di kawasan ini sejak masih remaja. Bahkan ketika kawasan tersebut masih dikenal sebagai pelabuhan tua.

Menurutnya, ikan yang biasa didapat cukup beragam.

Baca Juga: BBPOM Mataram Terbitkan Lima Izin Edar Produk Kopi NTB

Mulai dari baronang, kerapu kecil, hingga kakap saat musim tertentu. “Kalau cuaca bagus, peluang dapat ikan juga lebih besar. Tapi ya namanya mancing, yang dibutuhkan bukan cuma umpan. Harus sabar,” katanya sembari tertawa.

Kesabaran. Barangkali itulah pelajaran pertama yang diberikan laut.

Tidak banyak yang menyadari tempat orang menikmati senja hari ini dulunya merupakan salah satu pelabuhan terpenting di Pulau Lombok. Sebelum Pelabuhan Lembar beroperasi, Pelabuhan Ampenan menjadi pintu utama perdagangan di NTB.

Kapal-kapal dari Surabaya, Makassar, Singapura hingga Australia pernah singgah di sini. Mereka mengangkut kopi, hasil bumi, ternak, hingga berbagai komoditas perdagangan lainnya.

Kini aktivitas itu memang tinggal sejarah. Dermaga tua berubah menjadi kawasan wisata.

Bangunan-bangunan lama di Kota Tua Ampenan mulai ditata sebagai destinasi heritage. Pemerintah Kota Mataram bahkan terus mempercantik kawasan eks Pelabuhan Ampenan melalui revitalisasi fasilitas publik, amphitheater, jalur pedestrian hingga ruang-ruang kreatif.

Jejak sejarahnya juga diperkuat dengan hadirnya Prasasti Alfred Russel Wallace, ilmuwan asal Inggris yang pernah singgah di Ampenan pada 1856 ketika melakukan penelitian tentang keanekaragaman hayati Nusantara. Kini, sejarah dan masa depan berjalan berdampingan di tempat yang sama.

Fadil sesekali menoleh ke arah kapal besar itu. “Kalau lihat kapal itu rasanya unik. Di depan kita nelayan cari ikan. Di belakang ada kapal besar. Semua sama-sama cari rezeki di laut,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Tetapi menggambarkan bagaimana laut menyatukan banyak kehidupan.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
eks pelabuhan ampenan pemancing pantai boom ampenan wisata heritage kota tua ampenan