Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (13):Api di Tengah Kegelapan dan Penyusup!

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 23:04 WIB
Ilustrasi prajurit Nubia
Ilustrasi prajurit Nubia

 

PRIA api obor di tangan Pangeran Amenhotep IV membelah kegelapan malam bagaikan pedang cahaya.

Di bawah siraman cahayanya yang membara, topeng rahasia para penyusup terlepas seketika.

Puluhan anggota penyamun Habiru yang semula merayap di balik bayang-bayang tebing kini terpapar jelas di tengah pelataran perkemahan. Kegelapan yang mereka andalkan untuk mengeksekusi pengkhianatan mendadak sirna oleh keberanian dingin sang pangeran muda.

"Lindungi Pangeran Mahkota!" jerit Komandan Nubia, tubuh tingginya melompati tumpukan kayu bakar sembari mengayunkan kapak perang perunggunya.

Para prajurit Nubia dan pengawal setia kerajaan, yang tersentak bangun oleh teriakan dan kobaran api, berhamburan keluar dari tenda-tenda mereka. Dentang benturan perisai kayu berlapis kulit lembu dan gemerincing sabetan pedang memenuhi udara malam yang dingin.

Pertempuran sengit jarak dekat pecah di sekeliling sang pangeran. Namun, alih-alih bersembunyi di balik barisan pengawal, Amenhotep IV tetap berdiri kokoh di posisi paling tinggi di atas gundukan batu, menjadikan obor di tangannya sebagai suar petunjuk arah serangan bagi para prajuritnya.

Dari arah perimeter utara, sekelompok penyusup yang mengepung mencoba merangsek maju. Salah seorang penyusup bertubuh kekar melompati barisan pengawal dengan belati terangkat, mengincar langsung dada sang pangeran.

Namun, ketenangan Amenhotep IV tidak goyah. Dengan satu gerakan cepat yang presisi, ia mengayunkan obor membara itu tepat ke arah wajah sang penyerang.

Api menyambar jubah kasar sang penyusup, membuatnya menjerit kesakitan dan tumbang ke atas pasir sebelum sempat menyentuh sang calon Firaun.

Di sudut perkemahan yang remang-remang, Paneb, pendeta utusan rahasia Karnak, mengumpat pelan. Matanya terbelalak menyaksikan bagaimana rencana pembunuhan berdarah dingin yang dirancangnya hancur berantakan.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (12): Pengkhianatan di Lembah Malam

Melihat para penyamun Habiru mulai terdesak oleh amukan prajurit Nubia, Paneb berbalik arah, mencoba menyusup kembali ke balik bayang-bayang tenda komando untuk melarikan diri.

Namun, ia tidak menyadari bahwa sepasang mata tajam telah menguncinya sejak awal. Amenhotep IV, yang sejak awal mencium aroma konspirasi internal, menunjuk langsung ke arah sosok bertudung yang sedang berlari menjauh itu.

"Tangkap pria bertudung itu hidup-hidup!" perintah Amenhotep IV, suaranya menggelegar menembus riuh rendah pertempuran. "Dia membawa kunci kebenaran malam ini!"

Dua prajurit Nubia bergerak laksana kilat.

Sebelum Paneb sempat menyentuh garis perimeter tebing, sebuah lemparan tombak mendarat tepat di depan kakinya, memotong jalan lari sang pendeta.

Dalam hitungan detik, tubuh Paneb dihempaskan ke atas pasir yang dingin, tangannya dikunci ke belakang, dan tudung hitamnya dikoyak paksa.

Pertempuran singkat di Wadi El-Arish berakhir selekas kedatangannya. Sisa-sisa penyamun Habiru yang selamat tewas terdesak atau melarikan diri ke dalam kegelapan gurun yang pekat. Suasana perkemahan kembali hening, hanya menyisakan napas terengah-engah para prajurit dan derit obor yang berjelaga.

Di tengah lingkaran ratusan prajurit yang memegang senjata berdarah, Paneb diseret dan dilemparkan ke bawah kaki Pangeran Amenhotep IV. Jenderal Horemheb melangkah keluar dari tendanya dengan pedang terhunus, mencoba berakting panik demi menyelamatkan mukanya.

"Pengkhianat biadab!" teriak Horemheb, mengangkat pedangnya seolah-olah hendak memenggal kepala Paneb di tempat. "Hamba akan mengeksekusi penyusup ini sekarang juga karena telah membahayakan nyawa Anda, Pangeran!"

"Tahan pedangmu, Jenderal Horemheb!" potong Amenhotep IV dingin. Suaranya tidak tinggi, namun memiliki tekanan mutlak yang membuat lengan gagah sang jenderal terhenti di udara.

Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (11): Barisan Kereta Perang

Amenhotep IV melangkah mendekati Paneb yang gemetar di atas tanah. Sang pangeran menurunkan obornya sedikit, menerangi wajah pucat sang pendeta muda.

Dari balik lipatan jubah linen Paneb yang robek, sebuah pundi-pundi kulit terjatuh, memuntahkan puluhan kepingan emas dengan cap stempel khusus Kuil Karnak di atas pasir.

Para prajurit yang menyaksikan kepingan emas itu mulai berbisik-bisik. Mereka mengenali stempel tersebut—stempel yang sama dengan emas yang digunakan untuk membiayai porsi logistik mereka.

"Lihatlah, Jenderal," ucap Amenhotep IV, matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata Horemheb yang kini dipenuhi peluh dingin. "Penyamun gurun Habiru ternyata dibayar dengan emas dari gudang suci Amun-Ra di Thebes. Apakah para dewa di Karnak sekarang juga memimpin kelompok perampok gurun?"

Horemheb menelan ludah dengan susah payah, tidak mampu menjawab satu patah kata pun di bawah tatapan sang pangeran dan ratusan prajuritnya yang kini mulai menatap sang jenderal dengan penuh kecurigaan.

Amenhotep IV membalikkan badannya, menatap jajaran prajurit Nubia dan pasukan perbatasan yang berdiri di sekelilingnya. "Malam ini, kalian melihat sendiri. Kegelapan tidak datang dari gurun Sinai yang gersang ini, melainkan dari jantung kota Thebes. Mereka mengirim kita ke sini bukan untuk menjaga benteng kekaisaran, melainkan untuk mengubur kebenaran di balik batu-batu ini."

Sang pangeran melemparkan obor di tangannya ke atas tumpukan kayu api utama di tengah perkemahan. Kobaran api raksasa membumbung tinggi ke langit malam, menerangi seluruh Lembah Sinai.

"Ikat penyusup ini dan simpan emas ini sebagai barang bukti," perintah Amenhotep IV dengan nada mengunci . "Besok pagi, kita tidak lagi melanjutkan ekspedisi palsu ini. Kita akan berputar balik menuju Thebes. Sudah saatnya kita membawa api ini kembali ke Istana Malkata."

(Bersambung)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
kuil karnak pangeran amenhotep IV bukti emas pengkhianatan istana malkata jendral horemheb